Manajemen Implementasi Inovasi Pendidikan IPA

Disampaikan dalam presentasi MK Supervisi Pendidikan IPA (17/12/12)
Program Doktor Pendidikan IPA
SPs Universitas Pendidikan Indonesia

I. PENDAHULUAN

“It has often been said that the only constant in the world is change.” Maksudnya adalah yang konstan di dunia ini hanyalah perubahan. Oleh karena itu, inovasi dalam bidang pendidikan selalu menjadi topik yang hangat dibicarakan dari masa ke masa. Seperti halnya upaya pemerintah yang terus memperbaiki kurikulum hingga kini yang telah disiapkan adalah Kurikulum 2013. Pengembangan kurikulum 2013, selain untuk memberi jawaban terhadap beberapa permasalahan yang melekat pada kurikulum 2006, bertujuan juga untuk mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan (mempresentasikan), apa yang diperoleh atau diketahui setelah siswa menerima materi pembelajaran (Sisdiknas, 2012).
Seperti kita mempersiapkan siswa untuk kesuksesan masa depannya, kita juga harus menyiapkan mereka untuk menghadapi tantangan globalisasi. Dengan membangun budaya inovasi dalam pendidikan, kita dapat meningkatkan peluang kesuksesan siswa dalam belajar, mengembangkan keinginan untuk merangkul adopsi dan adaptasi teknologi untuk kebutuhan belajar, dan meningkatkan keterlibatan siswa dalam belajar.
Inovasi adalah pendorong pertumbuhan dan kesejahteraan, teknologi baru, produk, dan jasa, dan menciptakan lapangan kerja di industri-industri baru. Kata inovasi diterjemahkan dari Bahasa Inggris yang artinya segala hal yang baru atau pembaharuan. Menurut La Piere inovasi adalah “An idea for accomplishing some recognize social end in a new way or for a means of accomplishing some new social end.” Hal senada juga dikemukakan oleh M. Rogers, “an innovation is an idea, practice, or object that is perceived as new by an individual or other unit of adoption.” Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa inovasi adalah suatu ide, hal-hal yang praktis, cara yang diamati atau dirasakan sebagai suatu yang baru bagi seseorang atau kelompok orang (masyarakat).
Pertanyaan lain yang muncul tatkala membahas inovasi pendidikan yaitu apa saja karakteristik inovasi Pendidikan IPA? Bagaimana pendekatan inovasi Pendidikan IPA? Apa saja lesson learnt Pendidikan IPA? Faktor strategis apa saja yang ada dalam implementasi inovasi pendidikan IPA? Berikut penulis akan mencoba memaparkannya secara urut.

II. PEMBAHASAN

A. Karakteristik Inovasi Pendidikan IPA
Inovasi pendidikan adalah: suatu ide, barang, metode, yang dirasakan dan diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang dan kelompok orang (masyarakat) baik berupa hasil envensi atau diskoveri, yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan (Ibrahim, 1988). Cepat lambatnya penerimaan inovasi oleh masyarakat luas dipengaruhi oleh karakteristik inovasi itu sendiri. Misalnya penyebar luasan penggunaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dalam kurun waktu kurang lebih 3-6 tahun sudah merata di keseluruhan Indonesia. Rogers (1983) mengemukakan karakteristik inovasi yang dapat mempengaruhi cepat lambatnya penerimaan inovasi, sebagai berikut ini.
1. Keuntungan relatif (relative advantage), yaitu sejauh mana inovasi dianggap menguntungkan bagi penerimanya. Tingkat keuntungan atau kemanfaatan suatu inovasi diukur berdasarkan nilai ekonominya, atau mungkin dari faktor status sosial (gengsi), kesenangan, kepuasan, atau karena mempunyai komponen yang sangat penting. Makin menguntungkan bagi penerimanya makin cepat tersebarnya inovasi.
2. Kompatibel (compability), yaitu tingkat kesesuaian inovasi dengan nilai (values), pengalaman lalu, dan kebutuhan dari penerima. Inovasi yang tidak sesuai dengan nilai atau norma yang diyakini oleh penerima tidak akan diterima secepat inovasi yang sesuai dengan norma yang ada.
3. Kompleksitas (Complexity), yaitu tingkat kesukaran untuk memahami dan menggunakan inovasi bagi penerima. Suatu inovasi yang mudah dimengerti dan mudah digunakan oleh penerima akan cepat tersebar, sedangkan inovasi yang sukar dimengerti atau sukar digunakan oleh penerima akan lambat proses penyebaranya. Makin mudah dimengerti suatu inovasi akan makin cepat diterima oleh masyarakat.
4. Triabilitas (Triability), yaitu dapat dicoba atau tidaknya suatu inovasi oleh penerima. Suatu inovasi yang dicoba akan cepat diterima oleh masyarakat daripada inovasi yang tidak dapat dicoba lebih dahulu.
5. Dapat diamati (Observability), yaitu mudah tidaknya diamati suatu hasil inovasi. Suatu inovasi yang hasilnya mudah diamati akan makin cepat diterima oleh masyarakat, dan sebaliknya.
Temuan penelitian Tornatzky dan Klein (1982) bahwa penerimaan inovasi dipengaruhi oleh atribut sebagai berikut ini: 1) kompatibel (compability); 2) keuntungan relatif (relative advantage); 3) kompleksitas (complexity); 4) pembiayaan (cost) yaitu jika lebih murah pembiayaan sebuh inovasi maka akan lebih mudah diadopsi dan diimplementasikan ; 5) penularan (communicability) sejauh mana sebuah inovasi dapat mudah disampaikan kepada orang lain; 6) divisibel (divisibility) yaitu sejauh mana sebuah inovasi dapat dicoba sebelum diadopsi; 7) profitabel (profitability) yaitu tingkat keuntungan yang diperoleh dari penerapan; 8) social approval yaitu status yang didapat tidak berupa finansial tetapi hadiah (reward); 9) triabilitas (triability); dan 10) dapat diamati (obsevability).
Demikian berbagai macam atribut inovasi yang dapat mempengaruhi cepat atau lambatnya penerimaan suatu inovasi. Dengan memahami atribut tersebut para pendidik dapat menganalisa inovasi pendidikan IPA yang akan atau sedang disebarluaskan, sehingga dapat memanfaatkan hasil analisisnya untuk membantu mempercepat proses penerimaan inovasi.

B. Pendekatan-pendekatan Inovasi Pendidikan IPA
Ketika ingin menggambarkan inovasi dalam belajar mengajar, mungkin akan membantu jika terlebih dahulu menceritakan pendekatan pengajaran tradisional. Pendekatan mengajar tradisional dicirikan dengan “direct transmission” yaitu guru mengkomunikasikan pengetahuan secara jelas dan terstruktur serta menunjukkan dan menjelaskan solusi. Sedangkan pendekatan belajar dan mengajar dianggap inovatif jika berpusat pada siswa atau konstruktivis. Kurikulum ditekankan kepada perkembangan pemikiran, keterampilan penalaran dan kemampuan mensintesis pengetahuan. Guru dapat menyesuaikan program belajar sesuai kebutuhan dan kepentingan siswa (Looney 2009).
Selain itu ada juga perubahan pandangan pada penilaian berbasis kelas. Penilaian tradisional dipandang sebagai alat untuk membuat penilaian sumatif. Namun belakangan penilaian formatif menjadi sebuah inovasi baru yang memungkinkan guru untuk mengidentifikasi kesenjangan dalam belajar siswa dan beradaptasi untuk mengajar dengan tepat. Pendekatan ini sesuai dengan tujuan negara-negara Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk mempromosikan belajar seumur hidup (lifelong learning).
Tema-tema yang luas dalam pembelajaran dan penilaian dipandang sebagai pendukung siswa “learning for the 21th century”, dan semakin tertanam dalam kebijakan nasional di negara-negara maju yang tergabung dalam OECD. Beberapa contoh pendekatan inovasi pendidikan yang dilakukan negara-negara OECD (Looney, 2009), sebagai berikut ini.
1. Beberapa negara mempromosikan pengembangan kompetensi sebagai kunci dalam kerangka kurikulum nasional [Austria, Belgia, Republik Ceko, Perancis, Finlandia, Jerman, Hungaria, Italia, Luksemburg, Selandia Baru, Norwegia, Swiss, dan Inggris].
2. Cross-curricular, atau studi terintegrasi semakin umum [Belgia, Jepang, Korea, Belanda, Polandia, Swiss, Swedia, Turki dan Inggris]. Kerangka kurikulum nasional mendorong pengajaran dengan basic literacy dan numeracy skill dalam konteks mata pelajaran lain. Berkembangnya arus kejuruan dan akademik yang terintegrasi. Siswa memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam proyek-proyek interdisiplin. Penekanan ini membantu siswa untuk mengembangkan kapasitas dalam mensintesis pengetahuan dari berbagai disiplin.
3. Beberapa negara mempromosikan konstruktivis, pendekatan berpusat pada siswa dalam pedoman kurikulum dan program pengembangan profesional [Kanada, Finlandia, Irlandia, Jepang, Korea, Turki].
4. Beberapa negara memiliki kebijakan mempromosikan penggunaan penilaian formatif sebagai cara membangun keterampilan siswa untuk penilaian diri (self-assessment) dan belajar untuk belajar (learning to learn) untuk meningkatkan prestasi terutama bagi siswa yang berperforma rendah [Australia, Kanada, Denmark, Finlandia, Irlandia, Italia, Selandia Baru, Swiss, Turki, dan Inggris] (OECD, 2005).
5. Inisiatif untuk personalisasi belajar (personalization of learning), termasuk kebebasan yang lebih besar dalam kurikulum [Perancis, Hungaria, Jepang dan Inggris].
6. Kebijakan-kebijakan nasional yang mendukung pengembangan sekolah dan program spesialis [Australia, Belanda, dan Inggris].
7. Penekanan tentang pentingnya mengembangkan siswa yang melek TIK (ICT literate), yang digunakan sebagai alat untuk belajar.
Jika kita perhatikan lagi, sebenarnya beberapa pendekatan inovasi pendidikan yang diterapkan oleh Negara OECD telah lama dikembangkan di Indonesia. Hal ini tergambar semenjak tahun 2004 dengan keluarnya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), kemudian disempurnakan lagi dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Seiring dengan zaman yang terus berubah, kini pemerintah melalui Kemdikbud telah menyiapkan Kurikulum 2013 yang sudah memasuki tahap uji publik untuk menanggapi paradigma belajar abad 21.
Tema pengembangan kurikulum 2013 adalah dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi. Diakui dalam perkembangan kehidupan dan ilmu pengetahuan abad 21, kini memang telah terjadi pergeseran baik ciri maupun model pembelajaran. Inilah yang diantisipasi pada kurikulum 2013 (Sisdiknas, 2012). Skema 1 menunjukkan pergeseran paradigma belajar abad 21 yang berdasarkan ciri abad 21 dan model pembelajaran yang harus dilakukan.

Gambar 1. Skema pergeseran paradigma belajar abad 21 (Sisdiknas, 2012)

Setelah melihat inovasi pendidikan yang bersifat general tercermin dalam kurikulum, berikutnya penulis coba mengerucutkannya pada inovasi pendidikan IPA. Seperti apakah inovasi dalam pendidikan atau pembelajaran IPA? Menurut Liliasari (2012) pembelajaran IPA yang inovatif adalah proses pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi untuk aktif, kreatif, mandiri sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik dan psikologis siswa. Pendekatan inovasi Pendidikan IPA dapat melalui guru, siswa, bahan ajar, asesmen dan model pembelajaran.
1. Melalui guru. Inovasi yang harus dilakukan guru IPA adalah: a) perubahan dari awalnya menerapkan model menjadi merancang model sendiri; b) perubahan dari yang awalnya memandu siswa menjadi menantang siswa belajar/berkreasi; c) perubahan dari guru bertanya menjadi mendorong siswa bertanya; dan d) perubahan dari awalnya memperkenalkan IPA menjadi membuat IPA misteri untuk ditemukan siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Osborne (2007) bahwa guru menjadi lebih sukses ketika kegiatan pembelajaran memberi tempat bagi siswa untuk mengembangkan pengetahuan mereka. Oleh karena itu, tidak cukup hanya mengubah kurikulum, kita juga harus mengubah pedagogi guru IPA. Pemahaman tentang ide pembelajaran IPA mengarah ke kanan pada spektrum yang ada pada dimensi praktek yang mempengaruhi pedagogi guru ketika mengajar IPA seperti pada gambar 2 berikut.

Gambar 2. Dimensi praktek yang mempengaruhi pedagogi guru ketika mengajar IPA (Osborne, 2007)

2. Melaui siswa. Pembaharuan belajar IPA yang diharapkan dari siswa adalah: a) perubahan dari pengetahuan menjadi kompetensi; b) perubahan dari aktivitas guru menjadi aktivitas siswa; c) perubahan dari menghapal menjadi berpikir; d) perubahan dari menerima menjadi menemukan; dan e) perubahan dari belajar sendiri menjadi berkolaborasi.
3. Melalui bahan ajar. Inovasi bahan ajar IPA dengan adanya buku, LKS, soal-soal, internet, audio-video, majalah dan software.
4. Melalui asesmen pembelajaran IPA yaitu: a) perubahan asesmen yang berorientasi hasil menjadi asesmen proses dan hasil; b) perubahan dari satu jenis asesmen menjadi multiple asesmen; c) perubahan dari asesmen sumatif menjadi asesmen formatif dan sumatif, dan d) perubahan dari asesmen kognitif menjadi asesmen kognitif, afektif dan psikomotor.
5. Beberapa model pembelajaran inovatif yang sesuai untuk Pendidikan IPA diantaranya yaitu:
a. Pembelajaran inkuiri dengan karakteristik yaitu: a) membangun rasa ingin tahu, b) siswa lebih banyak bertanya, c) pembelajaran lebih menantang, d) IPA sebagai misteri, dan e) keterampilan bertanya kritis.
b. Pembelajaran kontekstual dengan karakteristik yaitu: a) bertolak dari kehidupan sehari-hari, b) berbasis nilai/norma, c) aplikasi IPA dalam kehidupan, d) kesejahteraan manusia dan lingkungan, dan e) menghindari dampak negatif.
c. Pembelajaran tematik dengan karakteristik yaitu: a) berbasis tema kehidupan sehari-hari, b) hubungan antar disiplin IPA, dan c) belajar di dalam dan luar jam pembelajaran.
d. Pembelajaran kreatif-produktif dengan karakteristik yaitu: a) berbasis konstruktivisme, b) modifikasi siklus belajar, c) penerapan asimilasi-akomodasi, d) aplikasi konsep (interpretasi & re-kreasi), dan e) efek ringan berpikir kritis & kreatif.
e. Pembelajaran berpikir tingkat tinggi dengan karakteristik yaitu: a) efek ringan berpikir tingkat tinggi, mengembangkan berpikir IPA, dan berbasis TIK.
Melalui berbagai macam pendekatan tersebut di atas, di¬harapkan siswa memiliki kom-petensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang jauh lebih ba¬ik melalui Pendidikan IPA. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif.

C. Lesson Learnt
Dalam inovasi pendidikan, secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua buah model inovasi yang baru yaitu top-down model dan bottom-up model (Gunawan, 2010). Top-down model yaitu inovasi pendidikan yang diciptakan oleh pihak tertentu sebagai pimpinan/atasan yang diterapkan kepada bawahan; seperti halnya inovasi pendidikan yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat melalui Kemdikbud, misalnya perubahan kurikulum KTSP menjadi Kurikulum 2013 yang saat ini sudah memasuki tahap uji publik. Bottom-up model yaitu model inovasi yang bersumber dan hasil ciptaan dari bawah dan dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan penyelenggaraan dan mutu pendidikan.
Berikut akan dikaji beberapa top-down model inovasi Pendidikan IPA, diantaranya yaitu SEQIP, lesson study, dan Pendidikan Guru Bertaraf Internasional Bidang MIPA.

