Manajemen Implementasi Inovasi Pendidikan IPA

Disampaikan dalam presentasi MK Supervisi Pendidikan IPA (17/12/12)
Program Doktor Pendidikan IPA
SPs Universitas Pendidikan Indonesia

I. PENDAHULUAN

“It has often been said that the only constant in the world is change.” Maksudnya adalah yang konstan di dunia ini hanyalah perubahan. Oleh karena itu, inovasi dalam bidang pendidikan selalu menjadi topik yang hangat dibicarakan dari masa ke masa. Seperti halnya upaya pemerintah yang terus memperbaiki kurikulum hingga kini yang telah disiapkan adalah Kurikulum 2013. Pengembangan kurikulum 2013, selain untuk memberi jawaban terhadap beberapa permasalahan yang melekat pada kurikulum 2006, bertujuan juga untuk mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan (mempresentasikan), apa yang diperoleh atau diketahui setelah siswa menerima materi pembelajaran (Sisdiknas, 2012).
Seperti kita mempersiapkan siswa untuk kesuksesan masa depannya, kita juga harus menyiapkan mereka untuk menghadapi tantangan globalisasi. Dengan membangun budaya inovasi dalam pendidikan, kita dapat meningkatkan peluang kesuksesan siswa dalam belajar, mengembangkan keinginan untuk merangkul adopsi dan adaptasi teknologi untuk kebutuhan belajar, dan meningkatkan keterlibatan siswa dalam belajar.
Inovasi adalah pendorong pertumbuhan dan kesejahteraan, teknologi baru, produk, dan jasa, dan menciptakan lapangan kerja di industri-industri baru. Kata inovasi diterjemahkan dari Bahasa Inggris yang artinya segala hal yang baru atau pembaharuan. Menurut La Piere inovasi adalah “An idea for accomplishing some recognize social end in a new way or for a means of accomplishing some new social end.” Hal senada juga dikemukakan oleh M. Rogers, “an innovation is an idea, practice, or object that is perceived as new by an individual or other unit of adoption.” Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa inovasi adalah suatu ide, hal-hal yang praktis, cara yang diamati atau dirasakan sebagai suatu yang baru bagi seseorang atau kelompok orang (masyarakat).
Pertanyaan lain yang muncul tatkala membahas inovasi pendidikan yaitu apa saja karakteristik inovasi Pendidikan IPA? Bagaimana pendekatan inovasi Pendidikan IPA? Apa saja lesson learnt Pendidikan IPA? Faktor strategis apa saja yang ada dalam implementasi inovasi pendidikan IPA? Berikut penulis akan mencoba memaparkannya secara urut.

