Energi dan Gempa Bumi

BAB I

PENDAHULUAN

Gempa bumi, (letusan) gunung berapi, dan tsunami sejak lama menimbulkan ketakutan dan (sekaligus) kekaguman dalam pikiran manusia, melahirkan mitos, legenda, dan banyak film bencana Hollywood. Kini, teknologi maju memungkinkan kita berlatih, mengukur, memantau, mengambil sampel, dan mencitra Bumi dan gerakannya seperti belum pernah terjadi sebelumnya.

Gempa demi gempa terkesan semakin rajin menyambangi Tanah Air. Di tengah era informasi dan maraknya industri media, serba hal mengenai gempa pun hadir ke jantung rumah tangga. Barangkali itu awal yang menarik bagi tumbuhnya minat terhadap ilmu-ilmu yang terkait dengan kegempaan, yang sebagian ada di ilmu geologi, juga di cabang-cabangnya, seperti seismologi, dan juga di geofisika. Harus diakui, hingga belum lama ini, ilmu tersebut masih sering dilihat dengan sebelah mata, sebagai ilmu yang kering dan kurang banyak manfaatnya untuk dipelajari.

Kini, dengan sering terjadinya gempa dan semakin tumbuhnya kesadaran bahwa Tanah Air berada di jalur gempa dan gunung api yang dikenal sebagai Cincin Api, masyarakat semakin menyadari pentingnya ilmu-ilmu di atas.

Untuk itu penulis tertarik membahas tentang gempa bumi sehingga kita bisa mengenal lebih jauh tentang gempa bumi itu sendiri, dimana yang akan dibahas nantinya yaitu:

  1. Magnitudo gempa
  2. Beberapa jenis skala gempa
  3. Energi gempa

Adapun tujuan makalah ini adalah untuk mendalami lagi apa itu Energi dan Gempa Bumi sehingga kita dapat menentukan besarnya energi yang dihasilkan oleh sebuah gempa.

BAB II

KAJIAN TEORI

  1. A. Kajian Teori tentang Energi

Energi adalah kemampuan suatu benda untuk melakukan usaha. Energi dapat memindahkan materi dari suatu tempat ke tempat lain. Energi mempunyai berbagai bentuk, diantaranya:  gerak, cahaya, panas, tenaga kimia, tenaga atom dsb.

Energi dapat diubah dari suatu bentuk ke bentuak lainnya. Perubahan benuk energi ini disebut transformasi energi. Misalnya energi potensial air (air terjun) dapa diubah menjadi energi listrik. Walaupun energi dapat diubah menjadi energi yang setara, tetapi energi itu tidak dapat dimusnahkan dan juga tidak dapat dibuat. Hal ini disebut Hukum Kekekalan Energi. Beberapa jenis energi:

  1. Energi Mekanik, merupakan hasil penjumlahan dari energi potensial dan energi kinetik.
  2. Energi panas, sering disebut kalor.
  3. Energi magnetik, merupakan energi yang tersimpan di dalam magnet.
  4. Energi nuklir, didapatkan apabila suatu atom pecah menjadi atom lain, dan pecahnya atom tersebut disertai pembebasan energi.
  5. Energi matahari, merupakan energi yang paling besar di alam ini.
  1. B. Kajian Teori tentang Gempa Bumi
    1. Definisi Gempa Bumi

Bumi kita walaupun padat, selalu bergerak, dan gempa bumi terjadi apabila tekanan yang terjadi karena pergerakan itu sudah terlalu besar untuk dapat di tahan oleh lempeng tektonik tersebut. Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi. Gempa bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). Proses pelepasan energi berupa gelombang elastis yang disebut gelombang seismik atau gempa yang sampai ke permukaan bumi dan menimbulkan  getaran dan kerusakan  terhadap benda benda atau bangunan di permukaan bumi. Besarnya kerusakan tergantung dengan besar dan lamanya getaran yang sampai ke permukaan bumi. Selain itu juga tergantung dengan kekuatan struktur bangunan.

Ilmu yang mempelajari gempa bumi disebut seismologi, dan alat untuk mengukur getaran gempa disebut seismograf.