1. Science Education Quality Improvement Project (SEQIP)
SEQIP (Science Education Quality Improvement Project atau Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam) adalah proyek bilateral Indonesia-Jerman yang bermaksud meningkatkan mutu pengajaran IPA di sekolah dasar dengan berbagai sumber belajar. SEQIP bertujuan menciptakan suasana pembelajaran IPA yang menyenangkan, aktif, kreatif, dan efektif. Bagaimana caranya? Caranya yaitu dengan learning by doing, siswa tidak menghapal tetapi memahami sehingga menguasai dan menerapkan IPA dalam kehidupan sehari-hari serta berinteraksi dengan lingkungan secara berkesinambungan agar dapat membangun dasar yang kuat untuk pembelajaran IPA selanjutnya.
Instrumen SEQIP untuk meningkatkan mutu Pendidikan IPA melalui pelatihan, bantuan profesional untuk guru, sistem peralatan, bahan tertulis, sistem ujian, dan sistem pemeliharaan. Cara kerja SEQIP yaitu: a) mempengaruhi secara simultan pada tingkat yang berbeda (departemen, provinsi, kabupaten dan sekolah); b) membantu secara simultan, melalui beberapa instrument untuk memperbaiki kelemahan utama. Sistem peralatan berdasarkan kurikulum nasional. Tujuan utama: memungkinkan percobaan dan kegiatan siswa yang mendukung pembelajaran yang berpusat pada siswa. Sistem ini meliputi kit guru, kit murid, dan buku percobaan IPA. Data tentang SEQIP (Kerjasama Bilateral) sebagai berikut.
Tahap pelaksanaan : April 1994 – Desember 2005
Provinsi yang terlibat : 17
Sekolah yang terkait : 33.160
Konsultan lokal yang dilatih : 178
Ka. SD dan Pengawas yang dilatih : 35.000
PBS yang dilatih : 5.525
Guru yang dilatih : 66.000
Murid yang terlibat : 4,0 juta
Kit murid yang didistribusikan : 18.000
Kit guru yang didistribusikan : 36.000
Kerjasama teknis : 10,7 juta Euro
Kerjasama keuangan : 22,7 juta Euro
(Sumber: Tim Konsultan SEQIP)

2. Lesson Study
Lesson Study diperkenalkan di Indonesia melalui kegiatan piloting yang dilaksanakan dalam proyek follow-up IMSTEP-JICA di tiga perguruan tinggi yaitu UPI, UNY, dan UM. Di UM sendiri lessson study diperkenalkan di Malang secara formal oleh JICA expert Eisoke Saito, Ph.D. pada bulan januari 2004, selanjutnya diikuti kegiatan pengimplementasian lesson study di SMA labotarium Universitas Negeri Malang (I Made Sulandra, 2006). Lesson Study merupakan hal yang baru bagi sebagian sebagian besar guru. Lesson Study diadopsi dari Jepang dan diuji cobakan di beberapa sekolah sebagai pilot project, diantaranya Bandung (dibawah UPI), di Yogyakarta (dibawah UNY), dan di Malang (dibawah UM).
Di Jepang para guru dapat meningkatkan ketrampilan/kecakapan dalam mengajarnya melalui kegiatan Lesson Study, yakni belajar dari suatu pembelajaran. Lesson study adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkesinambungan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar (Undang, 2009). Lesson study merupakan salah satu bentuk pembinaan guru (in-service) yang dapat dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme guru. Jadi, lesson study bukan suatu strategi atau metode dalam pembelajaran, melainkan merupakan salah satu upaya pembinaan untuk meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan sekelompok guru.
Lesson Study mulai diterapkan pada tahun 2004 yang hasilnya menunjukkan terjadinya peningkatan profesionalisme guru dalam melakukan pembelajaran di sekolah, meningkatkan kolaborasi akademik dan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Efektifitas dan efisiensi program Lesson Study yang ditunjang oleh kegiatan monitoring dan evaluasi (MONEV) dengan menggunakan rekaman audiovisual, sehingga para guru dapat mengkaji mutu pembelajaran berdasarkan data dan fakta yang sesungguhnya.
Jadi, Lesson Study dipilih sebagai salah satu cara untuk meningkatkan proses pembelajaran, dimana seorang guru mengajak kerjasama guru yang lain. Kerjasama tersebut dimulai dari merancang pembelajaran, melaksanakan dan mengamati proses pembelajaran, serta melakukan diskusi/ refleksi terhadap pelajaran yang dilakukan. Ada empat tahapan pelaksanaan Lesson study adalah Plan-Do-See-Reflection.

3. Pendidikan Guru Bertaraf Internasional Bidang MIPA
Latar belakang dikembangkan satuan pendidikan bertaraf internasional adalah Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 50 ayat 3 menyebutkan bahwa Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan. Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) adalah sekolah yang memenuhi seluruh Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan muatan-muatan yang mengacu pada standar pendidikan dari sekurang-kurangnya satu negara anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan sehingga memiliki daya saing di tingkat internasional (SNP + X).
Sesuai dengan amanat Undang-undang tersebut pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) sejak tahun 2004 telah mengembangkan program rintisan SBI untuk memfasilitasi Sekolah yang berpotensi menjadi SBI. Salah satu komponen yang perlu dikembangkan untuk mewujudkan SBI adalah pendidik. Kompetensi pendidik SBI harus memenuhi standar kompetensi pendidik yang sesuai dengan standar nasional pendidikan yang diperkaya dengan standar kompetensi pendidik yang berstandar internasional.
Rencana strategis (Renstra) Depdiknas tahun 2004-2009 mentargetkan bahwa di setiap kabupaten/kota (sekitar 440 buah) harus diselenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional. Sampai dengan tahun 2007 Depdiknas telah memberikan block grant kepada 200 SMA, 112 SMK, 200 SMP dan 38 SD untuk membantu sekolah-sekolah tersebut dalam mengembangkan program menuju SBI.
Program hibah Pengembangan Pendidikan Guru Bertaraf Internasional bidang MIPA ditujukan untuk membantu LPTK menghasilkan guru-guru MIPA yang memenuhi standar kompetensi SBI. Program ini dinyatakan berhasil jika indikator-indikator berikut ini dapat dicapai.
1. Tersedianya kurikulum program S-1 pendidikan guru bertaraf internasional bidang MIPA pada tahun pertama.
2. Tersedianya bahan ajar bahasa Inggris untuk MIPA. Perguruan tinggi penerima hibah diharuskan membuat mata kuliah bahasa Inggris untuk MIPA.
3. Tersedianya minimal dua bahan ajar (hand out) beserta Satuan Acara Perkuliahan dan instrumen evaluasi pembelajaran dalam bahasa Inggris untuk mata kuliah bidang studi setiap program studi setiap semester.
4. Lulusan mampu menggunakan media/sumber belajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi dalam proses belajar mengajar.
5. Lulusan mampu menyusun Rencana Program Pengajaran dan mampu mengampu pembelajaran bidang studi MIPA yang dikuasai dengan pengantar bahasa Inggris.
6. Terjadinya peningkatan secara signifikan skor rata-rata TOEFL mahasiswa setiap tahunnya dan pada akhir masa studinya rata-rata skor TOEFL mahasiswa minimal 500.
Dalam melakukan proses seleksi dan menetapkan calon penerima hibah akan dipertimbangkan kondisi geografis LPTK. Pada tahap pertama ini akan dipilih 4 LPTK sebagai pemenang hibah. Proses seleksi penerima hibah mencakup 3 tahap yaitu: Evaluasi Proposal (Desk Evaluation), Site Evaluation, dan Penetapan Pemenang. Program hibah direncanakan untuk jangka waktu 4 (empat) tahun. Dana hibah yang disediakan untuk pengembangan pendidikan guru bertaraf internasional bidang MIPA ini maksimal sebesar Rp 2.000.000.000 (dua milyar rupiah) untuk 4 (empat) tahun, dengan porsi pembiayaan maksimal 90% dari Ditjen Dikti dan minimal 10% dari Perguruan Tinggi pengusul. Pembiayaan akan menerapkan paradigma output-outcome oriented. Artinya, penggunaan block grant tidak hanya untuk mahasiswa angkatan 2008/2009. Usulan program harus mampu menghasilkan lulusan pada tahun 2010 yakni dengan melibatkan mahasiswa angkatan 2006/2007 dan 2007/2008. Dengan demikian, perencanaan program dan pembiayaan harus disusun untuk 4 (empat) tahun, dilengkapi action plan untuk setiap tahunnya (BPSDMPK, 2012).
Namun, SBI menjadi kontroversi karena dianggap sekolah bertarif internasional dan hanya anak dari keluarga kaya yang dapat sekolah di sana. Pemerintah bersikukuh tidak mau membubarkan RSBI dengan alasan terbentur dengan Pasal 50 Ayat (3) UU Sisdiknas. Beberapa waktu yang lalu, pemerintah telah mengeluarkan Permen Nomor 60 tahun 2011 tentang larangan pungutan. Di dalam Permen tersebut diatur SD dan SMP yang masuk kategori RSBI dilarang melakukan pungutan tanpa persetujuan tertulis dari bupati atau walikota atau pejabat yang ditunjuk.
Selain top-down model inovasi pendidikan, banyak juga contoh bottom-up model inovasi dalam Pendidikan IPA. Seperti contohnya inovasi pembuatan alat IPA sederhana dilakukan oleh guru-guru yang kreatif dan juga sering diikutkan dalam lomba. Guru memanfaatkan SDA sekitar sebagai sumber belajar, contohnya pembuatan biodiesel dari biji alpukat dan biji jarak.

D. Faktor-faktor Strategis Implementasi Inovasi Pendidikan IPA
Inovasi pendidikan merupakan proses perkembangan perubahan yang terdiri dari tiga tahap berikut: inisiasi (adopsi), implementasi dan institualisasi (kelanjutan, penggabungan) (Fullan, 1991). Faktor-faktor yang mendasari untuk memulai perubahan besar dalam pendidikan dan faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan inovasi pendidikan telah banyak diteliti. Fullan (1991) membuat daftar seperangkat faktor yang dianggap menjadi sangat penting untuk keberhasilan pelaksanaan inovasi:
a) kejelasan kebijakan sekolah sehubungan dengan tujuan inovasi;
b) kegiatan pengembangan staf dalam organisasi;
c) pengaturan dari prosedur monitoring dan evaluasi;
d) suplai dukungan (teknis) kepada para guru yang membutuhkan bantuan; dan
e) dukungan (dari atas) yaitu kepala sekolah, pemerintah dan lembaga lainnya.
Dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling mendukung implementasi inovasi lebih banyak terdapat dalam praktek. Keberhasilan atau kegagalan inovasi pendidikan tidak ditentukan oleh ketersediaan atau tidaknya faktor individual tetapi merupakan hasil dari sebuah proses dinamis yang melibatkan interaksi variabel dari waktu ke waktu (Fullan, 1991).
Kendala-kendala yang mempengaruhi keberhasilan inovasi pendidikan menurut Subandiyah (1992) adalah: 1) Perkiraan yang tidak tepat terhadap inovasi, 2) Konflik dan motivasi yang kurang sehat, 3) Lemahnya berbagai faktor penunjang sehingga mengakibatkan tidak berkembangnya inovasi yang dihasilkan, 4) Keuangan (financial) yang tidak terpenuhi, 5) Penolakan dari sekelompok tertentu atas hasil inovasi, dan 6) Kurang adanya hubungan sosial dan publikasi. Untuk menghindari masalah-masalah tersebut di atas, diharapkan ada perubahan terutama sikap dan perilaku dalam menanggapi inovasi pendidikan yang sedang dan akan dikembangkan. Diharapkan keterlibatan semua pihak seperti guru, administrator, orang tua siswa, dan masyarakat umumnya agar inovasi pendidikan dapat berhasil.
Menurut Gunawan (2010) ada beberapa faktor mengapa inovasi sering ditolak atau tidak dapat diterima oleh para pelaksana inovasi di lapangan atau di sekolah seperti sebagai berikut ini.
1. Sekolah atau guru tidak dilibatkan dalam proses perencanaan, penciptaan dan bahkan pelaksanaan inovasi tersebut, sehingga ide baru atau inovasi tersebut dianggap oleh guru atau sekolah bukan miliknya, dan merupakan kepunyaan orang lain yang tidak perlu dilaksanakan, karena tidak sesuai dengan keinginan atau kondisi sekolah mereka.
2. Guru ingin mempertahankan sistem atau metode yang mereka lakukan saat sekarang, karena sistem atau metode tersebut sudah mereka laksanakan bertahun-tahun dan tidak ingin diubah. Di samping itu sistem yang mereka miliki dianggap oleh mereka memberikan rasa aman atau kepuasan serta sudah baik sesuai dengan pikiran mereka. Hal senada diungkapkan pula Day dkk (1987) di mana guru tetap mempertahankan sistem yang ada.
3. Inovasi yang baru yang dibuat oleh orang lain terutama dari pusat (khususnya Kemdikbud) belum sepenuhnya melihat kebutuhan dan kondisi yang dialami oleh guru dan siswa. Hal ini juga diungkapkan oleh Munro (1987) yang mengatakan bahwa mismatch between teacher’s intention and practice is important barrier to the success of the innovatory program.
4. Inovasi yang diperkenalkan dan dilaksanakan yang berasal dari pusat merupakan kecenderungan sebuah proyek (contohnya: SEQIP) di mana segala sesuatunya ditentukan oleh pencipta inovasi dari pusat. Inovasi ini bisa terhenti kalau proyek itu selesai atau kalau financial dan keuangannya sudah tidak ada lagi. Dengan demikian pihak sekolah atau guru hanya terpaksa melakukan perubahan sesuai dengan kehendak para inovator di pusat dan tidak punya wewenang untuk merubahnya.
5. Kekuatan dan kekuasaan pusat yang sangat besar sehingga dapat menekan sekolah atau guru melaksanakan keinginan pusat, yang belum tentu sesuai dengan kemauan mereka dan situasi sekolah mereka.

Inovasi Pendidikan IPA harus berlangsung di sekolah guna memperoleh hasil yang terbaik dalam mendidik siswa. Ujung tombak keberhasilan pendidikan IPA di sekolah adalah guru. Oleh karena itu guru IPA harus mampu menjadi seorang yang inovatif guna menemukan strategi atau metode yang efektif untuk mendidik. Inovasi yang dilakukan guru pada intinya berada dalam tatanan pembelajaran yang dilakukan di kelas. Kunci utama yang harus dipegang guru adalah bahwa setiap proses atau produk inovatif yang dilakukan dan dihasilkannya harus mengacu kepada kepentingan siswa.

III. PENUTUP

Inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau kelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil invention (penemuan baru) atau discovery (baru ditemukan orang), yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan. Tujuan inovasi pendidikan yaitu mengejar ketinggalan–ketinggalan yang dihasilkan oleh kemajuan ilmu dan teknologi dan mengusahakan terselenggaranya pendidikan sekolah maupun luar sekolah bagi setiap warga negara.
Pembelajaran IPA yang inovatif adalah proses pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi untuk aktif, kreatif, mandiri sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik dan psikologis siswa. Pendekatan inovasi Pendidikan IPA dapat melalui guru, siswa, bahan ajar, asesmen dan model pembelajaran. Dengan adanya inovasi-inovasi di bidang pendidikan IPA diharapkan membawa kemajuan bagi dunia pendidikan di Indonesia, sehingga dapat digunakan untuk memecahkan masalah pendidikan dan menyongsong arah perkembangan dunia pendidikan yang lebih memberikan harapan kemajuan lebih pesat.
Keberhasilan atau kegagalan inovasi pendidikan tidak ditentukan oleh ketersediaan atau tidaknya faktor individual tetapi merupakan hasil dari sebuah proses dinamis yang melibatkan interaksi variabel dari waktu ke waktu (Fullan, 1991). Jadi faktor yang paling mendukung implementasi inovasi lebih banyak terdapat dalam prakteknya.

DAFTAR PUSTAKA

BPSDMPK. 2012. Pendidikan Guru Bertaraf Internasional Bidang MIPA. [Online]. Tersedia: http://bpsdmpk.kemdikbud.go.id/bpsdmpk/. (diunduh 1 Desember 2012).
Fullan, M.G. 1991. The New Meaning of Educational Change. London: Cassell.
Gunawan, I. 2010. Inovasi Pendidikan. [Online]. Tersedia: http://masimamgun.blogspot.com/2010/11/inovasi-pendidikan.html. (diunduh 1 Desember 2012).
Ibrahim. 1988. Inovasi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud.
Liliasari (2012). Inovasi Pembelajaran IPA: Mengapa & Bagaimana? [Online]. Tersedia: http://file.upi.edu/Direktori/SPS/PRODI.PENDIDIKAN_IPA/194909271978032-LILIASARI/INOVASI_P.IPA-PPM_09.pdf. (diunduh 1 Desember 2012).
Looney, J. W. 2009. Assessment and Innovation in Education. OECD Education Working Papers, No. 24, OECD Publishing.
Osborne, J. 2007. Science Education for Twenty First Century. Eurasia Journal of Mathematics, Science & Technology Education, 2007, 3(3), 173-184
Rogers, M. E. 1983. Diffusion of Innovation. New York: The Free Press A Division of Macmillan Publishing Co. Inc.
Sisdiknas. 2012. Pergeseran Paradigma Belajar Abad 21. [Online]. Tersedia: http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/uji-publik-kurikulum-2013-2. (diunduh 10 Desember 2012)
Subandijah. 1992. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Yogyakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Tornatzky, L. G. & Klein, K. J. 1982. Innovation Characteristics and Innovation-Adoption: A Meta Analysis of Findings. IEEE Transactions on Engineering Management, Vol. EM-29 No.1, February 1982.
Undang, G. 2009. Lesson Study: Model Pengkajian Pembelajaran Kolaboratif. Bandung: Sayagatama Press
Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Organisme Manusia

Disampaikan dalam presentasi MK Perkembangan Pendidikan IPA (06/11/12)
Program Doktor Pend. IPA
SPs Universitas Pendidikan Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu lah yang paling Pemurah. Yang mengajarkan manusia dengan pena. Mengajarkan kepada manusia apa-apa yang belum diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5)
Dengan kekuasan Allah, manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling istimewa dan sempurna dari pada makhluk Allah yang lain. Manusia unik karena mampu menggunakan bahasa dan pemikiran. Setelah otak mengalami evolusi yang besar dan kompleks, kita memiliki fasilitas untuk berpikir, membayangkan, menciptakan, dan belajar dari pengalaman yang jauh melebihi spesies lain. Kita menggunakan kemampuan ini untuk membuat teknologi dan karya-karya sastra dan seni dalam skala yang luas, dan untuk mengembangkan pemahaman ilmiah tentang diri sendiri dan dunia.
Kita juga unik karena keingintahuan yang mendalam tentang diri sendiri: Bagaimana kita disatukan secara fisik? Bagaimana kita terbentuk? Bagaimana kita berhubungan dengan bentuk kehidupan yang lain dan kepada nenek moyang kita secara ilmu biologi? Bagaimana kita sebagai individu mirip atau tidak mirip manusia lainnya? Bagaimana kita bisa tetap sehat? Sebagian besar pemikiran ilmiah berfokus pada pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Makalah ini dibuat untuk melengkapi tugas mata kuliah Perkembangan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam dan juga untuk menambah pengetahuan tentang diri kita sendiri sebagai satu spesies, manusia. Pengetahuan tersebut diharapkan menjadi dasar untuk lebih meningkatkan kesadaran atas diri kita kepada Sang Pencipta, Allah SWT dan juga terhadap masyarakat.
Bab ini akan fokus pada enam aspek utama dari organisme manusia: identitas manusia, siklus hidup, fungsi dasar dari tubuh, belajar, kesehatan fisik, dan kesehatan mental.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Identitas Manusia
Manusia sama seperti organisme hidup lainnya secara biologi. Manusia terdiri dari sel-sel dan itu sama seperti hewan lainnya, memiliki komposisi kimia yang sama, memiliki sistem organ dan karakteristik fisik seperti yang lain, melakukan reproduksi dengan cara yang sama, membawa sistem informasi genetik jenis yang sama, dan merupakan bagian dari jaring makanan.
Seperti organisme kompleks lainnya, manusia memiliki variasi dalam ukuran dan bentuk, warna kulit, proporsi tubuh, rambut tubuh, fitur wajah, kekuatan otot, wenangan, dan sebagainya.