II. PEMBAHASAN

A. Karakteristik Inovasi Pendidikan IPA
Inovasi pendidikan adalah: suatu ide, barang, metode, yang dirasakan dan diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang dan kelompok orang (masyarakat) baik berupa hasil envensi atau diskoveri, yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan (Ibrahim, 1988). Cepat lambatnya penerimaan inovasi oleh masyarakat luas dipengaruhi oleh karakteristik inovasi itu sendiri. Misalnya penyebar luasan penggunaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dalam kurun waktu kurang lebih 3-6 tahun sudah merata di keseluruhan Indonesia. Rogers (1983) mengemukakan karakteristik inovasi yang dapat mempengaruhi cepat lambatnya penerimaan inovasi, sebagai berikut ini.
1. Keuntungan relatif (relative advantage), yaitu sejauh mana inovasi dianggap menguntungkan bagi penerimanya. Tingkat keuntungan atau kemanfaatan suatu inovasi diukur berdasarkan nilai ekonominya, atau mungkin dari faktor status sosial (gengsi), kesenangan, kepuasan, atau karena mempunyai komponen yang sangat penting. Makin menguntungkan bagi penerimanya makin cepat tersebarnya inovasi.
2. Kompatibel (compability), yaitu tingkat kesesuaian inovasi dengan nilai (values), pengalaman lalu, dan kebutuhan dari penerima. Inovasi yang tidak sesuai dengan nilai atau norma yang diyakini oleh penerima tidak akan diterima secepat inovasi yang sesuai dengan norma yang ada.
3. Kompleksitas (Complexity), yaitu tingkat kesukaran untuk memahami dan menggunakan inovasi bagi penerima. Suatu inovasi yang mudah dimengerti dan mudah digunakan oleh penerima akan cepat tersebar, sedangkan inovasi yang sukar dimengerti atau sukar digunakan oleh penerima akan lambat proses penyebaranya. Makin mudah dimengerti suatu inovasi akan makin cepat diterima oleh masyarakat.
4. Triabilitas (Triability), yaitu dapat dicoba atau tidaknya suatu inovasi oleh penerima. Suatu inovasi yang dicoba akan cepat diterima oleh masyarakat daripada inovasi yang tidak dapat dicoba lebih dahulu.
5. Dapat diamati (Observability), yaitu mudah tidaknya diamati suatu hasil inovasi. Suatu inovasi yang hasilnya mudah diamati akan makin cepat diterima oleh masyarakat, dan sebaliknya.
Temuan penelitian Tornatzky dan Klein (1982) bahwa penerimaan inovasi dipengaruhi oleh atribut sebagai berikut ini: 1) kompatibel (compability); 2) keuntungan relatif (relative advantage); 3) kompleksitas (complexity); 4) pembiayaan (cost) yaitu jika lebih murah pembiayaan sebuh inovasi maka akan lebih mudah diadopsi dan diimplementasikan ; 5) penularan (communicability) sejauh mana sebuah inovasi dapat mudah disampaikan kepada orang lain; 6) divisibel (divisibility) yaitu sejauh mana sebuah inovasi dapat dicoba sebelum diadopsi; 7) profitabel (profitability) yaitu tingkat keuntungan yang diperoleh dari penerapan; 8) social approval yaitu status yang didapat tidak berupa finansial tetapi hadiah (reward); 9) triabilitas (triability); dan 10) dapat diamati (obsevability).
Demikian berbagai macam atribut inovasi yang dapat mempengaruhi cepat atau lambatnya penerimaan suatu inovasi. Dengan memahami atribut tersebut para pendidik dapat menganalisa inovasi pendidikan IPA yang akan atau sedang disebarluaskan, sehingga dapat memanfaatkan hasil analisisnya untuk membantu mempercepat proses penerimaan inovasi.