2. Pengklasifikasian Gempa

Para ahli gempa mengklasifikasikan gempa menjadi dua kategori:

  1. Gempa  intra lempeng (intraplate), yaitu gempa yang terjadi di dalam lempeng itu sendiri,
  2. Gempa antar lempeng (interplate), yaitu gempa yang terjadi di batas antar dua lempeng.

Sebenarnya gempa bumi terjadi setiap hari, namun kebanyakan tidak terasa oleh manusia, hanya alat seismograph saja yang  dapat mencatatnya dan tidak semuanya menyebabkan kerusakan. Di Indonesia gempa merusak terjadi 3 sampai 5 kali dalam setahun.

Proses terjadinya gempa bumi dapat dilihat dari penyebab utama terjadinya gempa bumi. Ada 5 (lima) jenis gempa bumi yang dapat dibedakan menurut terjadinya, yaitu:

a. Gempa Tektonik

Seperti diketahui bahwa kulit bumi terdiri dari lempeng lempeng tektonik   yang terdiri dari lapisan-lapisan batuan. Tiap-tiap lapisan memiliki kekerasan dan massa jenis yang berbeda satu sama lain. Lapisan kulit bumi tersebut mengalami pergeseran  akibat arus konveksi yang terjadi di dalam bumi.

Gempa bumi tektonik disebabkan oleh perlepasan (tenaga) yang terjadi karena pergeseran lempengan plat tektonik seperti layaknya gelang karet ditarik dan dilepaskan dengan tiba-tiba. Tenaga yang dihasilkan oleh tekanan antara batuan dikenal sebagai kecacatan tektonik. Teori dari tektonik plate (plat tektonik) menjelaskan bahwa bumi terdiri dari beberapa lapisan batuan, sebagian besar area dari lapisan kerak itu akan hanyut dan mengapung di lapisan seperti salju. Lapisan tersebut begerak perlahan sehingga berpecah-pecah dan bertabrakan satu sama lainnya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya gempa tektonik.

Gambar 1. Proses Terjadinya Gempa Tektonik

a. Sesar aktif bergerak sedikit demi sedikit kearah yng saling berlawanan  Pada tahap ini terjadi  akumulasi energi elastis.
b. Pada tahap ini mulai terjadi deformasi sesar, karena energi elastis makin besar.
c. Pada tahap ini terjadi pelepasan energi secara mendadak sehingga terjadi peristiwa yang disebut gempa bumi tektonik.
d. Pada tahap ini sesar kembali mencapai tingkat keseimbangannya kembali. Pergeseran ini kian lama menimbulkan energi-energi stress yang sewaktu waktu terjadi   pelepasan energi yang mendadak. Peristiwa inilah yang disebut gempa tektonik yaitu peristiwa pelepasan energi secara tiba-tiba di dalam batuan sepanjang sesar atau patahan seperti terlihat dalam gambar.

Gempa bumi tektonik memang unik. Peta penyebarannya mengikuti pola dan aturan yang khusus dan menyempit, yakni mengikuti pola-pola pertemuan lempeng-lempeng tektonik yang menyusun kerak bumi. Dalam ilmu kebumian (geologi), kerangka teoretis tektonik lempeng merupakan postulat untuk menjelaskan fenomena gempa bumi tektonik yang melanda hampir seluruh kawasan, yang berdekatan dengan batas pertemuan lempeng tektonik. Contoh gempa tektonik ialah seperti yang terjadi di Yogyakarta, pada Sabtu, 27 Mei 2006 dini hari, pukul 05.54 WIB dan di Sumatra Barat, pada Rabu, 30 Sepetember 2009, pukul 17.16 WIB.

b. Gempa Vulkanik

Sesuai dengan namanya gempa vulkanik atau gempa gunung api merupakan peristiwa gempa bumi yang disebabkan oleh tekanan  magma dalam gunung berapi. Gempa ini dapat terjadi sebelum dan saat  letusan gunung api. Getarannya kadang-kadang dapat dirasakan oleh manusia dan hewan sekitar gunung berapi  itu berada. Perkiraaan meletusnya gunung berapi salah satunya  ditandai dengan sering  terjadinya getaran-getaran gempa vulkanik.