Gambar 1. Variasi warna mata, warna kulit, dan fitur wajah manusia.
Akan tetapi, perbedaan ini tidak ada artinya dibanding kesamaan internal dari semua manusia, seperti yang ditunjukkan oleh fakta bahwa orang-orang dari mana pun di dunia ini dapat membaur secara fisik dalam hal reproduksi, transfusi darah, dan transplantasi organ. Semua manusia adalah satu spesies yang sama, yang terlihat membedakannya dari spesies lain justru pada adanya perbedaan budaya, bahasa, teknologi, dan seni antara kelompok masyarakat.
Beberapa spesies lain mengatur diri secara bersama, terutama dalam menjalankan fungsi khusus yang berbeda, seperti pertahanan, koleksi makanan, atau reproduksi, tetapi mereka mengikuti pola yang relatif sama tergantung warisan genetik. Manusia memiliki rentang perilaku sosial yang jauh lebih besar, mulai dari bermain kartu, menyanyikan lagu-lagu paduan suara, menguasai banyak bahasa sampai merumuskan hukum.
Salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah spesies manusia adalah perubahan 10.000 tahun yang lalu yaitu dari berburu dan mengumpulkan ke pertanian, hal ini yang membuat populasi manusia meningkat cepat. Selama periode awal pertumbuhan, manusia mulai menciptakan desa dan kemudian kota, sistem ekonomi dan politik, pencatatan dan peperangan yang terorganisir. Sekarang ini, adanya efisiensi yang lebih besar dalam pertanian dan pengendalian penyakit menular menyebabkan pertumbuhan populasi manusia yang lebih cepat, yang sekarang lebih dari lima miliar.
Jika dibandingkan dengan spesies lain, tidak ada yang istimewa dari manusia ketika dikaitkan dengan kecepatan, kelincahan, kekuatan, stamina, penglihatan, pendengaran, atau kemampuan untuk menahan kondisi ekstrim lingkungan.

Gambar 2. Cheetah dengan kecepatan berlari 112 km/jam sampai 120 km/jam Gambar 3. Penguin dapat berkembang biak saat musim dingin pada temperatur -30 °C

Gambar 4. Lalat memiliki keistimewaan pada penglihatan dengan mata majemuknya
Berbagai teknologi ditemukan dalam dunia fisika sehingga meningkatkan kemampuan kita untuk berinteraksi. Sebagai contoh, kendaraan memungkinkan kita untuk bergerak lebih cepat daripada hewan lain, melakukan perjalanan untuk mencapai tempat-tempat terpencil, bahkan ke luar angkasa. Teleskop, kamera, sensor inframerah, mikrofon, dan instrumen lainnya membentangkan visual, pendengaran, indera peraba, dan meningkatkan kepekaan kita. Perangkat badan palsu dan kimia dan intervensi bedah memungkinkan orang dengan cacat fisik dapat mengatasinya secara efektif di lingkungan.

B. Siklus Hidup
Seorang manusia berkembang awalnya dari satu sel yang terbentuk dari penggabungan sel telur dan sel sperma, masing-masing membawa setengah dari informasi genetik sel. Ovarium wanita menghasilkan sel telur (ovum) matang, biasanya satu per siklus menstruasi, fase menstruasi yaitu peristiwa luruhnya sel ovum matang yang tidak dibuahi bersamaan dengan dinding endometrium yang robek. Testis pada laki-laki menghasilkan sel sperma dalam jumlah besar.

Gambar 5. Sel Sperma Gambar 6. Sel Telur

Gambar 7. Perkembangan Zigot menjadi Embrio Gambar 8. Fetus pada minggu ke 38
Fertilisasi dari sebuah sel telur biasanya terjadi setelah sel sperma mendekat pada sel telur. Fertilisasi tidak selalu terjadi, hal ini disebabkan oleh beberapa alasan, diantaranya karena sperma sampai pada sel telur saat siklus menstruasi perempuan, atau salah satu pasangan tidak dapat menghasilkan sel kelamin yang layak. Alat kontrasepsi juga digunakan untuk melumpuhkan sperma, menghalangi jalannya memasuki sel telur, mencegah pelepasan sel telur, atau mencegah sel telur dibuahi. Penggunaan teknologi untuk mencegah atau memfasilitasi kehamilan, bagaimanapun, adalah kontroversi dan menimbulkan pertanyaan secara adat istiadat sosial, etika, keyakinan agama, dan bahkan politik.
Embrio yang berkembang menghadapi kemungkinan beberapa risiko, yaitu bawaan cacat genetik, kesehatan yang buruk ibu atau diet yang tidak memadai selama kehamilan, penggunaan alkohol, tembakau, dan obat-obatan lainnya. Jika perkembangan bayi tidak lengkap saat kelahiran terjadi, baik karena kelahiran prematur atau perawatan kesehatan yang buruk, bayi mungkin tidak dapat bertahan hidup. Angka kematian bayi sangat bervariasi antara satu tempat dan lainnya, tergantung pada kualitas sanitasi, kebersihan, gizi, dan perawatan medis. Bahkan untuk bayi yang bertahan hidup, kondisi yang buruk sebelum kelahiran dapat mengakibatkan kemampuan fisik dan mental yang lebih rendah.
Pada anak normal perkembangan mental ditandai oleh penampilan serangkaian kemampuan dengan tahap yang berurutan. Peningkatan daya ingat terjadi menjelang akhir bulan pertama, kemampuan bicara pada ulang tahun pertama, peningkatan kemampuan bicara terjadi pada ulang tahun kedua, kemampuan untuk menghubungkan konsep dengan kategori pada ulang tahun keenam, dan kemampuan untuk mendeteksi argumen yang konsisten atau tidak konsisten pada saat remaja. Perkembangan ini semakin kompleks karena kematangan otak dan pengalaman belajar.

Gambar 9. Perkembangan fisik pada anak
Perkembangan manusia yang sangat lama dibandingkan dengan spesies lain dikaitkan dengan peran otak yang menonjol dalam evolusi manusia. Sebagian besar spesies sangat terbatas dalam perilaku dan bertahan hidup tergantung pada respon yang ditentukan oleh faktor genetik; mamalia, dan terutama manusia, lebih tergantung pada perilaku yang dipelajari. Masa kanak-kanak yang panjang menyediakan waktu dan kesempatan untuk berkembangnya otak menjadi alat hidup yang cerdas. Hal ini datang tidak hanya melalui bermain dan interaksi antara anak-anak dan orang dewasa, tetapi juga melalui paparan kata dan seni dari orang-orang dari dunia bagian lain dan waktu lain dalam sejarah. Kemampuan untuk belajar terus berlanjut sepanjang hidup.
Tahap perkembangan terjadi dalam waktu yang berbeda antara individu yang berbeda karena faktor fisiologis yang berbeda dan pengalaman yang berbeda. Transisi dari satu tahap ke tahap yang lain mungkin menyebabkan lebih sulit, terutama ketika terjadi perubahan biologis yang diamati atau tidak mempengaruhi kemampuan sosial. Di Amerika Serikat, masa pubertas-pematangan tubuh yaitu masa persiapan untuk reproduksi terjadi beberapa tahun sebelum usia umumnya, yang dianggap secara fisik dan psikologis adalah waktu yang tepat untuk menjadi orang tua dan fungsi dewasa lainnya.
Apakah orang dewasa menjadi orang tua, dan berapa jumlah anak yang dimiliki, ditentukan oleh faktor budaya dan pribadi, serta faktor biologis. Teknologi menjadi pilihan bagi orang untuk mengontrol reproduksi mereka. Cara-cara kimia dan mekanik ada untuk mencegah, mendeteksi, atau mengakhiri kehamilan. Melalui langkah-langkah seperti terapi hormon dan inseminasi buatan, juga memungkinkan untuk menyebabkan kehamilan.
Penuaan adalah proses normal pada semua manusia. Efeknya sangat bervariasi antara individu. Secara umum, otot dan sendi cenderung menjadi kurang fleksibel, tulang dan otot kehilangan massanya, energi berkurang, dan panca indra menjadi kurang tajam. Bagi wanita, salah satu peristiwa besar dalam proses penuaan adalah menopaus, kira-kira antara usia 45 dan 55 tahun. Wanita mengalami perubahan besar dalam produksi hormon seks, sehingga tidak lagi memiliki siklus menstruasi dan tidak lagi melepaskan telur.
Proses penuaan pada manusia dikaitkan tidak hanya pada perubahan sistem hormon, tetapi juga penyakit dan luka, diet, kemunculan mutasi yang terakumulasi dalam sel, jaringan yang rusak karena beban yang berat sendi, faktor psikologis dan yang terdapat pada zat berbahaya. Penumpukan yang lambat agen berbahaya seperti penumpukan dalam arteri, kerusakan paru-paru akibat merokok dan kerusakan pada kulit akibat radiasi dapat menyebabkan penyakit. Terkadang penyakit yang muncul di akhir kehidupan mempengaruhi fungsi otak, termasuk ingatan dan kepribadian. Selain itu, kapasitas fisik yang berkurang dan hilangnya peran sosial seseorang dapat menyebabkan kecemasan atau depresi. Di sisi lain, banyak juga orang tua yang mampu bergaul cukup baik, kehidupan yang aktif dan mandiri tanpa ketidakmampuan dalam periode yang lama.
Tampaknya ada jangka hidup maksimum untuk setiap spesies, termasuk manusia. Meskipun beberapa manusia hidup lebih dari seratus tahun, tapi rata-rata lama hidup berkisar dari 35 dan 75 tahun di negara-negara industri. Harapan hidup juga bervariasi antara kelompok-kelompok sosial ekonomi yang berbeda. Penyebab kematian berbeda untuk berbagai usia, etnis, dan kelompok ekonomi. Di Amerika kecelakaan lalu lintas banyak terjadi pada pria muda, penyakit jantung menyebabkan lebih banyak kematian pada pria, dan penyakit menular dan pembunuhan menyebabkan lebih banyak kematian di antara orang miskin.

C. Fungsi Dasar
Tubuh manusia merupakan sistem sel yang kompleks, sebagian besar dikelompokkan ke dalam sistem organ yang memiliki fungsi khusus. Sistem ini dapat lebih baik dipahami berdasarkan fungsinya misalnya sebagai sumber energi yang berasal dari makanan, perlindungan terhadap cedera, koordinasi internal, dan reproduksi.
Kebutuhan energi terus-menerus melibatkan indera dan otot rangka dalam memperoleh makanan, sistem pencernaan memecahkan makanan menjadi senyawa yang dapat digunakan dan kemudian membuang bahan makanan yang tidak tercerna, paru-paru menyediakan oksigen untuk pembakaran makanan dan pemakaian karbon dioksida yang dihasilkan, sistem kemih membuang limbah terlarut hasil dari aktivitas sel, kulit dan paru-paru mengeluarkan kelebihan panas (di mana sebagian besar energi dalam makanan akhirnya berkurang), dan sistem peredaran darah untuk memindahkan semua zat ke atau dari sel yang membutuhkan atau diproduksi.
Seperti semua organisme, manusia memiliki sarana untuk melindungi diri sendiri. Perlindungan diri melibatkan penggunaan indra dalam mendeteksi bahaya, sistem hormon dalam merangsang hati dan mendapatkan akses untuk pasokan energi darurat, dan otot dalam melepaskan atau pertahanan diri. Kulit memberikan perisai terhadap zat berbahaya dan organisme seperti bakteri dan parasit. Sistem kekebalan tubuh memberikan perlindungan terhadap zat yang masuk melakukan perlawanan ke dalam tubuh dan melawan sel-sel kanker yang berkembang dengan cepat dalam tubuh. Sistem saraf memainkan peran sangat penting dalam kelangsungan hidup, sehingga memungkinkan manusia dapat belajar dalam mengatasi perubahan di lingkungannya.
Pengendalian internal untuk mengelola dan mengkoordinasi sistem yang kompleks dilakukan oleh otak dan sistem saraf yang berhubungan dengan hormon kelenjar buang air. Sinyal-sinyal listrik dan kimia yang dibawa oleh saraf dan hormon mengintegrasi tubuh secara keseluruhan. Pengaruh dari keterkaitan antara hormon dan saraf menimbulkan sistem siklus yang terkoordinasi di hampir semua fungsi tubuh. Saraf dapat merangsang beberapa kelenjar untuk menghasilkan hormon, beberapa hormon mempengaruhi sel-sel otak, otak melepaskan hormon sendiri yang mempengaruhi perilaku manusia, dan hormon juga terlibat dalam transmisi sinyal antara sel-sel saraf. Beberapa obat legal maupun ilegal dapat mempengaruhi tubuh dan otak manusia dengan meniru atau memblokir hormon dan neurotransmiter yang dihasilkan oleh sistem hormon dan saraf.

Gambar 10. Sistem saraf pusat
Reproduksi menjamin kelanjutan dari spesies. Keinginan seksual merupakan dorongan biologis, dan bagaimana dorongan tersebut diwujudkan oleh manusia ditentukan oleh faktor psikologi dan budaya. Organ dan hormon indera yang terlibat, serta organ seks internal dan eksternal. Fakta bahwa reproduksi seksual menghasilkan variasi genetik dari campuran gen orang tua dan merupakan peran kunci dalam evolusi.

