Literacy Science

BAB I

PENDAHULUAN

Hakikat pembelajaran Sains (Puskur, 2003) adalah pembelajaran yang mampu merangsang kemampuan berfikir siswa meliputi empat unsur utama (1) sikap: rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar; IPA bersifat open ended; (2) proses: prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode ilmiah meliputi penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen atau percobaan, evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan; (3) produk: berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum; (4) aplikasi: penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari. Dalam proses pembelajaran IPA keterlibatan keempat unsur ini, diharapkan dapat membentuk peserta didik memiliki kemampuan pemecahan masalah dengan metode ilmiah, dan meniru cara ilmuwan bekerja dalam menemukan fakta baru

Namun pembelajaran sains yang selama ini terjadi di sekolah belum mengembangkan kecakapan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Padahal pengajaran sains dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah pengajaran yang mengajarkan siswa bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana berfikir, dan bagaimana memotivasi diri mereka (Nur, 2005). Pengajaran sains merupakan proses aktif yang berlandaskan konsep konstruktivisme yang berarti bahwa sifat pengajaran sains adalah pengajaran yang berpusat pada siswa (student centered instruction).

Untuk menilai apakah IPA diimplementasikan di Indonesia, kita dapat melihat hasil literasi IPA anak-anak Indonesia. Hal ini mengingat arti literasi sains/IPA (scientific literacy) itu sendiri yang ditandai dengan kerja ilmiah, dan tiga dimensi besar literasi sains yang ditetapkan oleh PISA, yaitu konten IPA, proses IPA, dan konteks IPA.

Berikut akan dibahas lebih lanjut tentang Literacy Science, dimana tulisan ini bertujuan untuk menambah pengetahuan kita bersama dan untuk melengkapi tugas mata kuliah evaluasi pembelajaran fisika.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. Pengertian Literacy Science

Secara harfiah literasi berasal dari “Literacy” (dari bahasa inggris) yang berarti melek huruf atau gerakan pemberantasan buta huruf. Kata sains berasal dari “Science” (dari bahasa inggris) yang berarti ilmu pengetahuan. Salah satu indikator keberhasilan siswa menguasai berpikir logis, berpikir kreatif,  dan teknologi dapat dilihat dari penguasaan Literasi Sains siswa dari Program PISA. PISA (Programme for International Student Assesment) mendefinisikan literasi sains sebagai kemampuan menggunakan pengetahuan sains, mengidentifikasi permasalahan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti, dalam rangka mengerti serta membuat keputusan tentang alam dan perubahan yang terjadi pada alam sebagai akibat manusia (Witte, 2003). Literasi sains atau scientific literacy didefinisikan PISA sebagai kapasitas untuk menggunakan pengetahuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan dan untuk menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti agar dapat memahami dan membantu membuat keputusan tentang dunia alami dan interaksi manusia dengan alam. Literasi sains dianggap  suatu  hasil belajar  kunci  dalam pendidikan pada usia 15 tahun bagi semua siswa, apakah meneruskan mempelajari sains atau tidak setelah itu. Berpikir ilmiah merupakan tuntutan warganegara, bukan hanya ilmuwan. Keinklusifan literasi sains  sebagai  suatu  kompetensi  umum  bagi  kehidupan merefleksikan kecenderungan yang berkembang pada pertanyaan-pertanyaan ilmiah dan teknologis. Definisi yang digunakan dalam PISA tidak termasuk bahwa orang-orang dewasa masa yang akan datang akan memerlukan cadangan pengetahuan ilmiah  yang banyak. Yang penting adalah siswa dapat berpikir secara ilmiah tentang bukti yang akan mereka hadapi.

  1. B. Dimensi Literasi Sains
    1. Content Literasi Sains

Dalam  dimensi  konsep  ilmiah  (scientific  concepts)  siswa  perlu  menangkap  sejumlah konsep kunci/esensial untuk dapat memahami fenomena alam tertentu dan perubahan-perubahan  yang  terjadi  akibat  kegiatan  manusia.  Hal  ini  merupakan  gagasan  besar pemersatu   yang   membantu   menjelaskan   aspek-aspek   lingkungan   fisik. PISA mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mempersatukan konsep-konsep fisika, kimia, biologi, serta ilmu pengetahuan bumi dan antariksa (IPBA).