c. Gempa Runtuhan

Gempa runtuhan atau terban merupakan gempa bumi yang terjadi karena adanya runtuhan tanah atau batuan. Lereng gunung atau pantai yang curam memiliki energi potensial yang besar untuk runtuh, juga terjadi di kawasan tambang akibat runtuhnya dinding atau terowongan pada tambang-tambang bawah tanah sehingga dapat  menimbulkan getaran di sekitar daerah runtuhan, namun dampaknya tidak begitu membahayakan. Justru dampak yang  berbahaya adalah akibat  timbunan batuan atau tanah  longsor itu sendiri.

d. Gempa Jatuhan

Bumi merupakan  salah satu planet yang ada dalam susunan tata surya.  Dalam tata surya kita terdapat ribuan meteor atau batuan yang bertebaran mengelilingi orbit bumi. Sewaktu-waktu meteor tersebut jatuh ke atmosfir bumi dan kadang-kadang sampai ke permukaan bumi. Meteor yang jatuh ini akan menimbulkan getaran bumi jika massa meteor cukup besar. Getaran ini disebut gempa jatuhan, namun gempa ini jarang sekali terjadi.

Gambar 2. Kawah terletak dekat Flagstaff, Arizona, sepanjang 1,13 km akibat kejatuhan meteorite 50.000 tahun yang lalu dengan diameter 50 m.

e. Gempa Buatan

Suatu percobaan peledakan nuklir bawah tanah atau laut dapat menimbulkan getaran bumi yang dapat tercatat oleh seismograph seluruh  permukaan bumi tergantung dengan kekuatan ledakan, sedangkan ledakan dinamit di bawah permukaan bumi juga dapat menimbulkan getaran namun efek getarannya sangat lokal.

3. Zona Gempa

Zona gempa dunia terbagi atas dua jalur, yaitu:

  1. Jalur Circum Pasifik adalah  jalur wilayah dimana banyak terjadi gempa-gempa dalam dan juga gempa- gempa besar yang dangkal. Jalur ini terbentang mulai dari Sulawesi, Filipina, Jepang, dan kepulauan Hawai.
  2. Jalur Mediteranian adalah  jalur wilayah dimana banyak terjadi gempa-gempa besar yang membentang dari benua Amerika, Eropah, Timur Tengah, India, Sumatera, Jawa dan Nusa Tenggara.

Pada jalur inilah sering terjadi gempa-gempa tektonik dan juga vulkanik seperti pada gambar di bawah ini.

Gambar 3. Zona gempa dunia

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa kepulauan Indonesia merupakan daerah rawan gempa tektonik karena dilewati jalur gempa Mediteran dan Circum Pasifik.

4. Sejarah Gempa Bumi Besar pada Abad ke-20 dan 21

ü  30 September 2009, Gempa bumi Sumatera Barat merupakan gempa tektonik yang berasal dari pergeseran patahan Semangko, gempa ini berkekuatan 7,9 Skala Richter(BMG Amerika) mengguncang Padang-Pariaman, Indonesia. Menyebabkan sedikitnya 1.100 orang tewas dan ribuan terperangkap dalam reruntuhan bangunan.

ü  2 September 2009, Gempa Tektonik 7,3 Skala Richter mengguncang Tasikmalaya, Indonesia. Gempa ini terasa hingga Jakarta dan Bali, berpotensi tsunami. Korban jiwa masih belum diketahui jumlah pastinya karena terjadi Tanah longsor sehingga pengevakuasian warga terhambat.

ü  12 September 2007Gempa Bengkulu dengan kekuatan gempa 7,9 Skala Richter

ü  9 Agustus 2007Gempa bumi 7,5 Skala Richter

ü  6 Maret 2007Gempa bumi tektonik mengguncang provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Laporan terakhir menyatakan 79 orang tewas [3].

ü  27 Mei 2006Gempa bumi tektonik kuat yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006 kurang lebih pukul 05.55 WIB selama 57 detik. Gempa bumi tersebut berkekuatan 5,9 pada skala Richter. United States Geological Survey melaporkan 6,2 pada skala Richter; lebih dari 6.000 orang tewas, dan lebih dari 300.000 keluarga kehilangan tempat tinggal.