D. Belajar
Banyak perilaku merupakan bawaan dalam arti setiap anggota dari spesies diperkirakan akan menunjukkan perilaku tertentu tanpa memiliki pengalaman (misalnya, katak menangkap seekor lalat yang bergerak dalam bidang visualnya). Beberapa perilaku bawaan berkembang dari stimulus dan pengalaman. Pada manusia, misalnya, kemampuan berbicara akan berkembang pada bayi tanpa pelatihan khusus, apabila bayi bisa mendengar dan meniru suara dari lingkungannya.
Semakin kompleks otak suatu spesies, maka perilakunya menjadi lebih fleksibel. Perbedaan dalam perilaku individu sebagian muncul dari warisan dan sebagian lagi dari perbedaan pengalaman. Perilaku adalah hasil interaksi antara pewarisan sifat dan belajar. Kemampuan yang unik dari manusia adalah dalam meneruskan ide-ide dan praktek dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan untuk menciptakan yang baru sehingga telah menghasilkan variasi hampir tak terbatas dalam ide-ide dan perilaku yang berkaitan dengan budaya yang berbeda.
Belajar keterampilan otot terjadi melalui praktek. Jika seseorang menggunakan otot yang sama, terus menerus dalam cara yang sama (misal: melempar bola) dan akhirnya pola pergerakan akan terjadi secara otomatis. Tingkat keterampilan tergantung pada kemampuan bawaan individu, pada jumlah latihan, dan umpan balik dari informasi serta penghargaan. Dalam keadaan darurat, perhatian dengan cepat dapat difokuskan kembali pada tuntutan tugas yang tidak seperti biasa.
Belajar biasanya dimulai melalui sistem sensori yang pertama kali menerima informasi menyangkut tubuh, fisik dan dunia social disekitar kita. Cara setiap orang merasakan atau mengalami informasi ini tidak hanya tergantung pada stimulus itu sendiri, tetapi juga pada konteks fisik di mana stimulus terjadi, faktor fisik, psikologis, dan sosial yang terlihat. Indra tidak hanya memberikan gambaran tentang dunia, tetapi juga merespon rangsangan dalam tingkatan tertentu (misalnya mata yang sensitif terhadap sebagian kecil dari spektrum elektromagnetik). Selain itu, indra selektif menyaring kode informasi, memberikan beberapa rangsangan yang penting seperti ketika tidur orang tua dapat mendengar bayinya menangis, dan ketika seseorang beradaptasi dan tidak ada pemberitahuan bau yang tidak menyenangkan. Pengalaman, harapan, motivasi, dan tingkat emosional dapat mempengaruhi persepsi.
Belajar banyak terjadi melalui asosiasi: jika dua input tiba di otak pada saat yang sama, mereka akan cenderung terhubung dalam memori, dan satu persepsi akan mengarah pada harapan yang lain. Tindakan serta persepsi dapat dikaitkan. Pada tingkat yang paling sederhana, perilaku yang disertai atau diikuti oleh sensasi yang menyenangkan kemungkinan akan terjadi lagi, sedangkan perilaku diikuti oleh sensasi tidak menyenangkan mungkin tidak terjadi lagi. Perilaku yang memiliki konsekuensi menyenangkan atau tidak menyenangkan dalam kondisi khusus akan lebih atau kurang mungkin ketika kondisi khusus tersebut terjadi. Kekuatan dari belajar biasanya tergantung pada kesesuaian waktu dan seberapa sering mereka terjadi bersamaan. Namun, ada beberapa efek yang tidak kentara. Sebagai contoh, suatu kejadian yang sangat menyenangkan setelah perilaku tertentu dapat mengakibatkan perilaku yang dihindari selamanya. Di sisi lain, penghargaan terhadap sebuah perilaku tertentu dapat menyebabkan perilaku yang lebih baik lagi.
Akan tetapi, kebanyakan belajar tidak begitu mekanis. Orang-orang cenderung untuk belajar dari meniru orang lain. Tidak semua belajar semata-mata dengan menambah informasi baru atau perilaku baru. Pemikiran manusia melibatkan interaksi ide, gagasan tentang ide-ide, dan dengan demikian dapat menghasilkan banyak asosiasi internal tanpa masukan sensorik lanjut.
Gagasan seseorang dapat mempengaruhi belajar dengan mengubah cara mereka menafsirkan persepsi dan ide-ide baru. Orang-orang cenderung menanggapi atau mencari informasi yang mendukung ide-ide yang telah mereka miliki dan di sisi lain untuk mengabaikan atau menganggap tidak ada informasi yang tidak selaras dengan ide-ide mereka. Jika informasi yang bertentangan tidak diabaikan atau dianggap tidak ada, hal ini dapat memicu reorganisasi berpikir yang membuat informasi yang baru menjadi masuk akal, serta semua informasi sebelumnya. Reorganisasi yang berturut-turut dari ide seseorang biasanya dihasilkan dari dihadapkannya dengan informasi atau keadaan baru. Reorganisasi tersebut sangat penting untuk proses pematangan manusia dan dapat terus terjadi sepanjang hidup.

E. Kesehatan Fisik/Jasmani
Untuk tetap dalam kondisi yang baik, tubuh manusia membutuhkan berbagai makanan dan juga latihan (olahraga). Jumlah energi (kalori) makanan yang dibutuhkan seseorang bervariasi sesuai ukuran tubuh, usia, jenis kelamin, tingkat aktivitas, dan tingkat metabolisme. Di luar energi, tubuh yang normal membutuhkan zat untuk menambah atau mengganti bahan untuk menyusun tubuhnya yaitu: lemak tak jenuh,substansinya yang tidak dapat dicerna tubuh, termasuk beberapa asam amino dan vitamin. Kondisi normal dari sistem tubuh membutuhkan untuk melakukan fungsinya seperti otot yang mempengaruhi gerakan, tulang yang menanggung beban, dan jantung harus memompa darah secara efisien. Olahraga teratur penting untuk menjaga sistem jantung/paru-paru tetap sehat, untuk menjaga gaya otot tetap bekerja, dan untuk menjaga tulang tidak rapuh.
Setiap individu harus mengontrol penggunaan dari tembakau (berimplikasi pada kanker paru-paru, emfisema, dan penyakit jantung), obat adiktif (berimplikasi pada disorientasi psikis dan gangguan sistem saraf), dan alkohol dalam jumlah berlebihan (yang memiliki efek negatif pada hati, otak, dan jantung). Selain itu, lingkungan dapat mengandung zat berbahaya (seperti timah, beberapa pestisida, dan radioaktif isotop) yang dapat membahayakan manusia. Oleh karena itu, kesehatan yang baik dari individu juga tergantung pada upaya bersama masyarakat untuk memantau udara, tanah, dan air dan untuk mengambil langkah-langkah menjaganya agar tetap aman.
Organisme lain juga dapat mengganggu operasi normal tubuh manusia. Beberapa jenis bakteri atau jamur dapat menginfeksi tubuh dengan membentuk koloni di organ atau jaringan. Virus yang menyerang sel-sel sehat dan menyebabkan sel tersebut dapat mensintesis lebih banyak virus pada umumnya akan membunuh sel tersebut. Penyakit menular juga bisa disebabkan oleh hewan parasit yang dapat hidup di usus, aliran darah, atau jaringan.
Baris pertama pertahanan tubuh terhadap infeksi adalah dengan menjaga agar virus atau bakteri tidak memasuki atau menetap di dalam tubuh. Mekanisme perlindungan tersebut yaitu kulit untuk memblokir mereka, air mata dan air liur untuk membawa mereka keluar, dan sekresi perut dan vagina untuk membunuh mereka. Selain itu juga dengan cara menjaga kulit tetap bersih, makan dengan benar, menghindari makanan dan cairan yang terkontaminasi, dan umumnya menghindari pendekatan pada penyakit yang tidak berguna.
Baris berikut dari pertahanan tubuh adalah sistem kekebalan tubuh. Jika individu berhasil menahan serangan, beberapa antibodi tetap berada dalam tubuh yang dengan kemampuan cepat akan menghasilkan lebih banyak. Bertahun-tahun sesudahnya, atau bahkan seumur hidup, sistem kekebalan tubuh akan siap membatasi atau mencegah penyakit yang sama. Reaksi alergi disebabkan oleh respon imun yang luar biasa kuat untuk beberapa zat lingkungan, seperti yang ditemukan pada serbuk sari, bulu hewan, atau makanan tertentu. Kadang-kadang sistem kekebalan tubuh manusia dapat menyerang sel-sel sehat. Beberapa penyakit karena virus, seperti AIDS dapat menghancurkan sel-sel penting dari sistem kekebalan tubuh, membuat tubuh tak berdaya menghadapi makromolekul asing dan sel-sel kanker.
Infeksi penyakit bukan satu-satunya ancaman bagi kesehatan manusia. Pada bagian atau sistem tubuh dapat terjadi gangguan fungsi untuk alasan internal. Beberapa cacat dalam proses tubuh disebabkan oleh penyimpangan gen. Efek langsung dapat terjadi seperti menyebabkan perdarahan atau dapat meningkatkan kerentanan tubuh sehingga mengembangkan penyakit tertentu, seperti arteri tersumbat atau depresi. Gen tersebut dapat diwariskan atau hasil dari mutasi sel selama perkembangan individu. Penyakit yang bersifat genetic baru akan muncul apabila gen yang cacat diturunkan dari kedua orang tua.
Faktanya sekarang adalah kebanyakan orang hidup dalam pengaturan fisik dan sosial yang sangat berbeda dan merupakan faktor yang penting dalam menentukan kesehatan penduduk. Satu “kelainan” di negara-negara industri adalah diet, yang awalnya diet terutama pada tanaman mentah dan bahan hewan, tetapi sekarang juga mencakup kelebihan jumlah gula, lemak jenuh, garam, kafein, alkohol, nikotin, dan obat-obatan lainnya. Olahraga yang kurang merupakan perubahan dari gaya hidup prasejarah. Ada juga polusi lingkungan dan stres di lingkungan sosial yang ramai, sibuk, dan cepat berubah. Di sisi lain, teknik medis baru, sistem pemberian layanan kesehatan yang efisien, sanitasi yang baik, dan pemahaman publik yang lebih lengkap tentang sifat penyakit memberi kesempatan pada manusia untuk lebih sehat.

F. Kesehatan Mental
Kesehatan mental melibatkan interaksi psikologis, biologis, sistem fisiologis, sosial, dan budaya yang baik. Hal ini umumnya dianggap sebagai kemampuan orang untuk mengatasi keadaan, baik dalam kehidupan pribadi, profesional, dan sosial.
Daradjat (1983) mengemukakan, kesehatan mental adalah terhindar seseorang dari gangguan dan penyakit kejiwaan, mampu menyesuaikan diri, sanggup menghadapi masalah-masalah dan kegoncangan-kegoncangan biasa, adanya keserasian fungsi-fungsi jiwa (tidak ada konflik) dan merasa bahwa dirinya berharga, berguna dan bahagia, serta dapat menggunakan potensi yang ada padanya seoptimal mungkin. Jadi kesehatan mental seseorang berhubungan dengan kemampuan menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapi.
Ide tentang apa itu kesehatan mental bervariasi dari satu budaya ke yang lain dan dari satu periode ke waktu yang lain. Perilaku yang dianggap penyakit jiwa dalam satu budaya mungkin dianggap sebagai eksentrisitas atau bahkan sebagai inspirasi hebat pada budaya lainnya. Dalam beberapa budaya, orang dapat diklasifikasikan sebagai sakit jiwa jika mereka terus-menerus menyatakan ketidaksetujuan dengan otoritas agama atau politik. Ide tentang perawatan yang tepat untuk keadaan mental yang abnormal berbeda pula. Berpikir abnormal yang sengaja dihukum dalam satu budaya dapat diobati dalam budaya lain dengan keterlibatan sosial, dengan isolasi, dengan dukungan sosial meningkat, dengan doa, dengan wawancara mendalam, atau dengan prosedur medis.
Individu memiliki kemampuan yang berbeda dalam mengatasi masalah lingkungan. Tertekan di masa kecil mungkin sangat sulit untuk ditangani karena dapat membentuk pola pikir anak yang memiliki efek jangka panjang pada kesehatan psikologis dan penyesuaian sosial. Orang juga mengatasi gangguan psikologis dengan cara yang berbeda. Sering kali, orang bereaksi dengan menyangkal bahwa mereka memiliki masalah psikologis. Bahkan, ketika mereka menyadari bahwa mereka memiliki masalah seperti itu tapi tidak memiliki uang, waktu, atau dukungan sosial yang diperlukan untuk mencari bantuan. Gangguan perilaku berkepanjangan dapat menyebabkan reaksi yang kuat terhadap lingkungan dan dapat menambah stres pada individu.
Diagnosis dan pengobatan gangguan mental menjadi sangat sulit karena sebagian besar kehidupan mental masyarakat biasanya tidak dapat diakses. Misalnya: ketika kita mengingat nama seseorang, namun pikiran sadar tidak memiliki ide dalam proses mengingat itu. Selain itu, kita dapat mengalami marah, takut atau depresi tanpa tahu penyebabnya. Menurut beberapa teori gangguan mental, perasaan seperti itu mungkin hasil dari pikiran atau ingatan sadar yang terhambat atau diblokir. Pengobatan untuk gangguan pada pikiran bawah sadar dapat dicari dalam mimpi atau pasien didorong untuk berbicara panjang dan bebas di tempat terbuka untuk mendapatkan ide dan menemukan penyelesaian masalah.
Beberapa gangguan psikologis yang dianggap sebagai murni spiritual atau mental dapat dijelaskan berdasarkan gangguan biologi. Kerusakan jaringan otak akibat tumor atau pembuluh darah yang pecah dapat menghasilkan berbagai gejala perilaku, tergantung dimana lokasi otak yang terpengaruh. Misalnya, cedera otak dapat mempengaruhi kemampuan menempatkan kata-kata atau dalam memahami pembicaraan orang lain, serta dapat menyebabkan ledakan emosional. Kekurangan atau kelebihan beberapa bahan kimia yang diproduksi di otak dapat menyebabkan halusinasi dan depresi kronis. Memburuknya mental yang kadang-kadang sering terjadi disebabkan oleh penyakit dari otak. Kelainan biologi tidak selalu menghasilkan kerusakan psikologis dengan sendirinya, tetapi dapat membuat individu sangat rentan terhadap gangguan lain.
Sebaliknya, keadaan emosional memiliki beberapa efek biokimia yang berbeda. Ketakutan dan kemarahan menyebabkan hormon akan dilepaskan ke dalam aliran darah yang mempersiapkan tubuh untuk bertindak. Tekanan psikologis juga dapat mempengaruhi kerentanan individu terhadap penyakit biologis. Ada beberapa bukti bahwa keadaan emosional yang intens atau kronis kadang-kadang dapat menghasilkan perubahan dalam sistem saraf dan kekebalan tubuh. Misalnya, takut, marah, depresi, atau bahkan hanya kekecewaan dapat menyebabkan perkembangan sakit kepala, peningkatan asam lambung, dan infeksi. Efek tersebut dapat membuat individu lebih rentan terhadap stres psikologis. Di pihak lain, ada bukti bahwa hubungan social dan dukungan dapat meningkatkan kemampuan seseorang melawan penyakit tertentu atau meminimalkan pengaruhnya.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Makalah ini dapat disimpulkan menjadi sebagai berikut:
1. Manusia terdiri dari sel-sel dan itu sama seperti hewan lainnya. Manusia memiliki variasi dalam ukuran dan bentuk, warna kulit, proporsi tubuh, rambut tubuh, fitur wajah, kekuatan otot, wenangan, dan sebagainya.
2. Siklus hidup manusia berawal dari satu sel yang terus berkembang menjadi bayi, setelah itu terus tumbuh hingga tua dan meninggal.
3. Tubuh manusia merupakan sistem sel yang kompleks, sebagian besar dikelompokkan ke dalam sistem organ yang memiliki fungsi khusus.
4. Perilaku merupakan interaksi antara pewarisan sifat dan belajar. Perbedaan dalam perilaku individu sebagian muncul dari warisan dan sebagian lagi dari perbedaan pengalaman.
5. Untuk tetap dalam kondisi yang baik (sehat jasmani), tubuh manusia membutuhkan berbagai makanan sehat dan juga latihan (olahraga).
6. Kesehatan mental yang baik melibatkan interaksi psikologis, biologis, sistem fisiologis, sosial, dan budaya.

B. Komentar
• Bismillahirrohmanirohim. Fabiayyi’ala irobbikuma tukazziban (QS. Ar Rahman (55): 18). “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”. Dengan membaca dan mempelajari buku Science for All Americans terutama pada bab The Human Organism makin menyadarkan penulis atas kekuasaan Allah SWT. Bahkan semuanya sudah ditulis di dalam Alquran, tinggal bagaimana manusia membaca dan memanfaatkannya.
• Sebenarnya keanekaragaman atau variasi pada manusia sudah dituliskan dalam QS. Ar Ruum: 22, yaitu: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.
• Hingga kini di kalangan umat Islam masih ada dua kubu antara yang membolehkan penggunaan alat konstrasepsi dan ada yang menolak. Alasan yang memperbolehkan diantaranya dari segi kesehatan ibu dan ekonomi keluarga. Intinya untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang berkaitan dengan masalah dan beban keluarga jika kelak memiliki anak. Di lain pihak, beberapa ulama berpendapat bahwa penggunaan alat konstrasepsi tidak dibolehkan. Hal ini didasarkan pada firman Allah (Qs. Al-Isra’:31) yang berbunyi: “Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepada kalian.”
• Fertilisasi (pembuahan) yaitu peleburan antara sel sperma dengan sel ovum yang telah matang dan menghasilkan zygote (Lestari, ES & Kistinnah, Indun, 2009). Hasil pembuahan adalah zigot yang kemudian mengalami pertumbuhan dan perkembangan lebih rinci seperti sebagai berikut:
1. Zigot membelah menjadi 2 sel, 4 sel, 8 sel, dan seterusnya.
2. Dalam waktu bersamaan lapisan dinding dalam uterus menjadi tebal seperti spons, penuh dengan pembuluh darah, dan siap menerima zigot.
3. Oleh karena kontraksi otot dan gerak silia dinding saluran Fallopii, zigot menuju ke uterus (rahim) dan menempel di dinding rahim untuk tumbuh dan berkembang.
4. Terbentuknya plasenta dan tali pusat yang merupakan penghubung antara embrio dan jaringan ibunya. Fungsi plasenta dan tali pusat adalah mengalirkan oksigen dan zat-zat makanan dari ibu ke embrio, serta mengalirkan sisa-sisa metabolisme dari embrio ke peredaran darah ibunya.
5. Embrio dikelilingi cairan amnion yang berfungsi melindungi embrio dari bahaya benturan yang mungkin terjadi.
6. Embrio berusia empat minggu sudah menunjukkan adanya pertumbuhan mata, tangan, dan kaki.
7. Setelah berusia enam minggu, embrio sudah berukuran 1,5 cm. Otak, mata, telinga, dan jantung sudah berkembang. Tangan dan kaki, serta jari-jarinya mulai terbentuk.
8. Setelah berusia delapan minggu, embrio sudah tampak sebagai manusia dengan organ-organ tubuh lengkap. Kaki, tangan, serta jari-jarinya telah berkembang. Mulai tahap ini sampai lahir, embrio disebut fetus (janin).
9. Setelah mencapai usia kehamilan kira-kira sembilan bulan sepuluh hari, bayi siap dilahirkan.
• Indonesia sebagai negara berkembang memiliki rata-rata hidup 68 tahun. Hal ini sesuai dengan sebuah tulisan yang penulis kutip dari Majalah Voice of America (2012) sebagai berikut:
Kepala Badan Pembangunan dan Penduduk PBB Jose Miguel Guzman memuji peningkatan umur panjang sebagai salah satu pencapaian terbaik manusia. Rentang kehidupan yang lebih panjang berkat perbaikan gizi, sanitasi, kemajuan medis, layanan kesehatan yang lebih baik, pendidikan, dan kesejahteraan ekonomi. … Laporan itu menyebutkan, peningkatan jumlah penduduk berusia lanjut paling besar adalah di negara-negara berkembang, di mana kini orang hidup hingga rata-rata 68 tahun dan diperkirakan akan hidup hingga usia 74 tahun pada 2050. Tingkat harapan hidup di negara-negara maju adalah 78 tahun, di mana anak yang baru dilahirkan sekarang diperkirakan akan hidup hingga usia 83 tahun.