  1. Process Literasi Sains

PISA (Programme for International Student Assessment) mengases kemampuan untuk menggunakan  pengetahuan  dan  pemahaman  ilmiah,  seperti  kemampuan  siswa  untuk mencari,  menafsirkan  dan  memperlakukan  bukti-bukti.  PISA  menguji  lima  proses semacam  itu,  yakni:  mengenali  pertanyaan  ilmiah  (i),  mengidentifikasi  bukti  (ii), menarik  kesimpulan (iii), mengkomu-nikasikan  kesimpulan (iv), dan menunjukkan pemahaman konsep ilmiah (v).

  1. Context Literasi sains

Konteks literasi sains dalam PISA (Programme for International Student Assessment) lebih pada kehidupan sehari-hari daripada kelas atau laboratorium.  Sebagaimana dengan bentuk-bentuk literasi lainnya, konteks melibatkan isu-isu yang penting dalam kehidupan secara umum seperti juga terhadap kepedulian pribadi.   Pertanyaan-pertanyaan dalam PISA 2000 dikelompokkan  menjadi tiga area tempat  sains diterapkan, yaitu: kehidupan dan kesehatan  (i),  bumi  dan  lingkungan  (ii),  serta teknologi (iii).

PISA menetapkan tiga dimensi besar literasi sains dalam pengukurannya, yakni proses sains,  konten  sains,  dan  konteks  aplikasi  sains. Proses sains  merujuk  pada  proses mental  yang  terlibat  ketika  menjawab  suatu  pertanyaan  atau  memecahkan  masalah, seperti  mengi-denifikasi  dan  menginterpretasi  bukti  serta  menerangkan  kesimpulan. Termasuk di dalamnya mengenal jenis pertanyaan yang dapat dan tidak dapat dijawab oleh sains, mengenal bukti apa yang diperlukan dalam suatu penyelidikan sains, serta mengenal kesimpulan yang sesuai dengan bukti yang ada.

Konten  sains  merujuk  pada  konsep-konsep  kunci  yang  diperlukan  untuk  memahami fenomena  alam  dan  perubahan  yang  dilakukan  terhadap  alam  melalui  akitivitas manusia. Dalam kaitan ini PISA tidak secara khusus membatasi cakupan konten sains hanya  pada  pengetahuan  yang  menjadi  materi  kurikulum  sains  sekolah, namun termasuk pula pengetahuan yang dapat diperoleh melalui sumber-sumber  lain.

Konsep-konsep tersebut diambil dari bidang-bidang studi biologi, fisika, kimia, serta ilmu  pengetahuan  bumi  dan  antariksa,  yang  terkait  pada  tema-tema  utama  berikut: struktur dan sifat materi, perubahan atmosfer, perubahan fisis dan  perubahan  kimia, transformasi energi, gerak dan gaya, bentuk dan fungsi, biologi manusia, perubahan fisiologis, keragaman mahluk hidup, pengendalian genetik, ekosistem,  bumi  dan kedudukannya di alam semesta serta perubahan geologis.

C. Perkembangan Literasi (reading-, mathematical-, scientific- literacy) pada PISA 2000-2003-2006

Pada tahun 2000, Indonesia ikut-serta dalam penelitian PISA (Programme for International Student Assessment), suatu studi internasional yang diikuti oleh 42 negara di bawah koordinasi Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) yang diharapkan akan menjadi survey yang bersifat reguler dan berkesinambungan.

Hasil studi PISA berupa informasi tentang profil pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi siswa di Indonesia di antara bangsa-bangsa di dunia dapat dimanfaatkan sebagai bandingan dalam perumusan kebijakan dalam peningkatan mutu pendidikan dasar kita, khususnya dalam menentukan ambang batas bawah (tresh-hold) dan batas ambang ideal (benchmark) kemampuan dasar membaca, matematika, dan sains di akhir usia wajib belajar. Selain itu, dari studi PISA ini dapat diperoleh sekumpulan indikator kontekstual tentang demografi siswa, sekolah, dan variabel lainnya yang mempengaruhi pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi siswa.