B. Pendekatan-pendekatan Inovasi Pendidikan IPA
Ketika ingin menggambarkan inovasi dalam belajar mengajar, mungkin akan membantu jika terlebih dahulu menceritakan pendekatan pengajaran tradisional. Pendekatan mengajar tradisional dicirikan dengan “direct transmission” yaitu guru mengkomunikasikan pengetahuan secara jelas dan terstruktur serta menunjukkan dan menjelaskan solusi. Sedangkan pendekatan belajar dan mengajar dianggap inovatif jika berpusat pada siswa atau konstruktivis. Kurikulum ditekankan kepada perkembangan pemikiran, keterampilan penalaran dan kemampuan mensintesis pengetahuan. Guru dapat menyesuaikan program belajar sesuai kebutuhan dan kepentingan siswa (Looney 2009).
Selain itu ada juga perubahan pandangan pada penilaian berbasis kelas. Penilaian tradisional dipandang sebagai alat untuk membuat penilaian sumatif. Namun belakangan penilaian formatif menjadi sebuah inovasi baru yang memungkinkan guru untuk mengidentifikasi kesenjangan dalam belajar siswa dan beradaptasi untuk mengajar dengan tepat. Pendekatan ini sesuai dengan tujuan negara-negara Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk mempromosikan belajar seumur hidup (lifelong learning).
Tema-tema yang luas dalam pembelajaran dan penilaian dipandang sebagai pendukung siswa “learning for the 21th century”, dan semakin tertanam dalam kebijakan nasional di negara-negara maju yang tergabung dalam OECD. Beberapa contoh pendekatan inovasi pendidikan yang dilakukan negara-negara OECD (Looney, 2009), sebagai berikut ini.
1. Beberapa negara mempromosikan pengembangan kompetensi sebagai kunci dalam kerangka kurikulum nasional [Austria, Belgia, Republik Ceko, Perancis, Finlandia, Jerman, Hungaria, Italia, Luksemburg, Selandia Baru, Norwegia, Swiss, dan Inggris].
2. Cross-curricular, atau studi terintegrasi semakin umum [Belgia, Jepang, Korea, Belanda, Polandia, Swiss, Swedia, Turki dan Inggris]. Kerangka kurikulum nasional mendorong pengajaran dengan basic literacy dan numeracy skill dalam konteks mata pelajaran lain. Berkembangnya arus kejuruan dan akademik yang terintegrasi. Siswa memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam proyek-proyek interdisiplin. Penekanan ini membantu siswa untuk mengembangkan kapasitas dalam mensintesis pengetahuan dari berbagai disiplin.
3. Beberapa negara mempromosikan konstruktivis, pendekatan berpusat pada siswa dalam pedoman kurikulum dan program pengembangan profesional [Kanada, Finlandia, Irlandia, Jepang, Korea, Turki].
4. Beberapa negara memiliki kebijakan mempromosikan penggunaan penilaian formatif sebagai cara membangun keterampilan siswa untuk penilaian diri (self-assessment) dan belajar untuk belajar (learning to learn) untuk meningkatkan prestasi terutama bagi siswa yang berperforma rendah [Australia, Kanada, Denmark, Finlandia, Irlandia, Italia, Selandia Baru, Swiss, Turki, dan Inggris] (OECD, 2005).
5. Inisiatif untuk personalisasi belajar (personalization of learning), termasuk kebebasan yang lebih besar dalam kurikulum [Perancis, Hungaria, Jepang dan Inggris].
6. Kebijakan-kebijakan nasional yang mendukung pengembangan sekolah dan program spesialis [Australia, Belanda, dan Inggris].
7. Penekanan tentang pentingnya mengembangkan siswa yang melek TIK (ICT literate), yang digunakan sebagai alat untuk belajar.
Jika kita perhatikan lagi, sebenarnya beberapa pendekatan inovasi pendidikan yang diterapkan oleh Negara OECD telah lama dikembangkan di Indonesia. Hal ini tergambar semenjak tahun 2004 dengan keluarnya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), kemudian disempurnakan lagi dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Seiring dengan zaman yang terus berubah, kini pemerintah melalui Kemdikbud telah menyiapkan Kurikulum 2013 yang sudah memasuki tahap uji publik untuk menanggapi paradigma belajar abad 21.
Tema pengembangan kurikulum 2013 adalah dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi. Diakui dalam perkembangan kehidupan dan ilmu pengetahuan abad 21, kini memang telah terjadi pergeseran baik ciri maupun model pembelajaran. Inilah yang diantisipasi pada kurikulum 2013 (Sisdiknas, 2012). Skema 1 menunjukkan pergeseran paradigma belajar abad 21 yang berdasarkan ciri abad 21 dan model pembelajaran yang harus dilakukan.

Gambar 1. Skema pergeseran paradigma belajar abad 21 (Sisdiknas, 2012)

Setelah melihat inovasi pendidikan yang bersifat general tercermin dalam kurikulum, berikutnya penulis coba mengerucutkannya pada inovasi pendidikan IPA. Seperti apakah inovasi dalam pendidikan atau pembelajaran IPA? Menurut Liliasari (2012) pembelajaran IPA yang inovatif adalah proses pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi untuk aktif, kreatif, mandiri sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik dan psikologis siswa. Pendekatan inovasi Pendidikan IPA dapat melalui guru, siswa, bahan ajar, asesmen dan model pembelajaran.
1. Melalui guru. Inovasi yang harus dilakukan guru IPA adalah: a) perubahan dari awalnya menerapkan model menjadi merancang model sendiri; b) perubahan dari yang awalnya memandu siswa menjadi menantang siswa belajar/berkreasi; c) perubahan dari guru bertanya menjadi mendorong siswa bertanya; dan d) perubahan dari awalnya memperkenalkan IPA menjadi membuat IPA misteri untuk ditemukan siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Osborne (2007) bahwa guru menjadi lebih sukses ketika kegiatan pembelajaran memberi tempat bagi siswa untuk mengembangkan pengetahuan mereka. Oleh karena itu, tidak cukup hanya mengubah kurikulum, kita juga harus mengubah pedagogi guru IPA. Pemahaman tentang ide pembelajaran IPA mengarah ke kanan pada spektrum yang ada pada dimensi praktek yang mempengaruhi pedagogi guru ketika mengajar IPA seperti pada gambar 2 berikut.