• System organ manusia menurut Wikipedia (2012) yang telah penulis modifikasi adalah sebagai berikut ini.
Gambar Sistem
Sistem saraf terdiri dari sistem saraf pusat (yang merupakan otak dan sumsum tulang belakang) dan sistem saraf perifer. Otak adalah organ pikiran, emosi, dan sensoris pengolahan, dan melayani banyak aspek komunikasi dan kontrol dari berbagai sistem dan fungsi-fungsi lainnya yang terdiri dari indera penglihatan, pendengaran, rasa, dan bau. Mata, telinga, lidah, dan hidung mengumpulkan informasi tentang lingkungan tubuh.
Sistem sirkulasi terdiri dari jantung dan pembuluh darah (arteri, vena, pembuluh kapiler). Jantung mendorong peredaran darah, yang berfungsi sebagai “sistem transportasi” untuk mentransfer oksigen, bahan bakar, nutrisi, produk-produk limbah, sel-sel kekebalan tubuh, dan isyarat molekul (yaitu, hormon) dari salah satu bagian tubuh yang lain. Darah terdiri dari cairan yang membawa sel-sel dalam sirkulasi, termasuk beberapa yang bergerak dari jaringan ke pembuluh darah dan kembali, serta limpa dan sumsum tulang.
Sistem reproduksi terdiri dari gonad dan organ seks internal dan eksternal. Sistem reproduksi menghasilkan gamet dalam setiap jenis kelamin. Sistem reproduksi adalah sistem yang berfungsi untuk berkembang biak.

Sistem muskuloskeletal (rangka) terdiri dari kerangka manusia (termasuk tulang, ligamen, tendon, dan tulang rawan) dan otot-otot melekat. Ini memberikan struktur dasar tubuh dan kemampuan untuk gerakan. Selain peran struktural, tulang-tulang yang lebih besar dalam tubuh berisi sumsum tulang, tempat produksi sel darah. Semua tulang adalah tempat penyimpanan utama untuk kalsium dan fosfat.
Sistem pernapasan terdiri dari hidung, nasofaring, trakea, dan paru-paru. Sistem pernapasan adalah sistem yang memiliki fungsi untuk mengambil oksigen, menyediakan oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida ke luar tubuh.
Sistem pencernaan terdiri dari mulut, kerongkongan, perut, usus (usus besar dan kecil), dan rektum, serta hati, pankreas, kantong empedu, dan kelenjar ludah. Sistem pencernaan berfungsi memecah makanan menjadi senyawa agar dapat digunakan dan membuang bahan makanan yang tidak tercerna.
Sistem yang menutupi tubuh terdiri dari penutup tubuh (kulit), termasuk rambut dan kuku serta struktur penting fungsional lainnya seperti kelenjar keringat dan sebaceous kelenjar. Kulit menyediakan penahanan, struktur, dan perlindungan organ-organ lain, tetapi juga berfungsi sebagai indera utama yang berhubungan dengan luar tubuh.
Sistem saluran kemih terdiri dari ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. Berfungsi menghilangkan air dari darah untuk menghasilkan urin, dan membawa berbagai molekul limbah dan kelebihan ion dan air keluar dari tubuh.

Sistem kekebalan terdiri dari sel-sel darah putih, timus, kelenjar getah bening dan saluran getah bening, yang juga bagian dari sistem limfatik. Sistem kekebalan memberikan mekanisme tubuh sendiri untuk membedakan sel dan jaringan dari sel-sel dan zat-zat asing dan untuk menetralisir atau menghancurkan yang terakhir dengan menggunakan protein khusus seperti antibodi, sitokin, dan tol-seperti reseptor, di antara banyak lainnya
Sistem endokrin terdiri dari kelenjar endokrin utama: hipofisis, tiroid, adrenal, pankreas, parathyroids, dan organ reproduksi Sistem endoktrin adalah sistem yang berfungsi untuk memproduksi hormon yang mengatur aktivitas tubuh.

• Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini, yang penting dalam belajar adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.

Gambar 11. Skema teori belajar Behavioristik
• Tokoh yang mendukung aliran behavioristik di antaranya adalah Thorndike. Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme (Slavin, 2000).
• Percobaan Thorndike yang terkenal dengan binatang uji coba kucing yang dilaparkan diletakkan di dalam sangkar yang tertutup dan pintunya dapat dibuka secara otomatis apabila kenop yang terletak di dalam sangkar tersebut tersentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”, yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. Dalam melaksanakan coba-coba ini, kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar yang sesuai dengan konsep belajar yang dikemukakan dalam buku Science for All Americans, diantaranya:
a) Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan stimulus–respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus-Respons.
b) Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
c) Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.
• Carl Rogers mengenalkan konsep fully functioning (pribadi yang berfungsi sepenuhnya) sebagai bentuk kondisi mental yang sehat. Secara singkat fully functioning person ditandai (1) terbuka terhadap pengalaman; (2) ada kehidupan pada dirinya; (3) kepercayaan kepada organism lain; (4) kebebasan berpengalaman; dan (5) kreativitas. Di buku lain Golden Allport (dalam Notosoedirjo, 1999) menyebut mental yang sehat dengan maturity personality. Dikatakan bahwa untuk mencapai kondisi yang matang itu melalui proses hidup yang disebutnya dengan proses becoming. Orang yang matang itu, jika: (l) memiliki kepekaan pada diri secara luas; (2) hangat dalam berhubungan dengan orang lain; (3) keamanan emosional atau penerimaan diri; (4) persepsi yang realistik, keterampilan dan pekerjaan; (5) mampu menilai diri secara objektif dan memahami humor; dan (6) menyatunya filosofi hidup. Kesehatan mental sebenarnya berkaitan erat dengan keimanan, dan itu sudah banyak dilakukan penelitian. Dimana terdapat korelasi positif antara keimanan dan kesehatan mental, semakin kuat iman seseorang, maka mentalnya juga akan lebih sehat lagi, dan begitu juga sebaliknya.
• Komentar terhadap pertanyaan Bapak Lukman Hakim, bagaimana pengaruh lantunan ayat suci Alquran bagi janin dalam kandungan: organ-organ tubuh janin selesai terbentuk pada kandungan usia 5 bulan. Setelah masa itu, terjadi proses perkembangan atau pematangan dari seluruh sel-sel organ yang telah terbentuk dan akan mulai berfungsi secara sempurna. Bersamaan dengan itu, diusia ini otak janin pun sudah mampu menterjemahkan rangsangan suara. Pemberian stimulasi seperti ini sangatlah penting karena sel-sel otak yang sudah diberi stimulasi sedini mungkin dapat memicu otak untuk bekerja lebih optimal. Dan kenapa lebih baik didengarkan ayat suci, karena Al-Qur’an adalah sebaik-baik bacaan yang diperdengarkan.
• Komentar terhadap pertanyaan Ibu Tati Kristianti, apakah kecerdasan intelegensi mempengaruhi kecerdasan emosional: kecerdasan emosional dan kecerdasan integensi merupakan dua factor yang menentukan kesuksesan seseorang selain kecerdasan spiritual. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional dua kali lipat lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap kesuksesan seseorang. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan seseorang untuk dapat mengelola atau mengontrol emosi dirinya dan orang lain disekitarnya. Sedangkan kecerdasan intelektual merupakan istilah yang menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti menalar, merencanakan masalah, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, dan belajar. Namun jika berbicara korelasi antara kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual itu bersifat relative. Tidak selalu orang yang memiliki tingkat kecerdasan intelektual tinggi akan memiliki kecerdasan emosional juga tinggi, atau sebaliknya. Sebagai contoh, seorang ilmuwan teoritis Fisika, Albert Einsten yang terkenal sangat jenius dengan IQ mencapai 160 (hasil penelitian), namun berdasarkan sejarah hidupnya, Eintein terkenal pendiam dan tidak banyak bergaul semasa kecilnya (kecerdasan emosional tidak begitu bagus).
• Komentar terhadap pertanyaan Bapak Nanang Winarno, bagaimana dengan kontak batin antara seorang ibu dan anaknya: memang tidak dapat dijelaskan secara logika kebenaran dari kontak batin antara seorang ibu dan anak, namun faktanya memang ada. Analogi dalam teori fisika, adanya resonansi yaitu ikut bergetarnya suatu benda ketika benda lain digetarkan jika memiliki frekuensi yang sama. Seorang ibu cenderung lebih memiliki kontak yang kuat dibanding bapak oleh karena semenjak proses terbentuk, dalam kandungan dan dilahirkan, ibulah yang memiliki peran lebih besar bagi anak.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. PBB: 30 Persen Warga di 64 Negara Tergolong Lansia Tahun 2050. Washington: Voice of America.
Lestari, ES & Kistinnah, Indun. 2009. Biologi. Jakarta: Pusat Perbukuan Depdikbud.
Rutherford, F.Y and Ahlgren, 1990. Science for All American. New York: Oxford University Press.
Wikipedia. 2012. Fisiologi Manusia. Ensiklopedia bebas [Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Fisiologi_manusia (diunduh 264 Oktober 2012).
Wikipedia. 2012. Sel Darah Putih. Ensiklopedia bebas [Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Sel_darah_putih (diunduh 24 Oktober 2012).
Wikipedia. 2012. Sistem Kekebalan. Ensiklopedia bebas [Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_kekebalan (diunduh 24 Oktober 2012).

Performance Assesment

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam penilaian kinerja, siswa diminta melakukan aktivitas yang menunjukkan keterampilan tertentu dan/atau membuat produk tertentu. Hasilnya, metode penilaian ini membuat kita dapat menangkap banyak hasil pendidikan yang bersifat kompleks dan tidak dapat diterjemahkan dalam ujian tertulis.

Dalam penilaian kinerja, kita mengamati siswa saat mereka bekerja, atau memeriksa produk yang dibuat, dan menilai kecakapan yang ditunjukkan. Pengamatan digunakan untuk memberikan pendapat subjektif atas tingkat pencapaian siswa. Evaluasi tersebut dilakukan berdasarkan perbandingan kinerja siswa terhadap standar yang telah ditentukan.

Metode penilaian kinerja muncul sebagai penemuan baru dengan sejumlah kelebihan dibandingkan tes tertulis. Dalam banyak hal, penemuan baru ini menarik perhatian pendidik di setiap tingkatan pendidikan. Aplikasi metode ini antara lain menggunakan nama penilaian otentik (authentic assessments), penilaian alternatif (alternative assessments), pameran, demonstrasi, dan contoh kerja siswa (student work samples). Jenis penilaian ini dipandang sebagai metode yang dapat memberikan penilaian otentik atau penilaian yang sangat tepat atas pencapaian siswa (Wiggins, 1989 in Stiggins, 1994: 161).

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian & Pengembangan Asesmen Kinerja dalam Pembelajaran IPA

Danielson S. A Collection of Performance Task And Rubriks, mendefinisikan penilaian unjuk kerja sebagai “Performance assesment means any assesment of student learning that requires the evaluation of student writing, product, or behavior. That is, it includes all assesment with the exeption of multiple choice, matching, true/false testing, or problem with a single correct answer”. Penilaian unjuk kerja adalah penilaian belajar siswa yang meliputi semua penilaian dalam bentuk tulisan, produk atau sikap kecuali bentuk pilihan ganda, menjodohkan, benar-salah, atau jawaban singkat.

Fitzpatrick dan Morison (1971) berpandangan bahwa penilaian kinerja (performance assessment) sebenarnya tidak memiliki perbedaan yang begitu besar dengan tes lainnya yang dilaksanakan di dalam kelas, hal ini menurut mereka tergantung dari sejauhmana tes itu dapat mensimulasikan situasi dari kriteria-kriteria yang diharapkan.

Trespeces (1999) mengatakan bahwa “performance assessment” adalah berbagai macam tugas dan situasi dimana peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan pemahaman dan pengaplikasian pengetahuan yang mendalam, serta keterampilan di dalam berbagai macam konteks. Jadi boleh dikatakan bahwa “performance assessment” adalah suatu penilaian yang meminta peserta tes untuk mendemonstrasikan dan mengaplikasikan pengetahuan ke dalam berbagai macam konteks sesuai dengan kriteria yang diinginkan.

Wangsatorntanakhum (1997) menyatakan bahwa assessment kinerja terdiri dari dua bagian yaitu “clearly defined task and a list of explicit criteria for assessing student performance or product”. Lebih lanjut dinyatakan pula bahwa assessment kinerja diwujudkan berdasarkan “empat asumsi” pokok, yaitu: 1) performance assessment didasarkan pada partisipasi aktif mahasiswa/siswa, 2) tugas-tugas yang diberikan atau dikerjakan oleh siswa/mahasiswa yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan proses pembelajaran, 3) performance assessment tidak hanya untuk mengetahui posisi siswa pada suatu saat dalam proses pembelajaran, tetapi lebih dari itu, assessment juga dimaksudkan untuk memperbaiki proses pembelajaran itu sendiri, dan 4) dengan mengetahui lebih dahulu kriteria yang akan digunakan untuk mengukur dan menilai keberhasilan proses pembelajarannya, siswa akan secara terbuka dan aktif berupaya untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Seringkali “performance assessment” ini dikaitkan dengan suatu kriteria yang diinginkan dalam praktek kehidupan sehari-hari. Hal tersebut dikenal dengan nama “Authentic Assessment (penilaian autentik)” Jadi pengertian dari “authentik assessment” ini selalu melibatkan peserta tes di dalam mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam praktek kehidupan mereka sehari-hari.

B. Karakteristik Penilaian Kinerja

Performance assessment memiliki karakteristik dasar yaitu : 1) peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan kemampuannya dalam mengkreasikan suatu produk atau terlibat dalam suatu aktivitas (perbuatan), misalnya melakukan eksperimen untuk mengetahui tingkat penyerapan dari kertas tisue, 2) produk dari performance assessment lebih penting daripada perbuatan (performan)-nya. (Maertel, 1992).

Dalam hal memilih, apakah yang akan dinilai itu produk atau performance (perbuatan) tergantung pada karakteristik domain yang diukur (Messirh, 1994). Dalam bidang seni misalnya, seperti acting dan menari, perbuatan dan produknya sama penting, tetapi dalam creative writing mengukur produk adalah fokus yang utama.

Untuk mengetahui apakah penilaian kinerja (performance assessment) dapat dianggap berkualitas atau tidak, terdapat tujuh kriteria yang perlu diperhatikan oleh evaluator. Ketujuh kriteria ini sebagaimana diungkap oleh Popham (1995) yaitu:

  1. Generability : apakah kinerja peserta tes (students performance) dalam melakukan tugas yang diberikan tersebut sudah memadai untuk digeneralisasikan kepada tugas-tugas lain? Semakin dapat digeneralisasikan tugas-tugas yang diberikan dalam rangka penilaian keterampilan atau penilaian kinerja (performance assessment) tersebut, dalam artian semakin dapat dibandingkan dengan tugas yang lainnya maka semakin baik tugas tersebut. Hal ini terutama dalam kondisi bila peserta tes diberikan tugas-tugas dalam penilaian keterampilan (performance assessment) yang berlainan.
  2. Authenticity: apakah tugas yang diberikan tersebut sudah serupa dengan apa yang sering dihadapinya dalam praktek kehidupan sehari-hari?
  3. Multiple foci: apakah tugas yang diberikan kepada peserta tes sudah mengukur lebih dari satu kemampuan-kemampuan yang diinginkan (more than one instructional outcomes)?
  4. Teachability: apakah tugas yang diberikan merupakan tugas yang hasilnya semakin baik karena adanya usaha mengajar guru di kelas? Jadi tugas yang diberikan dalam penilaian keterampilan atau penilaian kinerja (performance assessment) adalah tugas-tugas yang relevan dengan yang dapat diajarkan guru di dalam kelas.
  5. Fairness: apakah tugas yang diberikan sudah adil (fair) untuk semua peserta tes. Jadi tugas-tugas tersebut harus sudah dipikirkan tidak ”bias” untuk semua kelompok jenis kelamin, suku bangsa, agama, atau status sosial ekonomi.
  6. Feasibility: apakah tugas-tugas yang diberikan dalam penilaian keterampilan atau penilaian kinerja (performance assessment) memang relevan untuk dapat dilaksanakan mengingat faktor-faktor seperti biaya, ruangan (tempat), waktu, atau peralatannya?
  7. Scorability: apakah tugas yang diberikan nanti dapat diskor dengan akurat dan reliabel? Karena memang salah satu yang sensitif dari penilaian keterampilan atau penilaian kinerja (performance assessment) adalah penskorannya.