PISA bertujuan meneliti secara berkala tentang kemampuan siswa usia 15 tahun dalam membaca (reading literacy), matematika (mathematics literacy), dan sains (scientific literacy). Penelitian yang dilakukan PISA meliputi tiga periode, yaitu tahun 2000, 2003, dan 2006. Pada tahun 2000 penelitian PISA difokuskan kepada kemampuan membaca, sementara dua aspek lainnya menjadi pendamping. Pada tahun 2003 aspek matematika akan menjadi fokus utama kemudian diteruskan aspek sains pada tahun 2006. Melalui program tiga tahunan ini diharapkan kita dapat memperoleh informasi berkesinambungan tentang prestasi belajar siswa sebagai upaya untuk mengetahui tingkat kualitas pendidikan dasar Indonesia di dalam lingkup internasional.

Data yang dikumpulkan dalam PISA terdiri atas tiga kelompok besar, yaitu kelompok pengetahuan, latar belakang siswa, dan latar belakang sekolah. Data yang diperoleh dari kelompok pengetahuan adalah data kemampuan aspek membaca, matematika, dan sains sebagaimana terdapat di dalam kurikulum sekolah (curriculum focused) serta bersifat lintas-kurikulum (cross-curricular elements).

Aspek membaca bertujuan untuk untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami bacaan (understanding), menggunakan (using) dan mengidentifikasi (identifying) informasi yang ada di dalam bacaan, dan merefleksi serta mengevaluasi bacaan (reflecting on written text).

Aspek matematika bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengidentifikasi, memahami, dan menggunakan dasar-dasar matematika yang diperlukan siswa dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.

Aspek sains bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengidentifikasi masalah dalam rangka memahami fakta-fakta alam dan lingkungan serta menggunakan pengetahuannya untuk memahami berbagai fenomena alam dan perubahan yang terjadi pada lingkungan kehidupan.

Sementara itu, untuk mendukung data dari ketiga aspek tersebut, PISA juga menggali informasi tentang latar belakang siswa, yaitu demografi siswa, latar belakang status sosial dan ekonomi, harapan dan keinginan siswa di masa yang akan datang, serta motivasi dan disiplin siswa. Data kemudian dilengkapi dengan latar belakang sekolah untuk menggali informasi tentang aspek demografi sekolah, organisasi sekolah, keadaan guru dan karyawannya (staffing patterns) serta prasarana pembelajaran (instructional practices) dan iklim pembelajaran.

Pelaksanaan studi PISA dilakukan oleh suatu konsorsium internasional yang diketuai oleh Australian Council for Educational Research (ACER) dan terdiri atas lembaga testing yang terkenal di dunia yaitu The Netherlands National Institute for Educational Measurement (CITO) Belanda, Educational Testing Service (ETS) Amerika Serikat, Westat Amerika Serikat, dan National Institute for Educational Research (NIER) Jepang. PISA diikuti oleh 42 negara, mulai dari negara maju seperti Amerika Serikat, Australia, Kanada, Inggris, Jerman, Perancis, Spanyol, Swedia, dan Swiss, sampai pada negara berkembang seperti Brasil, China, Cile, Meksiko, dan Indonesia.