Gambar 2. Dimensi praktek yang mempengaruhi pedagogi guru ketika mengajar IPA (Osborne, 2007)

2. Melaui siswa. Pembaharuan belajar IPA yang diharapkan dari siswa adalah: a) perubahan dari pengetahuan menjadi kompetensi; b) perubahan dari aktivitas guru menjadi aktivitas siswa; c) perubahan dari menghapal menjadi berpikir; d) perubahan dari menerima menjadi menemukan; dan e) perubahan dari belajar sendiri menjadi berkolaborasi.
3. Melalui bahan ajar. Inovasi bahan ajar IPA dengan adanya buku, LKS, soal-soal, internet, audio-video, majalah dan software.
4. Melalui asesmen pembelajaran IPA yaitu: a) perubahan asesmen yang berorientasi hasil menjadi asesmen proses dan hasil; b) perubahan dari satu jenis asesmen menjadi multiple asesmen; c) perubahan dari asesmen sumatif menjadi asesmen formatif dan sumatif, dan d) perubahan dari asesmen kognitif menjadi asesmen kognitif, afektif dan psikomotor.
5. Beberapa model pembelajaran inovatif yang sesuai untuk Pendidikan IPA diantaranya yaitu:
a. Pembelajaran inkuiri dengan karakteristik yaitu: a) membangun rasa ingin tahu, b) siswa lebih banyak bertanya, c) pembelajaran lebih menantang, d) IPA sebagai misteri, dan e) keterampilan bertanya kritis.
b. Pembelajaran kontekstual dengan karakteristik yaitu: a) bertolak dari kehidupan sehari-hari, b) berbasis nilai/norma, c) aplikasi IPA dalam kehidupan, d) kesejahteraan manusia dan lingkungan, dan e) menghindari dampak negatif.
c. Pembelajaran tematik dengan karakteristik yaitu: a) berbasis tema kehidupan sehari-hari, b) hubungan antar disiplin IPA, dan c) belajar di dalam dan luar jam pembelajaran.
d. Pembelajaran kreatif-produktif dengan karakteristik yaitu: a) berbasis konstruktivisme, b) modifikasi siklus belajar, c) penerapan asimilasi-akomodasi, d) aplikasi konsep (interpretasi & re-kreasi), dan e) efek ringan berpikir kritis & kreatif.
e. Pembelajaran berpikir tingkat tinggi dengan karakteristik yaitu: a) efek ringan berpikir tingkat tinggi, mengembangkan berpikir IPA, dan berbasis TIK.
Melalui berbagai macam pendekatan tersebut di atas, di¬harapkan siswa memiliki kom-petensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang jauh lebih ba¬ik melalui Pendidikan IPA. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif.

C. Lesson Learnt
Dalam inovasi pendidikan, secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua buah model inovasi yang baru yaitu top-down model dan bottom-up model (Gunawan, 2010). Top-down model yaitu inovasi pendidikan yang diciptakan oleh pihak tertentu sebagai pimpinan/atasan yang diterapkan kepada bawahan; seperti halnya inovasi pendidikan yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat melalui Kemdikbud, misalnya perubahan kurikulum KTSP menjadi Kurikulum 2013 yang saat ini sudah memasuki tahap uji publik. Bottom-up model yaitu model inovasi yang bersumber dan hasil ciptaan dari bawah dan dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan penyelenggaraan dan mutu pendidikan.
Berikut akan dikaji beberapa top-down model inovasi Pendidikan IPA, diantaranya yaitu SEQIP, lesson study, dan Pendidikan Guru Bertaraf Internasional Bidang MIPA.