C. Langkah-Langkah Penilaian Kinerja

Beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam melakukan penilaian kinerja (performance assessment) adalah: Identifikasi semua langkah-langkah penting yang diperlukan atau yang akan mempengaruhi hasil akhir (output) yang terbaik. Tuliskan perilaku kemampuan-kemampuan spesifik yang penting dan diperlukan untuk menyelesaikan tugas dan menghasilkan hasil akhir (output) yang terbaik. Usahakan untuk membuat kriteria-kriteria kemampuan yang akan diukur tidak terlalu banyak sehingga semua kriteria tersebut dapat diobservasi selama siswa melaksanakan tugas. Definisikan dengan jelas kriteria kemampuan-kemampuan yang akan diukur berdasarkan kemampuan siswa yang harus dapat diamati (observable) atau karakteristik produk yang dihasilkan.
Urutkan kriteria-kriteria kemampuan yang akan diukur berdasarkan urutan yang dapat diamati. Kalau ada, periksa kembali dan bandingkan dengan kriteria-kriteria kemampuan yang sudah dibuat sebelumnya oleh orang lain di lapangan. Untuk menjaga obyektifitas dan keadilan (fair) sebaiknya penilai atau evaluator lebih dari satu orang sehingga penilaian mereka menjadi lebih valid dan reliabel.

D. Masalah Validitas, Reliabilitas dan Fairness

a. Validitas

Kompleksnya tugas dan kemampuan yang akan diukur dalam performance assessment dapat menimbulkan masalah dalam penskoran dan keterwakilannya domain yang hendak diukur.

Suatu tugas dalam penilaian unjuk kerja atau kinerja yang kompleks tentunya memerlukan proses penilaian yang kompleks juga, dan sebaliknya ada tugas yang memerlukan lebih dari satu kemampuan, seperti kompetensi bahasa dan kemampuan matematik. Problem soalnya dalam matematika memerlukan domain pengetahuan yang relevan dan keterampilan dalam menggunakan informasi tentang komponen-komponen kemampuan yang akan diukur. Selain penskorannya juga harus direview untuk melihat sejauhmana penskoran tersebut sudah mencakup kemampuan yang kompleks.

b. Reliabilitas

Masalah reliabilitas juga menjadi pertanyaan pokok dalam penilaian unjuk kerja, yaitu sejauhmana skor siswa dapat merefleksikan kemampuan siswa yang sebenarnya (true ability) dan bukan akibat dari kesalahan pengukuran. Tujuan dari pengembang tes adalah mendesain penulisan, membuat kondisi pelaksanaan tes dan penskorannya tidak terhambat pada situasi yang tidak berkembang dengan kemampuan yang hendak diukur. Masalah pada penilaian performance biasanya adalah: penskoran (rating) dari pemberi skor performance assessment.

Siswa tidak mengenali alat-alat performance assessment yang dimanipulasi.
Siswa tidak mengenal topik yang ditingkatkan dalam performance assessment.
Akan tetapi kesalahan yang disebabkan oleh penskor (rater) dapat diminimalkan apabila pedoman penskoran performance asssessment dibuat & didefinisikan sebaik mungkin dan juga sebelum dimulai penskoran diadakan pelatihan penskoran (rater) terlebih dahulu.

c. Fairness

Permasalahan yang berhubungan dengan fairness dalam performance assessment adalah 1) perbandingan dalam penulisan, 2) ketersediaan alat-alat yang diperlukan, 3) kesempatan untuk belajar atau berlatih. Apabila tugas dalam performance assessment ada beberapa pilihan, maka harus ada bukti validitas perbandingan dari tugas-tugas tersebut.
E.  Sumber Kesalahan Penskoran dalam Penilaian Kinerja

Masalah utama dalam penilaian kinerja adalah masalah penskorannya. Dikarenakan banyak factor yang mempengaruhi pada hasil penskoran penilaian keterampilan atau penilaian kinerja (performance assessment). Masalah penskoran pada penilaian keterampilan atau penilaian kinerja lebih kompleks daripada penskoran pada bentuk soal uraian.

Popham (1995) menguraikan tiga sumber utama kesalahan penskoran penilaian kinerja, yaitu: Masalah dalam instrument: instrumen pedoman penskoran tidak jelas sehingga sukar digunakan oleh penilai. Selain itu komponen-komponen yang harus dinilainya juga sukar untuk diskor, umumnya karena komponen-komponen tersebut sukar untuk diamati (unobservable). Hal yang demikian tentunya akan mengakibatkan hasil penskoran yang tidak valid, dan tidak akurat (tidak reliabel).
Masalah prosedural: prosedur yang digunakan dalam penilaian keterampilan atau penilaian kinerja tidak baik sehingga juga mempengaruhi hasil penskoran. Masalah yang biasanya terjadi adalah penskor (rater) harus menskor komponen-komponen yang terlalu banyak. Bagi penskor sebenarnya semakin sedikit komponen yang harus dinilai semakin baik, tetapi pembuat pedoman penskoran tetap harus membuat pedoman penskoran yang dapat mewakili semua komponen-komponen penting yang mempengaruhi kualitas hasil akhir. Masalah lain dari prosedur ini adalah umumnya penskor (rater) hanya satu orang, sehingga sukar untuk dapat membandingkan hasil pertimbangan (adjustment) penskoran dengan orang lain.

Masalah penskor yang bias: penskor (rater) cenderung untuk sukar menghilangkan masalah, ”personal bias”. Sewaktu menskor hasil pekerjaan peserta tes ada kemungkinan penskor (rater) mempunyai masalah ”generosity error” artinya penskor cenderung memberi nilai yang tinggi-tinggi, walaupun kenyataan yang sebenarnya hasil pekerjaan peserta tes tidak baik. Kemungkinan juga penskor mempunyai masalah ”severity error” artinya penskor cenderung memberi nilai yang rendah-rendah, walaupun kenyataannya hasil pekerjaan peserta tes tersebut baik. Kemungkinan lain penskor juga cenderung dapat memberi nilai yang sedang-sedang saja, walaupun pada kenyataannya hasil pekerjaan peserta tes ada yang baik dan ada yang tidak baik. Masalah lain adalah adanya kemungkinan penskor tertarik atau simpati pada peserta tes sehingga sukar baginya untuk memberi nilai yang objektif (hallo efect)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Penilaian unjuk kerja adalah penilaian belajar siswa yang meliputi semua penilaian dalam bentuk tulisan, produk atau sikap kecuali bentuk pilihan ganda, menjodohkan, benar-salah, atau jawaban singkat.

Dalam penilaian kinerja, siswa diminta melakukan aktivitas yang menunjukkan keterampilan tertentu dan/atau membuat produk tertentu. Hasilnya, metode penilaian ini membuat kita dapat menangkap banyak hasil pendidikan yang bersifat kompleks dan tidak dapat diterjemahkan dalam ujian tertulis.

B. Saran

Agar semua pendidik lebih memperhatikan bagaimana aturan dalam asesmen kinerja ini, sehingga semua bentuk soal dapat lebih terarah dan mudah dimengerti.

DAFTAR PUSTAKA

Danielson S. A Collection of Performance Task And Rubriks. http://www.assesment.com/Danielson/ 10/4/2006

Needham Heights, MA: Allyn & Bacon, A Simmon & Schuster Company.

Nitco, A.J. & Hsu. T. 1996. Teacher’s Guide to Better Classroom Testing A Judgemental Approach. Jakarta: Madecor Career System and Pusat Pengembangan Agribisnis.

Muhammad Ali Gunawan (2009).  Penilaian Kinerja (Performence Assesment). http://forumpenelitian.blogspot.com/2009/09/performance-assessment.html

Popham, W. James. 1995. Classroom Assessment: What Teacher Need to Know.

Selected Response Assesment

BAB I

PENGAHULUAN

Asesmen dalam pembelajaran adalah suatu proses atau upaya formal pengumpulan informasi yang berkaitan dengan variabel-variabel penting pembelajaran sebagai bahan dalam pengambilan keputusan oleh guru un-tuk memperbaiki proses dan hasil belajar siswa (Herman et al., 1992:95; Po-pham, 1995:3). Variabel-variabel penting yang dimaksud sekurang-kurangya meliputi pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap siswa dalam pembelajaran yang diperoleh guru dengan berbagai metode dan prosedur baik formal maupun informal, sebagaimana dikemukakan oleh Corner (1991:2-3) sebagai berikut.

“A general term enhancing all methods customarily used to appraise performance of an individual pupil or group. It may refer to a broad appraisal including many sources of evidence and many aspect of pupil’s knowledge, understanding, skills and attitudes; An assess-ment instrument may be any method and procedure, formal or in-formal, for producing information about pupil….”

Pengertian asesmen dalam berbagai literatur asing tersebut di atas selaras dengan makna penilaian yang digariskan dalam Buku Pedoman Penilaian pada kurikulum pendidikan dasar. Dalam buku tersebut tertulis bahwa, penilaian adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk memberikan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil belajar yang telah dicapai (Depdikbud, 1994:3). Ada pun yang dimaksud dengan asesmen alternatif (alternative assessment) adalah segala jenis bentuk asesmen diluar asesmen konvensional (selected respon test dan paper-pencil test) yang lebih autentik dan signifikan mengungkap secara langsung proses dan hasil belajar siswa. Herman (1997) memberikan sem-boyan khusus bagi asesmen alternatif dengan ungkapan “What You Get is What You Assess” (WYGWYA). Dalam beberapa literatur, asesmen alternatif ini kadang-kadang disebut juga asesmen autentik (authentic assessment), asesmen portofolio (portfolio assessment) atau asesmen kinerja (performance assessment).

BAB II

PEMBAHASAN

Istilah yang lebih sering digunakan untuk respon terpilih adalah “objective paper and pencil test” atau uji tertulis. Istilah ini dapat menimbulkan kesalahpahaman bahwa penilaian yang dilakukan tidak melibatkan subjektivitas, bahwa segala sesuatu yang terkait dengannya bersifat “ilmiah“, dan bahwa ada resiko terjadinya kebiasaan yang disebabkan oleh pendapat penilai.

Tiga langkah dasar yang harus dilakukan oleh pengembang soal ujian: (i) membuat rancangan atau cetakbiru pengujian yang menyajikan kerangka pencapaian; (ii) mengidentifikasi unsur spesifik pengetahuan dan pemikiran yang akan dinilai; (iii) mengubah unsur-unsur tersebut menjadi soal ujian.

Tujuan utama penggunaan asesmen dalam pembelajaran (classroom assessment) adalah membantu guru dan siswa dalam mengambil keputusan propesional untuk memperbaiki pembelajaran. Menurut Popham (1995:4-13) asesmen bertujuan untuk antara lain untuk:

(1)   mendiagnosa kelebihan dan kelemahan siswa dalam belajar,

(2)   memonitor kemajuan siswa,

(3)   menentukan jenjang kemampuan siswa,

(4)   menentukan efektivitas pembelajaran,

(5)   mempengaruhi persepsi publik tentang efektivitas pembelajaran,

(6)   mengevaluasi kinerja guru kelas,

(7)   mengklarifikasi tujuan pembelajaran yang dirancang guru
Prinsip-prinsip

Guru mempunyai posisi sentral dalam menentukan keberhasilan dan kegagalan kegiatan penilaian. Untuk itu, dalam pelaksanaan penilaianharus memperhatikan prinsip-prinsip berikut:

1)      Valid

PBK harus mengukur obyek yang seharusnya diukur dengan menggunakan jenis alat ukur yang tepat atau sahih (valid). Artinya, ada kesesuaian antara alat ukur dengan fungsi pengukuran dan sasaran pengukuran. Apabila alat ukur tidak memiliki kesahihan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka data yang masuk salah sehingga kesimpulan yang ditarik juga besar kemungkinan menjadi salah.

2)      Mendidik

PBK harus memberikan sumbangan positif pada pencapaian hasil belajar siswa. Oleh karena itu, PBK harus dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai penghargaan untuk memotivasi siswa yang berhasil (positive reinforcement) dan sebagai pemicu semangat untuk meningkatkan hasil belajar bagi yang kurang berhasil (negative reinforcement), sehingga keberhasilan dan kegagalan siswa harus tetap diapresiasi dalam penilaian.

3)      Berorientasi pada kompetensi

PBK harus menilai pencapaian kompetensi siswa yang meliputi seperangkat pengetahuan, sikap, dan ketrampilan/nilai yang terefleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Dengan berpijak pada kompetensi ini, maka ukuran-ukuran keberhasilan pembelajaran akan dapat diketahui secara jelas dan terarah.

4)      Adil dan obyektif

PBK harus mempertimbangkan rasa keadilan dan obyektivitas siswa, tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, latar belakang budaya, dan berbagai hal yang memberikan kontribusi pada pembelajaran. Sebab ketidakadilan dalam penilaian, dapat menyebabkan menurunnya motivasi belajar siswa, karena merasa dianaktirikan.

5)      Terbuka

PBK hendaknya dilakukan secara terbuka bagi berbagai kalangan (stakeholders) baik langsung maupun tidak langsung, sehingga keputusan tentang keberhasilan siswa jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan, tanpa ada rekayasa atau sembunyi-sembunyi yang dapat merugikan semua pihak.

6)      Berkesinambungan

PBK harus dilakukan secara terus-menerus atau berkesinambungan dari waktu ke waktu, untuk mengetahui secara menyeluruh perkembangan siswa, sehingga kegiatan dan unjuk kerja siswa dapat dipantau melalui penilaian.

7)      Menyeluruh

PBK harus dilakukan secara menyeluruh, yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik serta berdasarkan pada strategi dan prosedur penilaian dengan berbagai bukti hasil belajar siswa yang dapat dipertanggungjawabkan kepada semua pihak.

8)      Bermakna

PBK diharapkan mempunyai makna yang signifikan bagi semua pihak. Untuk itu, PBK hendaknya mudah dipahami dan dapat ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Hasil penilaian hendaknya mencerminkan gambaran yang utuh tentang prestasi siswa yang mengandung informasi keunggulan dan kelemahan, minat dan tingkat penguasaan siswa dalam pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan.

Selain harus memenuhi prinsip-prinsip umum penilaian, pelaksanaan PBK juga harus memegang prinsip-prinsip khusus sebagai berikut: Apapun jenis penilaiannya, harus memungkinkan adanya kesempatan yang terbaik bagi siswa untuk menunjukkan apa yang mereka ketahui dan pahami, serta mendemonstrasikan kemampuan yang dimilikinya; Setiap guru harus mampu melaksanakan prosedur PBK dan pencatatan secara tepat prestasi yang dicapai siswa.

Selected Response Assessment, termasuk ke dalamnya pilihan ganda (multiple-choice items), benar-salah (true-false items), menjodohkan atau mencocokkan (matching exercises), dan isian singkat (short answer fill-in items). Respon terpilih dapat digunakan untuk menilai aspek pengetahuan, pemikiran, dan afektif.

1. Pilihan ganda (multiple-choice items)

Dalam Arikunto (2005: 164), tes objektif adalah tes yang dalam pemeiksaannya dapat dilakukan secara objektif. Berikut kebaikan tes objektif:

  1. Mengandung lebih banyak segi-segi yang positif, misalnya lebih representative mewakili isi dan luas bahan
  2. Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya
  3. Pemeriksaan dapat diserahkan orang lain
  4. Dalam pemeriksaan tidak ada unsure subjektif

Kelemahan tes objektif:

  1. Persapan untukn menyusunnya jauh lebih sulit daripada tes essay
  2. Soal-soalnya cendreung mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan kembali saa
  3. Banyak kesempatan untuk main untung-untungan
  4. Kerjasama antar siswa pada waktu mengerjakan soal tes lebih terbuka

Contoh Pilihan ganda (multiple-choice items)

  1. Berapakah sudut kemiringan jalan harus didesain agar mobil dapat melaju di tikungan tanpa tergelincir …
a. d.
b. e.
c.
  1. Berapakah gaya mendatar F yang harus diberikan ke mobil bermassa M, sehingga massa m1 dan m2 yang dihubungkan oleh seutas tali melalui sebuah katrol ringan tetap diam terhadap mobil….
a.
b.
c.

d.

e.

2. Benar-salah (true-false items)

Dalam Arikunto (2005: 165), soal-soalnya berupa pernyataan-pernyataan (statement). Orang yang ditanya bertugas untuk menandai masing-masing pernyataann dengan meligkari huruf B jika pernyataan itu betul menurut pendapatnya dan melingkari jawaban S jika salah.