D. Komponen dan Aspek-aspek dalam Literasi Sains

Proses sains merujuk pada proses mental yang terlibat ketika menjawab suatu pertanyaan atau memecahkan masalah, seperti mengidentifikasi dan menginterpretasi bukti serta menerangkan kesimpulan (Rustaman et al., 2004). PISA (2000) menetapkan lima komponen proses sains dalam penilaian literasi sains, yaitu:

  1. Mengenal pertanyaan ilmiah, yaitu pertanyaan yang dapat diselidiki secara ilmiah, seperti mengidentifikasi pertanyaan yang dapat dijawab oleh sains.
  2. Mengidentifikasi bukti yang diperlukan dalam penyelidikan ilmiah. Proses ini melibatkan identifikasi atau pengajuan bukti yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan dalam suatu penyelidikan sains, atau prosedur yang diperlukan untuk memperoleh bukti itu.
  3. Menarik dan mengevaluasi kesimpulan. Proses ini melibatkan kemampuan menghubungkan kesimpulan dengan bukti yang mendasari atau seharusnya mendasari kesimpulan itu.
  4. Mengkomunikasikan kesimpulan yang valid, yakni mengungkapkan secara tepat kesimpulan yang dapat ditarik dari bukti yang tersedia.
  5. Mendemonstrasikan pemahaman terhadap konsep-konsep sains, yakni kemampuan menggunakan konsep-konsep dalam situasi yang berbeda dari apa yang telah dipelajarinya.

Dari hasil akhir proses sains ini, siswa diharapkan dapat menggunakan konsep-konsep sains dalam konteks yang berbeda dari yang telah dipelajarinya. PISA memandang pendidikan sains untuk mempersiapkan warganegara masa depan, yang mampu berpartisipasi dalam masyarakat yang akan semakin terpengaruh oleh kemajuan sains dan teknologi, perlu mengembangkan kemampuan anak untuk memahami hakekat sains, prosedur sains, serta kekuatan dan keterbatasan sains. Termasuk di dalamnya kemampuan untuk menggunakan pengetahuan sains, kemampuan untuk memperoleh pemahaman sains dan kemampuan untuk menginterpretasikan dan mematuhi fakta.  Alasan ini  yang menyebabkan PISA tahun 2003  menetapkan 3 komponen proses sains berikut ini dalam penilaian literasi sains.

  1. Mendiskripsikan, menjelaskan, memprediksi gejala sains.
  2. Memahami penyelidikan sains
  3. Menginterpretasikan bukti dan kesimpulan sains.

E. Karakteristik dan Contoh Soal scientific literacy (Literasi Sains)

Kemampuan Dasar yang Diukur

Kemampuan yang diukur dalam PISA adalah kemampuan pengetahuan dan keterampilan dalam tiga domain kognitif, yaitu membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan alam. Untuk memperoleh data yang dimaksud, disusun dua kategori bentuk soal, yaitu bentuk soal pilihan ganda yang memungkinkan siswa memilih salah satu jawaban yang paling benar dari beberapa alternatif jawaban yang diberikan (sebanyak 44.7% dari keseluruhan soal) dan bentuk soal uraian (constructed response) yang menuntut siswa untuk dapat menjawab dalam bentuk tulisan atau uraian (sisanya atau 55.3%).

Kemampuan yang diukur itu berjenjang dari tingkat kesulitan yang paling rendah kepada tingkat yang lebih sulit. Soal-soal yang harus dijawab pada bentuk pilihan ganda dimulai dari memilih salah satu jawaban alternatif yang sederhana, seperti menjawab ya/tidak, sampai kepada jawaban alternatif yang agak kompleks, seperti merespons beberapa pilihan yang disajikan. Pada soal-soal yang memerlukan jawaban uraian, siswa diminta untuk menjawab dengan jawaban yang singkat dalam bentuk kata atau frase, kemudian jawaban agak panjang dalam bentuk uraian yang dibatasi jumlah kalimatnya, dan jawaban dalam bentuk uraian yang terbuka.

Sampel dan Variabel

Sebanyak 290 sekolah di Indonesia telah dijadikan sampel untuk studi ini, dengan jumlah siswa dalam sampel ini sebanyak 7.355 siswa dari keseluruhan siswa yang berusia 15 tahun dan berada dalam sistem pendidikan. Sekolah tersebut dipilih berdasarkan status sekolah dan jenis sekolah, yang mencakup SLTP (38%), MTs (27.6%), SMU (15.9%), MA (8.5%), dan SMK (9.7%).