ü  8 Oktober 2005Gempa bumi besar berkekuatan 7,6 skala Richter di Asia Selatan, berpusat di Kashmir, Pakistan; lebih dari 1.500 orang tewas.

ü  26 Desember 2004Gempa bumi dahsyat berkekuatan 9,0 skala Richter mengguncang Aceh dan Sumatera Utara sekaligus menimbulkan gelombang tsunami di samudera Hindia. Bencana alam ini telah merenggut lebih dari 220.000 jiwa.

ü  26 Desember 2003 – Gempa bumi kuat di Bam, barat daya Iran berukuran 6.5 pada skala Richter dan menyebabkan lebih dari 41.000 orang tewas.

ü  21 Mei 2002 – Di utara Afganistan, berukuran 5,8 pada skala Richter dan menyebabkan lebih dari 1.000 orang tewas.

ü  26 Januari 2001India, berukuran 7,9 pada skala Richter dan menewaskan 2.500 ada juga yang mengatakan jumlah korban mencapai 13.000 orang.

ü  21 September 1999Taiwan, berukuran 7,6 pada skala Richter, menyebabkan 2.400 korban tewas.

ü  17 Agustus 1999 – barat Turki, berukuran 7,4 pada skala Richter dan merenggut 17.000 nyawa.

ü  25 Januari 1999 – Barat Colombia, pada magnitudo 6 dan merenggut 1.171 nyawa.

ü  30 Mei 1998 – Di utara Afganistan dan Tajikistan dengan ukuran 6,9 pada skala Richter menyebabkan sekitar 5.000 orang tewas.

ü  17 Januari 1995 – Di Kobe, Jepang dengan ukuran 7,2 skala Richter dan merenggut 6.000 nyawa.

ü  30 September 1993 – Di Latur, India dengan ukuran 6,0 pada skala Richter dan menewaskan 1.000 orang.

ü  12 Desember 1992 – Di Flores, Indonesia berukuran 7,9 pada skala richter dan menewaskan 2.500 orang.

ü  21 Juni 1990 – Di barat laut Iran, berukuran 7,3 pada skala Richter, merengut 50.000 nyawa.

ü  7 Desember 1988 – Barat laut Armenia, berukuran 6,9 pada skala Richter dan menyebabkan 25.000 kematian.

ü  19 September 1985 – Di Mexico Tengah dan berukuran 8,1 pada Skala Richter, meragut lebih dari 9.500 nyawa.

ü  16 September 1978 – Di timur laut Iran, berukuran 7,7 pada skala Richter dan menyebabkan 25.000 kematian.

ü  4 Maret 1977 – Vrancea, timur Rumania, dengan besar 7,4 SR, menelan sekitar 1.570 korban jiwa, diantaranya seorang aktor Rumania Toma Caragiu, juga menghancurkan sebagian besar dari ibu kota Rumania, Bukares (Bucureşti).

ü  28 Juli 1976 – Tangshan, Cina, berukuran 7,8 pada skala Richter dan menyebabkan 240.000 orang terbunuh.

ü  4 Februari 1976 – Di Guatemala, berukuran 7,5 pada skala Richter dan menyebabkan 22.778 terbunuh.

ü  29 Februari 1960 – Di barat daya pesisir pantai Atlantik di Maghribi pada ukuran 5,7 skala Richter, menyebabkan kira-kira 12.000 kematian dan memusnahkan seluruh kota Agadir.

ü  26 Desember 1939 – Wilayah Erzincan, Turki pada ukuran 7,9, dan menyebabkan 33.000 orang tewas.

ü  24 Januari 1939 – Di Chillan, Chile dengan ukuran 8,3 pada skala Richter, 28.000 kematian.

ü  31 Mei 1935 – Di Quetta, India pada ukuran 7,5 skala Richter dan menewaskan 50.000 orang.

ü  1 September 1923 – Di Yokohama, Jepang pada ukuran 8,3 skala Richter dan merenggut sedikitnya 140.000 nyawa.