Kebaikan tes benar-salah:

  1. Dapat mencakup bahan yang luas dan tidak banyak memakan tempat karena biasanya pertanyaaannya singkat
  2. Mudah menyusunnya
  3. Dapat digunakan berkali-kali
  4. Dapat dilihat secara cepat dan objektif
  5. Petunjuk cara mengerjakan mudah dimengerti

Kelemahan tes benar salah:

  1. Sering membingungkan
  2. Mudah ditebak/didugabanyak masalah yang tidak dapat dinyatakan hanya dua kemungkinan benar atau salah
  3. Hanya dapat mengungkap  daya ingat dan pengenalan kembali

Contoh salah satu tes bentuk uraian adalah :

B S : Ibukota Peru berjumlah lima buah.

B S : Manado adalah Ibukota propinsi Sulawesi Utara

3. Menjodohkan atau mencocokkan (matching exercises)

Dalam Arikunto (2005: 172), Matching test dapat diganti dengan istilah mempertandingkan, mencocokkan, memasangkan atau menjodohkan. Dapat terdiri dari satu seri pertanyaan dan satu seri jawaban.

Contoh matching exercises:

4. Isian singkat (short answer fill-in items)

Tes bentuk isian dapat digunakan dalam bentuk paragraf-paragraf yang merupakan rangkaian cerita atau karangan atau berupa satu pernyataan. Beberapa bagian kalimatnya yang merupakan kata-kata penting telah dikosongkan terlebih dahulu. Tugas peserta tes adalah mengisi bagian-bagian yang kosong dengan jawaban yang sesuai.

Salah satu contoh tes isian adalah sebagai berikut :

  1. Yang merupakan nama asli dari Sultan Hamengkubuwono X adalah …..
  2. Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan ada beda pendapat. Aliran ……………….. beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio: kebenaran pasti berasal dari rasio (akal). Aliran ……………, sebaliknya, meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang inderawi. Lalu muncul aliran ……………. yang mencoba memadukan kedua pendapat berbeda itu.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Istilah yang lebih sering digunakan untuk respon terpilih adalah “objective paper and pencil test” atau uji tertulis. Istilah ini dapat menimbulkan kesalahpahaman bahwa penilaian yang dilakukan tidak melibatkan subjektivitas, bahwa segala sesuatu yang terkait dengannya bersifat “ilmiah“, dan bahwa ada resiko terjadinya kebiasaan yang disebabkan oleh pendapat penilai.

Selected Response Assessment, termasuk ke dalamnya pilihan ganda (multiple-choice items), benar-salah (true-false items), menjodohkan atau mencocokkan (matching exercises), dan isian singkat (short answer fill-in items). Respon terpilih dapat digunakan untuk menilai aspek pengetahuan, pemikiran, dan afektif.

B. Saran

Agar semua pendidik lebih memperhatikan bagaimana aturan dalam asesmen SR ini, sehingga semua bentuk soal dapat lebih terarah dan mudah dimengerti.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. (2005). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Erlangga.

Djunaidi Lababa (—-). Tes Prestasi Hasil Belajar. http://evaluasipendidikan.blogspot.com/2008/03/tes-prestasi-hasil-belajar.html

Edi Hendri Mulyana. Asesmen dalam Pembelajaran Sains SD. http://re-searchengines.com/0405edi.html

Standar Penilaian IPA

BAB I

PENDAHULUAN

Agar penilaian terhadap pembelajaran IPA di kelas dapat dilaksanakan dengan baik, setiap pihak yang peduli terhadap kualitas sekolah dan siswa di negeri ini harus berjuang bersama-sama untuk mengembangkan kemampuan menilai (assessment literacy).  Kemampuan menilai adalah kuncinya.

Orang yang mampu melakukan penilaian (assessment literates) adalah mereka yang memahami prinsip dasar penilaian. Pemahaman akan makna penilaian yang baik saja tidaklah cukup. Kita juga harus memahami bagaimana penilaian menghubungkan kualitas pembelajaran dengan upaya untuk mempertahankan alternatif penilaian yang seimbang. Kita harus patuh dan berupaya memenuhi standard yang ditetapkan, dan saling membantu jika penilaian yang dilakukan gagal memenuhi standard ini.

Dalam sistem pendidikan di masa yang akan datang, pengujian terstandar (standardized testing) dan penilaian kelas (classroom assessment) akan tetap ada. Kita harus dapat menghargai perbedaan antara kedua jenis penilaian tersebut dan mampu menjamin kualitas kedua penilaian yang dilakukan.

Pada masa yang akan datang, kedua penilaian ini akan terus digunakan, baik sebagai penyedia informasi untuk pembuatan keputusan maupun sebagai media pengajaran. Kita harus memahami perbedaan antara kedua penggunaannya agar dapat memanfaatkan kekuatan kedua jenis penilaian ini semaksimal mungkin untuk meningkatkan pembelajaran.

Pada masa yang akan datang, penilaian tertulis dan kinerja akan tetap ada. Masing-masing memiliki aturan yang berbeda untuk memperoleh hasil yang baik. Orang yang mampu melakukan penilaian dengan baik memahami makna kualitas penilaian secara menyeluruh dan memahami bahwa kita tidak pernah dibenarkan untuk melakukan penilaian yang tidak baik. Kemampuan melakukan penilaian adalah tujuan utama dalam penilaian kelas.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Proses asesmen sebagai Perangkat Komunikasi yang Efektif dalam System Pendidikan IPA

Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan  pencapaian hasil belajar peserta didik. Berdasarkan pada PP. Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:

  1. Penilaian hasil belajar oleh pendidik;
  2. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan;
  3. Penilaian hasil belajar oleh Pemerintah.

Nuryani Y. Rustaman (—-) menyatakan bahwa istilah penilaian biasanya berhubungan dengan pencapaian siswa atas standar yang ditentukan oleh kurikulum, sedangkan istilah evaluasi dapat diterapkan untuk menyatakan penilaian pada bidang lain.

Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian hasil belajar peserta didik dilaksanakan berdasarkan standar penilaian pendidikan yang berlaku secara nasional.

Proses penilaian merupakan perangkat afektif untuk menyampaikan apa yang diharapkan oleh sistem pendidikan IPA kepada semua pihak yang peduli terhadap pendidikan IPA. Kebijakan dan pelaksanaan penilaian menyediakan definisi operasional mengenai hal-hal yang dianggap penting. Contohnya, penggunaan extended inquiry menyatakan apa saja yang harus dipelajari siswa, apa saja yang harus diajarkan oleh guru, dan di mana saja sumber belajar harus dialokasikan.

B. Standar-standar Asesmen

Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Penilaian dapat berupa ulangan dan atau ujian.

Gambar 1. Standar Asesmen dalam Pembelajaran IPA

(Sumber: Wahono Widodo)

C. Pergeseran Penekanan Asesmen dalam Pendidikan IPA

Berdasarkan National Science Education Standard in the United States (National Research Council, 1996: 100) perubahan fokus yang terjadi pada standard penilaian adalah sebagai berikut.

Hal yang dikurangi Hal yang diutamakan
Menilai yang mudah diukur Menilai yang paling berharga
Menilai pengetahuan yang memiliki ciri yang jelas Menilai pengetahuan yang kaya dan berstruktur baik
Menilai pengetahuan yang bersifat ilmiah Menilai pemahaman dan pemikiran ilmiah
Menilai untuk mempelajari apa yang tidak dipahami siswa Menilai untuk mempelajari apa yang dipahami siswa
Hanya melakukan penilaian atas pencapaian Menilai pencapaian dan peluang untuk belajar
Penilaian akhir dilakukan oleh guru Siswa terlibat dalam penilaian yang sedang berlangsung  atas hasil kerjanya dan hasil kerja temannya
Pengembangan penilaian eksternal hanya oleh ahli Guru terlibat dalam pengembangan penilaian eksternal

(Sumber: Nuryani Y. Rustaman)

D. Pembelajaran Sains untuk Jangka Panjang

Dalam Nuryani Y. Rustaman (—-), Penilaian terhadap Hasil Pembelajaran:

  1. Sasaran yang terarah terutama terhadap: pemikiran, pemahaman atas materi IPA dan penerapannya; kebiasaan berpikir yang produktif (berpikir kritis, berpikir kreatif, mengatur diri sendiri); karaketristik IPA
  2. kemampuan berpikir tinggi (higher order thinking skills,HOTS)
  3. karakteristik IPA

Berikut ini adalah pengelompokan utama sasaran pencapaian menurut Stiggins (1994:67):

1. Penguasaan siswa atas pengetahuan materi subjek inti;
Kemampuan siswa untuk menggunakan pengetahuannya untuk berpikir dan menyelesaikan masalah;
Kemampuan untuk menunjukkan keterampilan yang terkait dengan pencapaian tertentu, misalnya melakukan tindakan psikomotor;
Kemampuan untuk membuat produk yang terkait dengan jenis pencapaian tertentu, misalnya produk IPA (taksidermi, kerangka, herbarium);
Pencapaian perasaan atau keadaan afektif tertentu, seperti sikap, minat, dan motivasi.

2.   Penilaian yang Terarah pada Proses Pembelajaran IPA

a) Penilaian kinerja dan/atau penilaian otentik;
b) Proses IPA diturunkan dari data;
c) Kooperatif dan kolaboratif;
d) Hands-on dan minds-on;
e) Keterampilan praktik dan komunikasi;
f) Sikap ilmiah dan nilai yang terkandung dalam IPA.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Nuryani Y. Rustaman (—-) menyatakan bahwa istilah penilaian biasanya berhubungan dengan pencapaian siswa atas standar yang ditentukan oleh kurikulum, sedangkan istilah evaluasi dapat diterapkan untuk menyatakan penilaian pada bidang lain.

Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian hasil belajar peserta didik dilaksanakan berdasarkan standar penilaian pendidikan yang berlaku secara nasional.

Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Penilaian dapat berupa ulangan dan atau ujian.

B. Saran

Hendaknya setiap para pendidik proses assessment khususnya alam pendidikan IPA. Sehingga diharapkan akan memberikan dampak positif terhadap kualitas pendidikan nantinya.

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Pembinan SMA (2009). Standar Penilaian Permen No. 20 Tahun 2007. http://pendidikansains.blogspot.com/2009/02/standar-penilaian-permen-no-20-th-2007.html. Di akses 4 April 2010

Nurayani Y. Rustman, (—-). Trend Penilaian Pembelajaran IPA Masa Depan. http://www.p4tkipa.org/jurnal/index.html?poppy_k__devi2.htm. Di akses 20 Maret 2010

Wahono Widodo (2009). Standar Penilaian dalam Pendidikan IPA. http://vahonov.files.wordpress.com/2009/07/sistem-penjaminan-mutu-pengajaran-ipa-wahono_.pdf. Di akses 4 April 2010

Literacy Science

BAB I

PENDAHULUAN

Hakikat pembelajaran Sains (Puskur, 2003) adalah pembelajaran yang mampu merangsang kemampuan berfikir siswa meliputi empat unsur utama (1) sikap: rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar; IPA bersifat open ended; (2) proses: prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode ilmiah meliputi penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen atau percobaan, evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan; (3) produk: berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum; (4) aplikasi: penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari. Dalam proses pembelajaran IPA keterlibatan keempat unsur ini, diharapkan dapat membentuk peserta didik memiliki kemampuan pemecahan masalah dengan metode ilmiah, dan meniru cara ilmuwan bekerja dalam menemukan fakta baru

Namun pembelajaran sains yang selama ini terjadi di sekolah belum mengembangkan kecakapan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Padahal pengajaran sains dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah pengajaran yang mengajarkan siswa bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana berfikir, dan bagaimana memotivasi diri mereka (Nur, 2005). Pengajaran sains merupakan proses aktif yang berlandaskan konsep konstruktivisme yang berarti bahwa sifat pengajaran sains adalah pengajaran yang berpusat pada siswa (student centered instruction).

Untuk menilai apakah IPA diimplementasikan di Indonesia, kita dapat melihat hasil literasi IPA anak-anak Indonesia. Hal ini mengingat arti literasi sains/IPA (scientific literacy) itu sendiri yang ditandai dengan kerja ilmiah, dan tiga dimensi besar literasi sains yang ditetapkan oleh PISA, yaitu konten IPA, proses IPA, dan konteks IPA.

Berikut akan dibahas lebih lanjut tentang Literacy Science, dimana tulisan ini bertujuan untuk menambah pengetahuan kita bersama dan untuk melengkapi tugas mata kuliah evaluasi pembelajaran fisika.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. Pengertian Literacy Science

Secara harfiah literasi berasal dari “Literacy” (dari bahasa inggris) yang berarti melek huruf atau gerakan pemberantasan buta huruf. Kata sains berasal dari “Science” (dari bahasa inggris) yang berarti ilmu pengetahuan. Salah satu indikator keberhasilan siswa menguasai berpikir logis, berpikir kreatif,  dan teknologi dapat dilihat dari penguasaan Literasi Sains siswa dari Program PISA. PISA (Programme for International Student Assesment) mendefinisikan literasi sains sebagai kemampuan menggunakan pengetahuan sains, mengidentifikasi permasalahan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti, dalam rangka mengerti serta membuat keputusan tentang alam dan perubahan yang terjadi pada alam sebagai akibat manusia (Witte, 2003). Literasi sains atau scientific literacy didefinisikan PISA sebagai kapasitas untuk menggunakan pengetahuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan dan untuk menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti agar dapat memahami dan membantu membuat keputusan tentang dunia alami dan interaksi manusia dengan alam. Literasi sains dianggap  suatu  hasil belajar  kunci  dalam pendidikan pada usia 15 tahun bagi semua siswa, apakah meneruskan mempelajari sains atau tidak setelah itu. Berpikir ilmiah merupakan tuntutan warganegara, bukan hanya ilmuwan. Keinklusifan literasi sains  sebagai  suatu  kompetensi  umum  bagi  kehidupan merefleksikan kecenderungan yang berkembang pada pertanyaan-pertanyaan ilmiah dan teknologis. Definisi yang digunakan dalam PISA tidak termasuk bahwa orang-orang dewasa masa yang akan datang akan memerlukan cadangan pengetahuan ilmiah  yang banyak. Yang penting adalah siswa dapat berpikir secara ilmiah tentang bukti yang akan mereka hadapi.

  1. B. Dimensi Literasi Sains
    1. Content Literasi Sains

Dalam  dimensi  konsep  ilmiah  (scientific  concepts)  siswa  perlu  menangkap  sejumlah konsep kunci/esensial untuk dapat memahami fenomena alam tertentu dan perubahan-perubahan  yang  terjadi  akibat  kegiatan  manusia.  Hal  ini  merupakan  gagasan  besar pemersatu   yang   membantu   menjelaskan   aspek-aspek   lingkungan   fisik. PISA mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mempersatukan konsep-konsep fisika, kimia, biologi, serta ilmu pengetahuan bumi dan antariksa (IPBA).

  1. Process Literasi Sains

PISA (Programme for International Student Assessment) mengases kemampuan untuk menggunakan  pengetahuan  dan  pemahaman  ilmiah,  seperti  kemampuan  siswa  untuk mencari,  menafsirkan  dan  memperlakukan  bukti-bukti.  PISA  menguji  lima  proses semacam  itu,  yakni:  mengenali  pertanyaan  ilmiah  (i),  mengidentifikasi  bukti  (ii), menarik  kesimpulan (iii), mengkomu-nikasikan  kesimpulan (iv), dan menunjukkan pemahaman konsep ilmiah (v).

  1. Context Literasi sains

Konteks literasi sains dalam PISA (Programme for International Student Assessment) lebih pada kehidupan sehari-hari daripada kelas atau laboratorium.  Sebagaimana dengan bentuk-bentuk literasi lainnya, konteks melibatkan isu-isu yang penting dalam kehidupan secara umum seperti juga terhadap kepedulian pribadi.   Pertanyaan-pertanyaan dalam PISA 2000 dikelompokkan  menjadi tiga area tempat  sains diterapkan, yaitu: kehidupan dan kesehatan  (i),  bumi  dan  lingkungan  (ii),  serta teknologi (iii).

PISA menetapkan tiga dimensi besar literasi sains dalam pengukurannya, yakni proses sains,  konten  sains,  dan  konteks  aplikasi  sains. Proses sains  merujuk  pada  proses mental  yang  terlibat  ketika  menjawab  suatu  pertanyaan  atau  memecahkan  masalah, seperti  mengi-denifikasi  dan  menginterpretasi  bukti  serta  menerangkan  kesimpulan. Termasuk di dalamnya mengenal jenis pertanyaan yang dapat dan tidak dapat dijawab oleh sains, mengenal bukti apa yang diperlukan dalam suatu penyelidikan sains, serta mengenal kesimpulan yang sesuai dengan bukti yang ada.

Konten  sains  merujuk  pada  konsep-konsep  kunci  yang  diperlukan  untuk  memahami fenomena  alam  dan  perubahan  yang  dilakukan  terhadap  alam  melalui  akitivitas manusia. Dalam kaitan ini PISA tidak secara khusus membatasi cakupan konten sains hanya  pada  pengetahuan  yang  menjadi  materi  kurikulum  sains  sekolah, namun termasuk pula pengetahuan yang dapat diperoleh melalui sumber-sumber  lain.