1. Science Education Quality Improvement Project (SEQIP)
SEQIP (Science Education Quality Improvement Project atau Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam) adalah proyek bilateral Indonesia-Jerman yang bermaksud meningkatkan mutu pengajaran IPA di sekolah dasar dengan berbagai sumber belajar. SEQIP bertujuan menciptakan suasana pembelajaran IPA yang menyenangkan, aktif, kreatif, dan efektif. Bagaimana caranya? Caranya yaitu dengan learning by doing, siswa tidak menghapal tetapi memahami sehingga menguasai dan menerapkan IPA dalam kehidupan sehari-hari serta berinteraksi dengan lingkungan secara berkesinambungan agar dapat membangun dasar yang kuat untuk pembelajaran IPA selanjutnya.
Instrumen SEQIP untuk meningkatkan mutu Pendidikan IPA melalui pelatihan, bantuan profesional untuk guru, sistem peralatan, bahan tertulis, sistem ujian, dan sistem pemeliharaan. Cara kerja SEQIP yaitu: a) mempengaruhi secara simultan pada tingkat yang berbeda (departemen, provinsi, kabupaten dan sekolah); b) membantu secara simultan, melalui beberapa instrument untuk memperbaiki kelemahan utama. Sistem peralatan berdasarkan kurikulum nasional. Tujuan utama: memungkinkan percobaan dan kegiatan siswa yang mendukung pembelajaran yang berpusat pada siswa. Sistem ini meliputi kit guru, kit murid, dan buku percobaan IPA. Data tentang SEQIP (Kerjasama Bilateral) sebagai berikut.
Tahap pelaksanaan : April 1994 – Desember 2005
Provinsi yang terlibat : 17
Sekolah yang terkait : 33.160
Konsultan lokal yang dilatih : 178
Ka. SD dan Pengawas yang dilatih : 35.000
PBS yang dilatih : 5.525
Guru yang dilatih : 66.000
Murid yang terlibat : 4,0 juta
Kit murid yang didistribusikan : 18.000
Kit guru yang didistribusikan : 36.000
Kerjasama teknis : 10,7 juta Euro
Kerjasama keuangan : 22,7 juta Euro
(Sumber: Tim Konsultan SEQIP)

2. Lesson Study
Lesson Study diperkenalkan di Indonesia melalui kegiatan piloting yang dilaksanakan dalam proyek follow-up IMSTEP-JICA di tiga perguruan tinggi yaitu UPI, UNY, dan UM. Di UM sendiri lessson study diperkenalkan di Malang secara formal oleh JICA expert Eisoke Saito, Ph.D. pada bulan januari 2004, selanjutnya diikuti kegiatan pengimplementasian lesson study di SMA labotarium Universitas Negeri Malang (I Made Sulandra, 2006). Lesson Study merupakan hal yang baru bagi sebagian sebagian besar guru. Lesson Study diadopsi dari Jepang dan diuji cobakan di beberapa sekolah sebagai pilot project, diantaranya Bandung (dibawah UPI), di Yogyakarta (dibawah UNY), dan di Malang (dibawah UM).
Di Jepang para guru dapat meningkatkan ketrampilan/kecakapan dalam mengajarnya melalui kegiatan Lesson Study, yakni belajar dari suatu pembelajaran. Lesson study adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkesinambungan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar (Undang, 2009). Lesson study merupakan salah satu bentuk pembinaan guru (in-service) yang dapat dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme guru. Jadi, lesson study bukan suatu strategi atau metode dalam pembelajaran, melainkan merupakan salah satu upaya pembinaan untuk meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan sekelompok guru.
Lesson Study mulai diterapkan pada tahun 2004 yang hasilnya menunjukkan terjadinya peningkatan profesionalisme guru dalam melakukan pembelajaran di sekolah, meningkatkan kolaborasi akademik dan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Efektifitas dan efisiensi program Lesson Study yang ditunjang oleh kegiatan monitoring dan evaluasi (MONEV) dengan menggunakan rekaman audiovisual, sehingga para guru dapat mengkaji mutu pembelajaran berdasarkan data dan fakta yang sesungguhnya.
Jadi, Lesson Study dipilih sebagai salah satu cara untuk meningkatkan proses pembelajaran, dimana seorang guru mengajak kerjasama guru yang lain. Kerjasama tersebut dimulai dari merancang pembelajaran, melaksanakan dan mengamati proses pembelajaran, serta melakukan diskusi/ refleksi terhadap pelajaran yang dilakukan. Ada empat tahapan pelaksanaan Lesson study adalah Plan-Do-See-Reflection.