  1. 5. Dampak Gempa

Dalam tulisan ini hanya memuat dampak dari gempa tektonik, karena tipe gempa tektonik adalah tipe gempa yang sering membahayakan jiwa dan raga manusia, juga kerugian harta benda. Ada dua dampak gempa tektonik yang berbahaya, yaitu dampak primer dan dampak skunder. Berikut adalah penjelasan dan contoh dari dampak gempa tektonik:

a. Dampak Primer

Dampak primer yaitu getaran gempa itu sendiri yang sampai ke permukaan bumi dan kalau getarannya cukup besar dapat merusak bangunan dan infra struktur lainnya seperti jalan dan  jembatan, rel kereta api, bendungan dan lain lain, sehingga menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta benda.

Beberapa contoh gambar dampak  primer gempa tektonik:

Gambar 4. Lingkungan kampus Universitas Negeri Padang, Gempa 30 September 2009

Gambar 5. Gempa di Kobe, Jepang bulan Januari 1995 merusak jalan kereta api express yang menghubungkan Kobe dan Osaka. Lebih dari 6400 orang meninggal

Gambar 6. Gempa dengan kekuatan 6.7 Skala Richter merobohkan  jalan bebas hambatan di Los Angeles pada bulan Januari 1994

b. Dampak Sekunder

Dampak sekunder yaitu terjadi tsunami, tanah yang menjadi cairan kental (liquefaction), kebakaran, penyakit dan sebagainya.

Contoh dampak sekunder dalam gambar:

Gambar 7. Gelombang Tsunami akibat gempa tektonik yang terjadi di Selat Sunda.

6. Strategi Mitigasi dan Upaya Pengurangan Bencana Gempa Bumi

Berdasarkan Panduan Pengenalan Karakteristik Bencana Dan Upaya Mitigasinya di Indonesia, Set BAKORNAS PBP dan Gempa bumi dan Tsunami, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral, ada beberapa poin strategi mitigasi dan upaya pengurangan bencana gempa bumi:

  1. Harus dibangun dengan konstruksi tahan getaran/gempa khususnya di daerah rawan gempa.
  2. Perkuatan bangunan dengan mengikuti standar kualitas bangunan.
  3. Pembangunan fasilitas umum dengan standar kualitas yang tinggi.
  4. Perkuatan bangunan-bangunan vital yang telah ada.
  5. Rencanakan penempatan pemukiman untuk mengurangi tingkat kepadatan hunian di daerah rawan gempa bumi.
  6. Zonasi daerah rawan gempa bumi dan pengaturan penggunaan lahan.
  7. Pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya gempa bumi dan cara-cara penyelamatan diri jika terjadi gempa bumi.
  8. Ikut serta dalam pelatihan program upaya penyelamatan, kewaspadaan masyarakat terhadap gempa bumi, pelatihan pemadam kebakaran dan pertolongan pertama.
  9. Persiapan alat pemadam kebakaran, peralatan penggalian, dan peralatan perlindungan masyarakat lainnya.
  10. Rencana kontinjensi/kedaruratan untuk melatih anggota keluarga dalam menghadapi gempa bumi.
  11. Pembentukan kelompok aksi penyelamatan bencana dengan pelatihan pemadaman kebakaran dan pertolongan pertama.
  12. Persiapan alat pemadam kebakaran, peralatan penggalian, dan peralatan perlindungan masyarakat lainnya.
  13. Rencana kontinjensi/kedaruratan untuk melatih anggota keluarga dalam menghadapi gempa bumi.

BAB III

PEMBAHASAN

A. Magnitudo Gempa

Magnitudo gempa adalah sebuah besaran yang menyatakan besarnya energi seismik yang dipancarkan oleh sumber gempa. Besaran ini akan berharga sama, meskipun dihitung dari tempat yang berbeda. Secara umum, magnitudo dapat dihitung menggunakan formula berikut:

dengan M adalah magnitudo, a adalah amplitudo gerakan tanah (dalam mikrometer), T adalah periode gelombang, Δ adalah jarak pusat gempa atau episenter, h adalah kedalaman gempa, CS, dan CR adalah faktor koreksi yang bergantung pada kondisi lokal & regional daerahnya.