Data yang dikumpulkan dalam PISA ini terdiri atas tiga kategori data, yaitu literasi siswa, latar belakang siswa, dan latar belakang sekolah. Aspek literasi adalah aspek utama dari data yang dikumpulkan yang terdiri atas pengetahuan dan keterampilan dalam membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan alam.

Desain Tes Literasi Membaca

Soal-soal PISA yang didesain untuk mengukur literasi membaca dapat dibagi menjadi tiga aspek utama, yaitu aspek struktur dan jenis wacana, aspek proses membaca, dan aspek konteks pemanfaatan pengetahuan dan keterampilan membaca.

Struktur dan Jenis Wacana

Struktur dan jenis wacana di dalam PISA dibagi menjadi dua jenis yaitu struktur wacana berkelanjutan (continuous texts) dan wacana tak-berkelanjutan (non-continuous texts). Seperti telah dijelaskan di atas, wacana berkelanjutan adalah jenis wacana yang terdiri atas rangkaian kalimat yang diatur dalam paragraf dalam bentuk deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi atau injungsi; sementara wacana tak-berkelanjutan adalah wacana yang dirancang dalam format matrik, termasuk di dalamnya pengumuman, grafik, gambar, peta, skema, tabel, dan aneka bentuk penyampaian informasi.

Sementara jenis soal PISA juga mengukur tiga proses membaca, yaitu kemampuan mencari dan menemukan informasi, kemampuan mengembangkan makna dan menafsirkan isi bacaan, dan kemampuan melakukan refleksi dan evaluasi terhadap isi bacaan dalam kaitannya dengan pengalaman sehari-hari, pengetahuan yang sudah didapat sebelumnya, dan pengembangan gagasan dari informasi yang diperolehnya

Soal-soal itu berhubungan dengan konteks membaca yang mencakup konteks membaca untuk kepentingan pribadi, untuk kepentingan umum, untuk kepentingan bekerja, dan untuk kepentingan pendidikan.

Aspek struktur, proses, dan konteks membaca ini selanjutnya diwujudkan dalam serangkaian wacana yang berjumlah 48 wacana. Sebanyak 141 soal kemudian dikembangkan berdasarkan wacana tersebut. Tabel di bawah ini menunjukkan distribusi soal berdasarkan kerangka kerja di atas, sementara Tabel berikutnya menggambarkan peta soal untuk literasi membaca.

Tabel Distribusi Soal Literasi Membaca

Aspek Soal Jumlah Soal
Total PG PGK IT IB JS
Struktur Wacana 1. Berkelanjutan 89 42 3 3 34 7
2. Tak-berkelanjutan 52 14 4 12 9 13
Total 141 56 7 15 43 20
Bentuk Wacana 1. Deskripsi 13 7 1 4 1
2. Narasi 18 8 8 2
3. Eksposisi 31 17 1 9 4
4. Argumentasi/Persuasi 18 7 1 2 8
5. Injungsi 9 3 1 5
6. Pengumuman/iklan 4 1 3
7. Grafik dan gambar (charts) 16 8 2 3 3

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Secara harfiah literasi berasal dari “Literacy” (dari bahasa inggris) yang berarti melek huruf atau gerakan pemberantasan buta huruf. Kata sains berasal dari “Science” (dari bahasa inggris) yang berarti ilmu pengetahuan. Salah satu indikator keberhasilan siswa menguasai berpikir logis, berpikir kreatif,  dan teknologi dapat dilihat dari penguasaan Literasi Sains siswa dari Program PISA.

PISA (2000) menetapkan lima komponen proses sains dalam penilaian literasi sains, yaitu: 1) Mengenal pertanyaan ilmiah, 2) Mengidentifikasi bukti yang diperlukan dalam penyelidikan ilmiah, 3) Menarik dan mengevaluasi kesimpulan, 4) Mengkomunikasikan kesimpulan yang valid, yakni mengungkapkan secara tepat kesimpulan yang dapat ditarik dari bukti yang tersedia, 5) Mendemonstrasikan pemahaman terhadap konsep-konsep sains.