3. Pendidikan Guru Bertaraf Internasional Bidang MIPA
Latar belakang dikembangkan satuan pendidikan bertaraf internasional adalah Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 50 ayat 3 menyebutkan bahwa Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan. Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) adalah sekolah yang memenuhi seluruh Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan muatan-muatan yang mengacu pada standar pendidikan dari sekurang-kurangnya satu negara anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan sehingga memiliki daya saing di tingkat internasional (SNP + X).
Sesuai dengan amanat Undang-undang tersebut pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) sejak tahun 2004 telah mengembangkan program rintisan SBI untuk memfasilitasi Sekolah yang berpotensi menjadi SBI. Salah satu komponen yang perlu dikembangkan untuk mewujudkan SBI adalah pendidik. Kompetensi pendidik SBI harus memenuhi standar kompetensi pendidik yang sesuai dengan standar nasional pendidikan yang diperkaya dengan standar kompetensi pendidik yang berstandar internasional.
Rencana strategis (Renstra) Depdiknas tahun 2004-2009 mentargetkan bahwa di setiap kabupaten/kota (sekitar 440 buah) harus diselenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional. Sampai dengan tahun 2007 Depdiknas telah memberikan block grant kepada 200 SMA, 112 SMK, 200 SMP dan 38 SD untuk membantu sekolah-sekolah tersebut dalam mengembangkan program menuju SBI.
Program hibah Pengembangan Pendidikan Guru Bertaraf Internasional bidang MIPA ditujukan untuk membantu LPTK menghasilkan guru-guru MIPA yang memenuhi standar kompetensi SBI. Program ini dinyatakan berhasil jika indikator-indikator berikut ini dapat dicapai.
1. Tersedianya kurikulum program S-1 pendidikan guru bertaraf internasional bidang MIPA pada tahun pertama.
2. Tersedianya bahan ajar bahasa Inggris untuk MIPA. Perguruan tinggi penerima hibah diharuskan membuat mata kuliah bahasa Inggris untuk MIPA.
3. Tersedianya minimal dua bahan ajar (hand out) beserta Satuan Acara Perkuliahan dan instrumen evaluasi pembelajaran dalam bahasa Inggris untuk mata kuliah bidang studi setiap program studi setiap semester.
4. Lulusan mampu menggunakan media/sumber belajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi dalam proses belajar mengajar.
5. Lulusan mampu menyusun Rencana Program Pengajaran dan mampu mengampu pembelajaran bidang studi MIPA yang dikuasai dengan pengantar bahasa Inggris.
6. Terjadinya peningkatan secara signifikan skor rata-rata TOEFL mahasiswa setiap tahunnya dan pada akhir masa studinya rata-rata skor TOEFL mahasiswa minimal 500.
Dalam melakukan proses seleksi dan menetapkan calon penerima hibah akan dipertimbangkan kondisi geografis LPTK. Pada tahap pertama ini akan dipilih 4 LPTK sebagai pemenang hibah. Proses seleksi penerima hibah mencakup 3 tahap yaitu: Evaluasi Proposal (Desk Evaluation), Site Evaluation, dan Penetapan Pemenang. Program hibah direncanakan untuk jangka waktu 4 (empat) tahun. Dana hibah yang disediakan untuk pengembangan pendidikan guru bertaraf internasional bidang MIPA ini maksimal sebesar Rp 2.000.000.000 (dua milyar rupiah) untuk 4 (empat) tahun, dengan porsi pembiayaan maksimal 90% dari Ditjen Dikti dan minimal 10% dari Perguruan Tinggi pengusul. Pembiayaan akan menerapkan paradigma output-outcome oriented. Artinya, penggunaan block grant tidak hanya untuk mahasiswa angkatan 2008/2009. Usulan program harus mampu menghasilkan lulusan pada tahun 2010 yakni dengan melibatkan mahasiswa angkatan 2006/2007 dan 2007/2008. Dengan demikian, perencanaan program dan pembiayaan harus disusun untuk 4 (empat) tahun, dilengkapi action plan untuk setiap tahunnya (BPSDMPK, 2012).
Namun, SBI menjadi kontroversi karena dianggap sekolah bertarif internasional dan hanya anak dari keluarga kaya yang dapat sekolah di sana. Pemerintah bersikukuh tidak mau membubarkan RSBI dengan alasan terbentur dengan Pasal 50 Ayat (3) UU Sisdiknas. Beberapa waktu yang lalu, pemerintah telah mengeluarkan Permen Nomor 60 tahun 2011 tentang larangan pungutan. Di dalam Permen tersebut diatur SD dan SMP yang masuk kategori RSBI dilarang melakukan pungutan tanpa persetujuan tertulis dari bupati atau walikota atau pejabat yang ditunjuk.
Selain top-down model inovasi pendidikan, banyak juga contoh bottom-up model inovasi dalam Pendidikan IPA. Seperti contohnya inovasi pembuatan alat IPA sederhana dilakukan oleh guru-guru yang kreatif dan juga sering diikutkan dalam lomba. Guru memanfaatkan SDA sekitar sebagai sumber belajar, contohnya pembuatan biodiesel dari biji alpukat dan biji jarak.