Selain Skala Richter di atas, ada beberapa definisi magnitudo yang dikenal dalam kajian gempa bumi adalah MS yang diperkenalkan oleh Guttenberg menggunakan fase gelombang permukaan gelombang Rayleigh, mb (body waves magnitudo) diukur berdasar amplitudo gelombang badan, baik P maupun S.

Ada beberapa jenis magnitudo, yaitu:

1.      Magnitudo Lokal

Magnitudo lokal ML diperkenalkan oleh Richter untuk mengukur magnitudo gempa-gempa lokal, khususnya di California Selatan. Nilai amplitudo yang digunakan untuk menghitung magnitudo lokal adalah amplitudo maximum gerakan tanah (dalam mikron) yang tercatat oleh seismograph torsi (torsion seismograph) Wood-Anderson, yang mempunyai periode natural = 0,8 sekon, magnifikasi (perbesaran) = 2800, dan faktor redaman = 0,8. Jadi formula untuk menghitung magnitudo lokal tidak dapat diterapkan di luar California dan data amplitudo yang dipakai harus yang tercatat oleh jenis seismograph di atas.

2.      Magnitudo gelombang badan

Magnitudo gempa yang diperoleh berdasar amplitudo gelombang badan (P atau S) disimbulkan dengan mb. Dalam prakteknya (di USA), amplitudo yang dipakai adalah amplitudo gerakan tanah maksimum dalam mikron yang diukur pada 3 gelombang yang pertama dari gelombang P (seismogram periode pendek, komponen vertikal), dan periodenya adalah periode gelombang yang mempunyai amplitudo maksimum tersebut. Sudah tentu rumus yang dipakai untuk menghitung mb ini dapat digunakan disemua tempat (universal). Tapi perlu dicatat bahwa faktor koreksi untuk setiap tempat (stasiun gempa) akan berbeda satu sama lain.

3.      Magnitudo gelombang permukaan

Magnitudo yang diukur berdasar amplitudo gelombang permukaan disimbulkan dengan MS. secara praktis (di USA) amplitudo gerakan tanah yang dipakai adalah amplitudo maksimum gelombang permukaan, yaitu gelombang Rayleigh (dalam mikron, seismogram periode panjang, komponen vertikal, periode sekon) dan periodenya diukur pada gelombang dengan amplitudo maksimum tersebut.

Hubungan antar magnitudo

Dalam menentukan magnitudo, tidak ada keseragaman materi yang dipakai kecuali rumus umumnya, yaitu persamaan diatas tadi. Untuk menentukan mb misalnya, orang dapat memakai data amplitudo gelombang badan (P dan S) dari sebarang fase seperti P, S, PP, SS, pP, sS (yang jelas dalam seismogram). Seismogram yang dipakai pun dapat dipilih dari komponen vertikal maupun horisontal (asal konsisten). Demikian juga untuk penentuan MS. Oleh karena itu, kiranya dapat dimengerti bahwa magnitudo yang ditentukan oleh institusi yang berbeda akan bervariasi, walaupun mestinya tidak boleh terlalu besar.

Namun demikian, tampaknya ada hubungan langsung antara mb dan MS, yang secara empiris ditulis sebagai: mb = 0.56MS + 2,9

B. Beberapa Jenis Skala Gempa
1. Skala MMI (Mercalli Modify Intensity)

Sebelumnya, satuan gempa dinyatakan dengan skala Mercalli (ditemukan tahun 1902 oleh orang Italia, bernama G.Mercalli), terbagi menjadi 12 skala berdasarkan informasi dari orang-orang yang selamat dari gempa bumi. Artinya skala Mercalli ini amat Subjektif. Skala ini dimodifikasi pada tahun 1931 oleh ahli gempa H. Wood dan F Neumann. Skala MMI (Mercalli Modify Intensity) hingga kini masih digunakan terutama jika tidak ada peralatan seismograf yang digunakan.