B. Saran

Agar semua pihak lebih memperhatikan masalah pendidikan, terutama pemerintah dan semua tenaga pengajar karena terlihat dari hasil PISA 2006 yang terakhir, Indonesia masih jauh ketinggalan dari negara lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

I Made Alit Mariana dan Wandy Praginda (2009). Hakikat IPA dan Pendidikan IPA. http://www.p4tkipa.org/data/hakekatipa.pdf. Di akses 27 Maret 2010

Suhendra Yusuf (2008). Analisis Tes PISA. http://www.uninus.ac.id/data/data_ilmiah/Suhendra%20Yusuf%20-%20Makalah%20untuk%20Jurnal%20Uninus.pdf. Di akses 27 Maret 2010

Hafis Muaddab (2010). Problem Dasar Pembelajaran Sains. http://hafismuaddab.wordpress.com/category/guru-dan-kurikulum/. Di akses 27 Maret 2010

LAMPIRAN

Tugas: Informasi lebih lanjut tentang fokus literasi sains pada PISA 2006

Literasi Sains Hasil PISA 2006

Literasi matematika dan sains adalah aspek pendidikan yang penting untuk memahami lingkungan, kesehatan, ekonomi dan masalah-masalah lainnya yang dihadapi oleh masyarakat modern yang hidup di alam ilmu pengetahuan dan teknologi. Hampir dapat dipastikan, kemampuan matematika dan sains oleh para siswa mungkin akan memberikan implikasi bagi negara dan bangsa dalam pengembangan teknologi dan untuk meningkatkan daya saing internasional pada umumnya. Sebaliknya, kekurangan siswa-siswa di sekolah dalam literasi matematika dan sains akan berakibat buruk bagi masa depan mereka menghadapi persaingan hidup di masyarakat.

Tingkat Kemampuan Sains

Hasil survey memperlihatkan bahwa siswa-siswa dari Korea, Jepang, Hong Kong-China, Finlandia, dan Inggris menduduki lima besar dengan skor rata-rata masing-masing 552, 550, 541, 538, dan 532. Siswa-siswa lainnya yang berada sama atau di atas skor rata-rata 500 sebagai patokan skor internasional adalah siswa dari negara-negara Kanada, New Zealand, Australia, Austria, Irlandia, Swedia, Ceko, Prancis, dan Norwegia. Sementara itu, siswa dari Amerika Serikat, Jerman, Rusia, Denmark, dan Spanyol berada di bawah skor internasional.

Siswa-siswa Indonesia bersama-sama dengan Peru, Brasil, Albania, dan Argentina berada pada kelompok lima terbawah dengan Macedonia berada satu poin di atas skor 400. Dari 41 negara peserta PISA itu, siswa Indonesia menduduki peringkat ke-38 dengan skor 393, di bawah Thailand (peringkat ke-32 dengan skor 436), tetapi di atas Peru (333), Brasil (375), dan Albania (376).

Pada tingkat kemampuan ini, siswa Indonesia pada umumnya dinilai hanya akan mampu mengingat fakta, istilah, dan hukum-hukum ilmiah serta menggunakannya dalam menarik kesimpuulan ilmiah yang sederhana.

Skor rata-rata 657 dicapai oleh lima persen siswa terbaik dari negara-negara OECD, dengan skor tertinggi diraih oleh siswa Jepang (688) dan Inggris (687) dan skor terendah diperoleh oleh Peru (481).

Pada persentil ke-90 – atau 10 persen siswa terbaik dapat meraih skor 627 dan 25 persen dari pada siswa itu memperoleh skor rata-rata 572. Seterusnya, pada persentil ke-25 para siswa mendapat skor rata-rata 431, lebih dari 90 persen siswa mencapai skor 368 dan lebih dari 95 persen memperoleh skor 332. Hong Kong-China adalah satu-satunya negara non-OECD yang melampaui skor rata-rata OECD tersebut dengan skor 671, 645, 488, 426 dan 391 maisng-masing untuk persentil ke-95, 90, 25, 10, dan ke-5.