D. Faktor-faktor Strategis Implementasi Inovasi Pendidikan IPA
Inovasi pendidikan merupakan proses perkembangan perubahan yang terdiri dari tiga tahap berikut: inisiasi (adopsi), implementasi dan institualisasi (kelanjutan, penggabungan) (Fullan, 1991). Faktor-faktor yang mendasari untuk memulai perubahan besar dalam pendidikan dan faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan inovasi pendidikan telah banyak diteliti. Fullan (1991) membuat daftar seperangkat faktor yang dianggap menjadi sangat penting untuk keberhasilan pelaksanaan inovasi:
a) kejelasan kebijakan sekolah sehubungan dengan tujuan inovasi;
b) kegiatan pengembangan staf dalam organisasi;
c) pengaturan dari prosedur monitoring dan evaluasi;
d) suplai dukungan (teknis) kepada para guru yang membutuhkan bantuan; dan
e) dukungan (dari atas) yaitu kepala sekolah, pemerintah dan lembaga lainnya.
Dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling mendukung implementasi inovasi lebih banyak terdapat dalam praktek. Keberhasilan atau kegagalan inovasi pendidikan tidak ditentukan oleh ketersediaan atau tidaknya faktor individual tetapi merupakan hasil dari sebuah proses dinamis yang melibatkan interaksi variabel dari waktu ke waktu (Fullan, 1991).
Kendala-kendala yang mempengaruhi keberhasilan inovasi pendidikan menurut Subandiyah (1992) adalah: 1) Perkiraan yang tidak tepat terhadap inovasi, 2) Konflik dan motivasi yang kurang sehat, 3) Lemahnya berbagai faktor penunjang sehingga mengakibatkan tidak berkembangnya inovasi yang dihasilkan, 4) Keuangan (financial) yang tidak terpenuhi, 5) Penolakan dari sekelompok tertentu atas hasil inovasi, dan 6) Kurang adanya hubungan sosial dan publikasi. Untuk menghindari masalah-masalah tersebut di atas, diharapkan ada perubahan terutama sikap dan perilaku dalam menanggapi inovasi pendidikan yang sedang dan akan dikembangkan. Diharapkan keterlibatan semua pihak seperti guru, administrator, orang tua siswa, dan masyarakat umumnya agar inovasi pendidikan dapat berhasil.
Menurut Gunawan (2010) ada beberapa faktor mengapa inovasi sering ditolak atau tidak dapat diterima oleh para pelaksana inovasi di lapangan atau di sekolah seperti sebagai berikut ini.
1. Sekolah atau guru tidak dilibatkan dalam proses perencanaan, penciptaan dan bahkan pelaksanaan inovasi tersebut, sehingga ide baru atau inovasi tersebut dianggap oleh guru atau sekolah bukan miliknya, dan merupakan kepunyaan orang lain yang tidak perlu dilaksanakan, karena tidak sesuai dengan keinginan atau kondisi sekolah mereka.
2. Guru ingin mempertahankan sistem atau metode yang mereka lakukan saat sekarang, karena sistem atau metode tersebut sudah mereka laksanakan bertahun-tahun dan tidak ingin diubah. Di samping itu sistem yang mereka miliki dianggap oleh mereka memberikan rasa aman atau kepuasan serta sudah baik sesuai dengan pikiran mereka. Hal senada diungkapkan pula Day dkk (1987) di mana guru tetap mempertahankan sistem yang ada.
3. Inovasi yang baru yang dibuat oleh orang lain terutama dari pusat (khususnya Kemdikbud) belum sepenuhnya melihat kebutuhan dan kondisi yang dialami oleh guru dan siswa. Hal ini juga diungkapkan oleh Munro (1987) yang mengatakan bahwa mismatch between teacher’s intention and practice is important barrier to the success of the innovatory program.
4. Inovasi yang diperkenalkan dan dilaksanakan yang berasal dari pusat merupakan kecenderungan sebuah proyek (contohnya: SEQIP) di mana segala sesuatunya ditentukan oleh pencipta inovasi dari pusat. Inovasi ini bisa terhenti kalau proyek itu selesai atau kalau financial dan keuangannya sudah tidak ada lagi. Dengan demikian pihak sekolah atau guru hanya terpaksa melakukan perubahan sesuai dengan kehendak para inovator di pusat dan tidak punya wewenang untuk merubahnya.
5. Kekuatan dan kekuasaan pusat yang sangat besar sehingga dapat menekan sekolah atau guru melaksanakan keinginan pusat, yang belum tentu sesuai dengan kemauan mereka dan situasi sekolah mereka.