Skala MMI adalah sebagai berikut :

  1. Skala 1, Tidak terasa
  2. Skala 2, Terasa oleh orang yang berada di bangunan tinggi
  3. Skala 3, Getaran dirasakan seperti ada kereta yang berat melintas.
  4. Skala 4, Getaran dirasakan seperti ada benda berat yang menabrak dinding rumah, benda tergantung bergoyang.
  5. Skala 5, Dapat dirasakan di luar rumah, hiasan dinding bergerak, benda kecil di atas rak mampu jatuh.
  6. Skala 6, Terasa oleh hampir semua orang, dinding rumah rusak.
  7. Skala 7, Dinding pagar yang tidak kuat pecah, orang tidak dapat berjalan/berdiri.
  8. Skala 8, Bangunan yang tidak kuat akan mengalami kerusakan.
  9. Skala 9, Bangunan yang tidak kuat akan mengalami kerusakan tekuk.
  10. Skala 10, Jambatan dan tangga rusak, terjadi tanah longsor.
  11. Skala  11, Rel kereta api rusak.
  12. Skala 12, Seluruh bangunan hancur dan hancur lebur.

2. Skala Richter

Skala Richter adalah skala yang digunakan untuk memperlihatkan besarnya kekuatan gempa. Alat yang digunakan untuk mencatat Skala Richter disebut seismograf. Skala Richter pada mulanya hanya dibuat untuk gempa-gempa yang terjadi di daerah Kalifornia Selatan saja. Namun dalam perkembangannya skala ini banyak diadopsi untuk gempa-gempa yang terjadi di tempat lainnya.

Skala Richter ini hanya cocok dipakai untuk gempa-gempa dekat dengan magnitudo gempa di bawah 6,0. Di atas magnitudo itu, perhitungan dengan teknik Richter ini menjadi tidak representatif lagi.

Skala Richter atau SR didefinisikan sebagai logaritma (basis 10) dari amplitudo maksimum, yang diukur dalam satuan mikrometer, dari rekaman gempa oleh instrumen pengukur gempa (seismometer) Wood-Anderson, pada jarak 100 km dari pusat gempanya. Sebagai contoh, misalnya kita mempunyai rekaman gempa bumi (seismogram) dari seismometer yang terpasang sejauh 100 km dari pusat gempanya, amplitudo maksimumnya sebesar 1 mm, maka kekuatan gempa tersebut adalah log (10 pangkat 3 mikrometer) sama dengan 3,0 skala Richter. Skala ini diusulkan oleh fisikawan Charles Richter.

Ukuran Kekuatan Skala Richter & Akibat Yang Ditimbulkannya :

  1. < 2.0 (kurang dr 2 SR)  Gempa kecil , tidak terasa
  2. 2.0-2.9  Tidak terasa, namun terekam oleh alat
  3. 3.0-3.9  Seringkali terasa, namun jarang menimbulkan kerusakan
  4. 4.0-4.9  Dapat diketahui dari bergetarnya perabot dalam ruangan, suara gaduh bergetar. Kerusakan tidak terlalu signifikan.
  5. 5.0-5.9  Dapat menyebabkan kerusakan besar pada bangunan pada area yang kecil. Umumya kerusakan kecil pada bangunan yang didesain dengan baik
  6. 6.0-6.9  Dapat merusak area hingga jarak sekitar 160 km
  7. 7.0-7.9  Dapat menyebabkan kerusakan serius dalam area lebih luas lbh dr 160km.
  8. 8.0-8.9  Dapat menyebabkan kerusakan serius hingga dalam area ratusan mil (mile)
  9. 9.0-9.9  Menghancurkan area ribuan mil.
  10. > 10.0  (lebih dr 10 SR) Belum pernah terekam.

Ket : 1 mil Jerman sama dengan ukuran mil internasional, yang berbeda adalah
ukuran mil Inggris, mil laut, dan mil geografis, yang digunakan di Indonesia adalah mil Belanda, yakni 1 mil = 1000 meter.

Gambar 7. Alat Seismograf

3. MMS (Moment Magnitude Scale)

Pada tahun 1979 pakar gempa yang lain yaitu Hiroo Kanamori dan Tom Hanks mencoba mencari jenis skala lain yang dapat mengambarkan kekuatan dan tingkat kerusakan sebuah gempa. Lahirlah skala gempa yang disebut MMS (Moment Magnitude Scale).