Dilihat dari data tersebut, siswa Indonesia belum mampu bersaing bahkan untuk sesama negara di Asia apalagi dibandingkan dengan siswa dari negara OECD. Skor rata-rata siswa Indonesia adalah 393. Pada persentil ke-95 ini, siswa dari Indonesia berada sedikit di atas Peru (481) dengan skor 519, dan di bawah Brasil (531) dan Albania (531). Kemudian berturut-turut pada persentil ke-75, 25, 10, dan 5, siswa kita mendapatkan skor 443, 343, 300, dan 274.

Dibandingkan dengan pesaing terdekatnya, Peru dan Brasil, siswa Indonesia memperoleh skor sedikit lebih tinggi daripada siswa-siswa negara Amerika Latin tersebut, masing-masing 393, 273, 221, dan 187 (Peru) dan 432, 315, 262, dan 230 (Brasil). Sementara dibandingkan dengan Thailand, siswa Indonesia terpaut jauh, masing-masing 485, 386, 343, dan 315. Skor ini tentu jauh berada di bawah rata-rata siswa negara OECD, masing-masing 572, 431, 368, dan 332.

Variasi skor rata-rata untuk setiap negara cukup besar – dari skor rata-rata siswa di Korea (552) dan skor rata-rata siswa di Peru (333). Demikian pula, variasi kemampuan siswa yang ada di dalam satu negara, juga terlihat malah sangat mencolok, misalnya siswa di Jepang memperoleh skor tertinggi 688, terendah 391, dan skor rata-rata 550, atau siswa Korea yang memperoleh skor tertinggi 674, terendah 411, dan skor rata-rata 552, sedangkan siswa di Peru mendapatkan skor tertinggi 481, terendah 187, dan skor rata-rata 333. Siswa Indonesia sendiri bervariasi dari skor tertinggi 519, skor terendah 274, dan skor rata-rata 393.

Seperti juga pada literasi matematika, temuan variasi antarsiswa yang sangat lebar ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan di beberapa negara itu sangat beragam sehingga menghasilkan siswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang juga beragam – dari siswa yang menghadapi kesulitan bahkan dalam menggunakan konsep dasar sains di Peru, Brasil, Albania, dan Indonesia, sampai kepada siswa yang berprestasi sangat baik dalam bidang sains di Korea, Jepang, Hong Kong-China, Finlandia, dan Inggris.

Pola Distribusi Literasi Sains

Secara keseluruhan, pola literasi sains ini serupa dengan pola literasi matematika, yang juga menunjukkan korelasi yang sangat tinggi (0.85) di antara dua kemampuan dasar ini bagi siswa-siswa dari negara OECD.

Skor batas-bawah (treshhold) 627 dapat dicapai oleh para siswa dari 16 negara OECD – termasuk Hong Kong-China yang bukan negara OECD dengan skor 645, dan dua negara dari kategori GNP menengah, yaitu Republik Cekoslovakia (632) dan Hungaria (629).

Pada distribusi bagian bawah, tiga perempat siswa dari 12 negara peserta PISA2000 – terdiri atas 10 negara non-OECD termasuk di dalamnya 10 negara dengan GNP menengah dan rendah – mencapai level kemampuan yang setara dengan kemampuan yang didapat oleh 95 persen siswa dari tiga negara yang paling berprestasi.

Indonesia dan Thailand menunjukkan distribusi skor yang sangat kecil seperti yang ditunjukkan oleh rentangan interquartile. Distribusi ini serupa dan konsisten dengan temuan distribusi untuk membaca dan matematika. Rentangan interquartile sebesar 99 dan 100 seperti ditunjukkan oleh Indonesia dan Thailand itu jauh lebih kecil dibandingkan rentangan rata-rata (141) untuk negara-negara OECD, dengan rentangan yang paling besar (177) ditunjukkan oleh Israel (simpangan baku 125), yang juga konsisten dengan data dari literasi matematika.

Distribusi yang paling luas ditemukan di Israel dengan rentangan 407 poin yang memisahkan dua titik persentil ini. Dari sepuluh negara dengan distribusi kemampuan yang paling luas dalam literasi sains, lima di antaranya juga menunjukkan distribusi yang paling luas dalam literasi matematika, yaitu Argentina, Belgia, Jerman, Israel dan Federasi Rusia.