Inovasi Pendidikan IPA harus berlangsung di sekolah guna memperoleh hasil yang terbaik dalam mendidik siswa. Ujung tombak keberhasilan pendidikan IPA di sekolah adalah guru. Oleh karena itu guru IPA harus mampu menjadi seorang yang inovatif guna menemukan strategi atau metode yang efektif untuk mendidik. Inovasi yang dilakukan guru pada intinya berada dalam tatanan pembelajaran yang dilakukan di kelas. Kunci utama yang harus dipegang guru adalah bahwa setiap proses atau produk inovatif yang dilakukan dan dihasilkannya harus mengacu kepada kepentingan siswa.

III. PENUTUP

Inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau kelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil invention (penemuan baru) atau discovery (baru ditemukan orang), yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan. Tujuan inovasi pendidikan yaitu mengejar ketinggalan–ketinggalan yang dihasilkan oleh kemajuan ilmu dan teknologi dan mengusahakan terselenggaranya pendidikan sekolah maupun luar sekolah bagi setiap warga negara.
Pembelajaran IPA yang inovatif adalah proses pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi untuk aktif, kreatif, mandiri sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik dan psikologis siswa. Pendekatan inovasi Pendidikan IPA dapat melalui guru, siswa, bahan ajar, asesmen dan model pembelajaran. Dengan adanya inovasi-inovasi di bidang pendidikan IPA diharapkan membawa kemajuan bagi dunia pendidikan di Indonesia, sehingga dapat digunakan untuk memecahkan masalah pendidikan dan menyongsong arah perkembangan dunia pendidikan yang lebih memberikan harapan kemajuan lebih pesat.
Keberhasilan atau kegagalan inovasi pendidikan tidak ditentukan oleh ketersediaan atau tidaknya faktor individual tetapi merupakan hasil dari sebuah proses dinamis yang melibatkan interaksi variabel dari waktu ke waktu (Fullan, 1991). Jadi faktor yang paling mendukung implementasi inovasi lebih banyak terdapat dalam prakteknya.

DAFTAR PUSTAKA

BPSDMPK. 2012. Pendidikan Guru Bertaraf Internasional Bidang MIPA. [Online]. Tersedia: http://bpsdmpk.kemdikbud.go.id/bpsdmpk/. (diunduh 1 Desember 2012).
Fullan, M.G. 1991. The New Meaning of Educational Change. London: Cassell.
Gunawan, I. 2010. Inovasi Pendidikan. [Online]. Tersedia: http://masimamgun.blogspot.com/2010/11/inovasi-pendidikan.html. (diunduh 1 Desember 2012).
Ibrahim. 1988. Inovasi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud.
Liliasari (2012). Inovasi Pembelajaran IPA: Mengapa & Bagaimana? [Online]. Tersedia: http://file.upi.edu/Direktori/SPS/PRODI.PENDIDIKAN_IPA/194909271978032-LILIASARI/INOVASI_P.IPA-PPM_09.pdf. (diunduh 1 Desember 2012).
Looney, J. W. 2009. Assessment and Innovation in Education. OECD Education Working Papers, No. 24, OECD Publishing.
Osborne, J. 2007. Science Education for Twenty First Century. Eurasia Journal of Mathematics, Science & Technology Education, 2007, 3(3), 173-184
Rogers, M. E. 1983. Diffusion of Innovation. New York: The Free Press A Division of Macmillan Publishing Co. Inc.
Sisdiknas. 2012. Pergeseran Paradigma Belajar Abad 21. [Online]. Tersedia: http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/uji-publik-kurikulum-2013-2. (diunduh 10 Desember 2012)
Subandijah. 1992. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Yogyakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Tornatzky, L. G. & Klein, K. J. 1982. Innovation Characteristics and Innovation-Adoption: A Meta Analysis of Findings. IEEE Transactions on Engineering Management, Vol. EM-29 No.1, February 1982.
Undang, G. 2009. Lesson Study: Model Pengkajian Pembelajaran Kolaboratif. Bandung: Sayagatama Press
Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s