MMS menyatakan besarnya energi yang dilepaskan oleh sebuah gempa, dan jika di bandingkan dengan skala Richter, maka skala MMS cocok digunakan untuk gempa diatas 3,5 Skala Richter.

Gambar 8. Moment Magnitude Scale

C.    Energi gempa

Kekuatan gempa disumbernya dapat juga diukur dari energi total yang dilepaskan oleh gempa tersebut. Energi yang dilepaskan oleh gempa biasanya dihitung dengan mengintegralkan energi gelombang sepanjang kereta gelombang (wave train) yang dipelajari (misal gelombang badan) dan seluruh luasan yang dilewati gelombang (bola untuk gelombang badan, silinder untuk gelombang permukaan), yang berarti mengintegralkan energi keseluruh ruang dan waktu. Berdasar perhitungan energi dan magnitudo yang pernah dilakukan, ternyata antara magnitudo dan energi mempunyai relasi yang sederhana, yaitu: logE = 4,78 + 2,57mb dengan satuan energi dyne cm atau erg. Berdasar persamaan tersebut, kenaikan magnitudo gempa sebesar 1 skala richter akan berkaitan dengan kenaikan amplitudo yang dirasakan disuatu tempat sebesar 10 kali, dan kenaikan energi sebesar 25 sampai 30 kali. Untuk mendapatkan gambaran seberapa besar energi yang dilepaskan pada suatu kejadian gempa, kita dapat menggunakan persamaan di atas untuk menghitung energi gempa yang mempunyai magnitudo mb = 6.8. Perhitungan energi ini akan menghasilkan angka sebesar 1022 erg = 1015 joule = 278 juta kWh. Angka ini mendekati energi listrik yang dihasilkan oleh generator berkekuatan 32 mega watt selama 1 tahun. Jadi untuk gempa dengan magnitudo 7.8, energinya menjadi kurang lebih 30 kali lipat dari itu (30 x 278 juta kWh).

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

  1. Energi adalah kemampuan suatu benda untuk melakukan usaha.
  2. Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi. Gempa bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). Ilmu yang mempelajari gempa bumi disebut seismologi, dan alat untuk mengukur getaran gempa disebut seismograf.
  3. Magnitudo gempa adalah sebuah besaran yang menyatakan besarnya energi seismik yang dipancarkan oleh sumber gempa.
  4. Ada beberapa jenis skala gempa yaitu: skala MMI (Mercalli Modify Intensity), Skala Richter, dan MMS (Moment Magnitude Scale).

B. Saran

Sebagai wilayah yang merupakan rawan gempa, karena dilewati jalur gempa Mediteran dan Circum Pasifik, maka kita wajib selalu waspada terhadap datangnya musibah gempa bumi.  Untuk itu mari sama-sama mengupayakan untuk mengurangi dampak dari bencana gempa, seperti mengikuti sosialisasi gempa ataupun lebih banyak membaca sehingga kita tahu segala sesuatunya tentang gempa.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Gempa Bumi. http://rapi-nusantara.net/info-penting/artikel-gempa-bumi.html. . Artikel. Diakses tanggal 15 Oktober 2009.

Anonim. 2009. Skala Ritcher vs MMS. http://b0cah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=361&Itemid=56. Diakses tanggal 18 Oktober 2009.

Koran Facebook. 2009.  Skala Richter. http://www.facebook.com/home.php?ref=home#/note.php?note_id=179790184531&ref=nf. Diakses tanggal 18 Oktober 2009.

Pustekkom. 2006. Gempa Bumi. http://www.e-dukasi.net/pengpop/pp_full.php?ppid=216. Diakses tanggal 15 Oktober 2009.

Wikipedia. 2009. Gempa Bumi. http://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi. Diakses tanggal 15 Oktober 2009.

Wikipedia. 2009. Magnitudo Gempa. http://id.wikipedia.org/wiki/Magnitudo_gempa. Diakses tanggal 15 Oktober 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s