Perbandingan Literasi Sains dan Membaca

Kebanyakan siswa dari negara-negara OECD memperoleh skor literasi sains dan membaca yang relatif sama. Berikut ini adalah perbandingan kedua kemampuan:

Siswa-siswa yang mempertunjukkan kemampuan lebih baik dalam literasi sains dibandingkan dengan literasi membaca adalah siswa dari negara-negara Austria (507, 519), Bulgaria (430, 448), Cile (410, 415), Republik Cekoslovakia (492, 511), Hungaria (480, 496), Jepang (522, 550), Korea (525, 552), FYR Macedonia (373, 401) dan Inggris (523, 532). Siswa Indonesia berada dalam kelompok ini (367, 393)

Siswa-siswa yang memperlihatkan literasi membaca lebih baik daripada literasi sains adalah siswa dari negara-negara Argentina (418, 396), Belgia (507, 496), Kanada (534, 529), Denmark (497, 481), Finlandia (546, 538), Islandia (507, 496), Irlandia (527, 513), Israel (452, 434) dan Italia (487, 478).

Perbandingan Literasi Sains, Matematika, dan Membaca

Siswa dari beberapa negara secara meyakinkan berada di atas skor rata-rata negara-negara OECD dalam ketiga kemampuan dasar: membaca, matematika, dan sains, yaitu siswa dari Australia, Austria, Kanada, Finlandia, Jepang, Korea, New Zealand, Swedia, Inggris, dan satu-satunya negara non-OECD, Hong Kong-China.

Literasi membaca siswa Indonesia (371) lebih baik sedikit dibandingkan dengan literasi matematika (367), tetapi literasi sains yang paling baik (393). Pola yang sama juga terjadi pada siswa dari Peru (327, 292, 333) dan Polandia (479, 470, 483).

Sementara itu, siswa Albania menunjukkan kecenderungan literasi matematikanya lebih tinggi dari pada literasi sains dengan literasi membaca yang paling rendah (349, 381,376), mirip dengan pola siswa Jepang (522, 557, 550) dan Hong Kong-China (525, 560, 541).

Sedangkan siswa Brasil lebih menguasai literasi membaca dibandingkan dengan literasi sains, dengan literasi matematika yang paling rendah (396, 334, 375), sama seperti pola siswa dari Amerika Serikat (504, 493, 499) dan Yunani (474, 447, 461).

Siswa dari Thailand cenderung lebih baik literasi sains daripada literasi matematik, dengan literasi membaca yang paling rendah (431, 432, 436), serupa dengan pola siswa dari Korea (525, 547, 552) dan Austria (507, 515, 519).

Siswa dari Kanada adalah satu-satunya pola yang menunjukkan literasi membacanya yang lebih tinggi daripada literasi matematika, dengan literasi sains yang paling rendah (543, 533, 529).

Kalau pada negara-negara OECD variasi dalam rata-rata kemampuan siswa itu tergolong kecil untuk literasi sains dan lebih kecil lagi dalam literasi membaca, tidak halnya dengan siswa peserta dari negara non-OECD. Pada negara-negara ini, rentangan perbedaan yang jauh di antara siswa yang memperoleh skor tertinggi dengan skor terendah justru terdapat dalam literasi membaca dan literasi sains.

Kendati untuk negara-negara tersebut, termasuk untuk Indonesia, diperlukan penelitian lebih lanjut tentang penyebab terjadinya variasi skor yang terlalu jauh itu, boleh jadi proses pembelajaran matematika dan sains lebih berhubungan erat dengan materi yang diajarkan di sekolah dan tidak berhubungan dengan kemampuannya membaca. Oleh karena itu, kemungkinan besar, perbedaan sistem pendidikan dalam mengajarkan matematika dan sains inilah yang lebih berperan daripada pengaruh kemampuan membaca para siswa negara-negara berkembang ini.

One thought on “Literacy Science

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s