Konsep-konsep tersebut diambil dari bidang-bidang studi biologi, fisika, kimia, serta ilmu  pengetahuan  bumi  dan  antariksa,  yang  terkait  pada  tema-tema  utama  berikut: struktur dan sifat materi, perubahan atmosfer, perubahan fisis dan  perubahan  kimia, transformasi energi, gerak dan gaya, bentuk dan fungsi, biologi manusia, perubahan fisiologis, keragaman mahluk hidup, pengendalian genetik, ekosistem,  bumi  dan kedudukannya di alam semesta serta perubahan geologis.

C. Perkembangan Literasi (reading-, mathematical-, scientific- literacy) pada PISA 2000-2003-2006

Pada tahun 2000, Indonesia ikut-serta dalam penelitian PISA (Programme for International Student Assessment), suatu studi internasional yang diikuti oleh 42 negara di bawah koordinasi Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) yang diharapkan akan menjadi survey yang bersifat reguler dan berkesinambungan.

Hasil studi PISA berupa informasi tentang profil pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi siswa di Indonesia di antara bangsa-bangsa di dunia dapat dimanfaatkan sebagai bandingan dalam perumusan kebijakan dalam peningkatan mutu pendidikan dasar kita, khususnya dalam menentukan ambang batas bawah (tresh-hold) dan batas ambang ideal (benchmark) kemampuan dasar membaca, matematika, dan sains di akhir usia wajib belajar. Selain itu, dari studi PISA ini dapat diperoleh sekumpulan indikator kontekstual tentang demografi siswa, sekolah, dan variabel lainnya yang mempengaruhi pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi siswa.

PISA bertujuan meneliti secara berkala tentang kemampuan siswa usia 15 tahun dalam membaca (reading literacy), matematika (mathematics literacy), dan sains (scientific literacy). Penelitian yang dilakukan PISA meliputi tiga periode, yaitu tahun 2000, 2003, dan 2006. Pada tahun 2000 penelitian PISA difokuskan kepada kemampuan membaca, sementara dua aspek lainnya menjadi pendamping. Pada tahun 2003 aspek matematika akan menjadi fokus utama kemudian diteruskan aspek sains pada tahun 2006. Melalui program tiga tahunan ini diharapkan kita dapat memperoleh informasi berkesinambungan tentang prestasi belajar siswa sebagai upaya untuk mengetahui tingkat kualitas pendidikan dasar Indonesia di dalam lingkup internasional.

Data yang dikumpulkan dalam PISA terdiri atas tiga kelompok besar, yaitu kelompok pengetahuan, latar belakang siswa, dan latar belakang sekolah. Data yang diperoleh dari kelompok pengetahuan adalah data kemampuan aspek membaca, matematika, dan sains sebagaimana terdapat di dalam kurikulum sekolah (curriculum focused) serta bersifat lintas-kurikulum (cross-curricular elements).

Aspek membaca bertujuan untuk untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami bacaan (understanding), menggunakan (using) dan mengidentifikasi (identifying) informasi yang ada di dalam bacaan, dan merefleksi serta mengevaluasi bacaan (reflecting on written text).

Aspek matematika bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengidentifikasi, memahami, dan menggunakan dasar-dasar matematika yang diperlukan siswa dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.

Aspek sains bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengidentifikasi masalah dalam rangka memahami fakta-fakta alam dan lingkungan serta menggunakan pengetahuannya untuk memahami berbagai fenomena alam dan perubahan yang terjadi pada lingkungan kehidupan.

Sementara itu, untuk mendukung data dari ketiga aspek tersebut, PISA juga menggali informasi tentang latar belakang siswa, yaitu demografi siswa, latar belakang status sosial dan ekonomi, harapan dan keinginan siswa di masa yang akan datang, serta motivasi dan disiplin siswa. Data kemudian dilengkapi dengan latar belakang sekolah untuk menggali informasi tentang aspek demografi sekolah, organisasi sekolah, keadaan guru dan karyawannya (staffing patterns) serta prasarana pembelajaran (instructional practices) dan iklim pembelajaran.

Pelaksanaan studi PISA dilakukan oleh suatu konsorsium internasional yang diketuai oleh Australian Council for Educational Research (ACER) dan terdiri atas lembaga testing yang terkenal di dunia yaitu The Netherlands National Institute for Educational Measurement (CITO) Belanda, Educational Testing Service (ETS) Amerika Serikat, Westat Amerika Serikat, dan National Institute for Educational Research (NIER) Jepang. PISA diikuti oleh 42 negara, mulai dari negara maju seperti Amerika Serikat, Australia, Kanada, Inggris, Jerman, Perancis, Spanyol, Swedia, dan Swiss, sampai pada negara berkembang seperti Brasil, China, Cile, Meksiko, dan Indonesia.

D. Komponen dan Aspek-aspek dalam Literasi Sains

Proses sains merujuk pada proses mental yang terlibat ketika menjawab suatu pertanyaan atau memecahkan masalah, seperti mengidentifikasi dan menginterpretasi bukti serta menerangkan kesimpulan (Rustaman et al., 2004). PISA (2000) menetapkan lima komponen proses sains dalam penilaian literasi sains, yaitu:

  1. Mengenal pertanyaan ilmiah, yaitu pertanyaan yang dapat diselidiki secara ilmiah, seperti mengidentifikasi pertanyaan yang dapat dijawab oleh sains.
  2. Mengidentifikasi bukti yang diperlukan dalam penyelidikan ilmiah. Proses ini melibatkan identifikasi atau pengajuan bukti yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan dalam suatu penyelidikan sains, atau prosedur yang diperlukan untuk memperoleh bukti itu.
  3. Menarik dan mengevaluasi kesimpulan. Proses ini melibatkan kemampuan menghubungkan kesimpulan dengan bukti yang mendasari atau seharusnya mendasari kesimpulan itu.
  4. Mengkomunikasikan kesimpulan yang valid, yakni mengungkapkan secara tepat kesimpulan yang dapat ditarik dari bukti yang tersedia.
  5. Mendemonstrasikan pemahaman terhadap konsep-konsep sains, yakni kemampuan menggunakan konsep-konsep dalam situasi yang berbeda dari apa yang telah dipelajarinya.

Dari hasil akhir proses sains ini, siswa diharapkan dapat menggunakan konsep-konsep sains dalam konteks yang berbeda dari yang telah dipelajarinya. PISA memandang pendidikan sains untuk mempersiapkan warganegara masa depan, yang mampu berpartisipasi dalam masyarakat yang akan semakin terpengaruh oleh kemajuan sains dan teknologi, perlu mengembangkan kemampuan anak untuk memahami hakekat sains, prosedur sains, serta kekuatan dan keterbatasan sains. Termasuk di dalamnya kemampuan untuk menggunakan pengetahuan sains, kemampuan untuk memperoleh pemahaman sains dan kemampuan untuk menginterpretasikan dan mematuhi fakta.  Alasan ini  yang menyebabkan PISA tahun 2003  menetapkan 3 komponen proses sains berikut ini dalam penilaian literasi sains.

  1. Mendiskripsikan, menjelaskan, memprediksi gejala sains.
  2. Memahami penyelidikan sains
  3. Menginterpretasikan bukti dan kesimpulan sains.

E. Karakteristik dan Contoh Soal scientific literacy (Literasi Sains)

Kemampuan Dasar yang Diukur

Kemampuan yang diukur dalam PISA adalah kemampuan pengetahuan dan keterampilan dalam tiga domain kognitif, yaitu membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan alam. Untuk memperoleh data yang dimaksud, disusun dua kategori bentuk soal, yaitu bentuk soal pilihan ganda yang memungkinkan siswa memilih salah satu jawaban yang paling benar dari beberapa alternatif jawaban yang diberikan (sebanyak 44.7% dari keseluruhan soal) dan bentuk soal uraian (constructed response) yang menuntut siswa untuk dapat menjawab dalam bentuk tulisan atau uraian (sisanya atau 55.3%).

Kemampuan yang diukur itu berjenjang dari tingkat kesulitan yang paling rendah kepada tingkat yang lebih sulit. Soal-soal yang harus dijawab pada bentuk pilihan ganda dimulai dari memilih salah satu jawaban alternatif yang sederhana, seperti menjawab ya/tidak, sampai kepada jawaban alternatif yang agak kompleks, seperti merespons beberapa pilihan yang disajikan. Pada soal-soal yang memerlukan jawaban uraian, siswa diminta untuk menjawab dengan jawaban yang singkat dalam bentuk kata atau frase, kemudian jawaban agak panjang dalam bentuk uraian yang dibatasi jumlah kalimatnya, dan jawaban dalam bentuk uraian yang terbuka.

Sampel dan Variabel

Sebanyak 290 sekolah di Indonesia telah dijadikan sampel untuk studi ini, dengan jumlah siswa dalam sampel ini sebanyak 7.355 siswa dari keseluruhan siswa yang berusia 15 tahun dan berada dalam sistem pendidikan. Sekolah tersebut dipilih berdasarkan status sekolah dan jenis sekolah, yang mencakup SLTP (38%), MTs (27.6%), SMU (15.9%), MA (8.5%), dan SMK (9.7%).

Data yang dikumpulkan dalam PISA ini terdiri atas tiga kategori data, yaitu literasi siswa, latar belakang siswa, dan latar belakang sekolah. Aspek literasi adalah aspek utama dari data yang dikumpulkan yang terdiri atas pengetahuan dan keterampilan dalam membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan alam.

Desain Tes Literasi Membaca

Soal-soal PISA yang didesain untuk mengukur literasi membaca dapat dibagi menjadi tiga aspek utama, yaitu aspek struktur dan jenis wacana, aspek proses membaca, dan aspek konteks pemanfaatan pengetahuan dan keterampilan membaca.

Struktur dan Jenis Wacana

Struktur dan jenis wacana di dalam PISA dibagi menjadi dua jenis yaitu struktur wacana berkelanjutan (continuous texts) dan wacana tak-berkelanjutan (non-continuous texts). Seperti telah dijelaskan di atas, wacana berkelanjutan adalah jenis wacana yang terdiri atas rangkaian kalimat yang diatur dalam paragraf dalam bentuk deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi atau injungsi; sementara wacana tak-berkelanjutan adalah wacana yang dirancang dalam format matrik, termasuk di dalamnya pengumuman, grafik, gambar, peta, skema, tabel, dan aneka bentuk penyampaian informasi.

Sementara jenis soal PISA juga mengukur tiga proses membaca, yaitu kemampuan mencari dan menemukan informasi, kemampuan mengembangkan makna dan menafsirkan isi bacaan, dan kemampuan melakukan refleksi dan evaluasi terhadap isi bacaan dalam kaitannya dengan pengalaman sehari-hari, pengetahuan yang sudah didapat sebelumnya, dan pengembangan gagasan dari informasi yang diperolehnya

Soal-soal itu berhubungan dengan konteks membaca yang mencakup konteks membaca untuk kepentingan pribadi, untuk kepentingan umum, untuk kepentingan bekerja, dan untuk kepentingan pendidikan.

Aspek struktur, proses, dan konteks membaca ini selanjutnya diwujudkan dalam serangkaian wacana yang berjumlah 48 wacana. Sebanyak 141 soal kemudian dikembangkan berdasarkan wacana tersebut. Tabel di bawah ini menunjukkan distribusi soal berdasarkan kerangka kerja di atas, sementara Tabel berikutnya menggambarkan peta soal untuk literasi membaca.

Tabel Distribusi Soal Literasi Membaca

Aspek Soal Jumlah Soal
Total PG PGK IT IB JS
Struktur Wacana 1. Berkelanjutan 89 42 3 3 34 7
2. Tak-berkelanjutan 52 14 4 12 9 13
Total 141 56 7 15 43 20
Bentuk Wacana 1. Deskripsi 13 7 1 4 1
2. Narasi 18 8 8 2
3. Eksposisi 31 17 1 9 4
4. Argumentasi/Persuasi 18 7 1 2 8
5. Injungsi 9 3 1 5
6. Pengumuman/iklan 4 1 3
7. Grafik dan gambar (charts) 16 8 2 3 3

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Secara harfiah literasi berasal dari “Literacy” (dari bahasa inggris) yang berarti melek huruf atau gerakan pemberantasan buta huruf. Kata sains berasal dari “Science” (dari bahasa inggris) yang berarti ilmu pengetahuan. Salah satu indikator keberhasilan siswa menguasai berpikir logis, berpikir kreatif,  dan teknologi dapat dilihat dari penguasaan Literasi Sains siswa dari Program PISA.

PISA (2000) menetapkan lima komponen proses sains dalam penilaian literasi sains, yaitu: 1) Mengenal pertanyaan ilmiah, 2) Mengidentifikasi bukti yang diperlukan dalam penyelidikan ilmiah, 3) Menarik dan mengevaluasi kesimpulan, 4) Mengkomunikasikan kesimpulan yang valid, yakni mengungkapkan secara tepat kesimpulan yang dapat ditarik dari bukti yang tersedia, 5) Mendemonstrasikan pemahaman terhadap konsep-konsep sains.

B. Saran

Agar semua pihak lebih memperhatikan masalah pendidikan, terutama pemerintah dan semua tenaga pengajar karena terlihat dari hasil PISA 2006 yang terakhir, Indonesia masih jauh ketinggalan dari negara lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

I Made Alit Mariana dan Wandy Praginda (2009). Hakikat IPA dan Pendidikan IPA. http://www.p4tkipa.org/data/hakekatipa.pdf. Di akses 27 Maret 2010

Suhendra Yusuf (2008). Analisis Tes PISA. http://www.uninus.ac.id/data/data_ilmiah/Suhendra%20Yusuf%20-%20Makalah%20untuk%20Jurnal%20Uninus.pdf. Di akses 27 Maret 2010

Hafis Muaddab (2010). Problem Dasar Pembelajaran Sains. http://hafismuaddab.wordpress.com/category/guru-dan-kurikulum/. Di akses 27 Maret 2010

LAMPIRAN

Tugas: Informasi lebih lanjut tentang fokus literasi sains pada PISA 2006

Literasi Sains Hasil PISA 2006

Literasi matematika dan sains adalah aspek pendidikan yang penting untuk memahami lingkungan, kesehatan, ekonomi dan masalah-masalah lainnya yang dihadapi oleh masyarakat modern yang hidup di alam ilmu pengetahuan dan teknologi. Hampir dapat dipastikan, kemampuan matematika dan sains oleh para siswa mungkin akan memberikan implikasi bagi negara dan bangsa dalam pengembangan teknologi dan untuk meningkatkan daya saing internasional pada umumnya. Sebaliknya, kekurangan siswa-siswa di sekolah dalam literasi matematika dan sains akan berakibat buruk bagi masa depan mereka menghadapi persaingan hidup di masyarakat.

Tingkat Kemampuan Sains

Hasil survey memperlihatkan bahwa siswa-siswa dari Korea, Jepang, Hong Kong-China, Finlandia, dan Inggris menduduki lima besar dengan skor rata-rata masing-masing 552, 550, 541, 538, dan 532. Siswa-siswa lainnya yang berada sama atau di atas skor rata-rata 500 sebagai patokan skor internasional adalah siswa dari negara-negara Kanada, New Zealand, Australia, Austria, Irlandia, Swedia, Ceko, Prancis, dan Norwegia. Sementara itu, siswa dari Amerika Serikat, Jerman, Rusia, Denmark, dan Spanyol berada di bawah skor internasional.

Siswa-siswa Indonesia bersama-sama dengan Peru, Brasil, Albania, dan Argentina berada pada kelompok lima terbawah dengan Macedonia berada satu poin di atas skor 400. Dari 41 negara peserta PISA itu, siswa Indonesia menduduki peringkat ke-38 dengan skor 393, di bawah Thailand (peringkat ke-32 dengan skor 436), tetapi di atas Peru (333), Brasil (375), dan Albania (376).

Pada tingkat kemampuan ini, siswa Indonesia pada umumnya dinilai hanya akan mampu mengingat fakta, istilah, dan hukum-hukum ilmiah serta menggunakannya dalam menarik kesimpuulan ilmiah yang sederhana.

Skor rata-rata 657 dicapai oleh lima persen siswa terbaik dari negara-negara OECD, dengan skor tertinggi diraih oleh siswa Jepang (688) dan Inggris (687) dan skor terendah diperoleh oleh Peru (481).

Pada persentil ke-90 – atau 10 persen siswa terbaik dapat meraih skor 627 dan 25 persen dari pada siswa itu memperoleh skor rata-rata 572. Seterusnya, pada persentil ke-25 para siswa mendapat skor rata-rata 431, lebih dari 90 persen siswa mencapai skor 368 dan lebih dari 95 persen memperoleh skor 332. Hong Kong-China adalah satu-satunya negara non-OECD yang melampaui skor rata-rata OECD tersebut dengan skor 671, 645, 488, 426 dan 391 maisng-masing untuk persentil ke-95, 90, 25, 10, dan ke-5.

Dilihat dari data tersebut, siswa Indonesia belum mampu bersaing bahkan untuk sesama negara di Asia apalagi dibandingkan dengan siswa dari negara OECD. Skor rata-rata siswa Indonesia adalah 393. Pada persentil ke-95 ini, siswa dari Indonesia berada sedikit di atas Peru (481) dengan skor 519, dan di bawah Brasil (531) dan Albania (531). Kemudian berturut-turut pada persentil ke-75, 25, 10, dan 5, siswa kita mendapatkan skor 443, 343, 300, dan 274.

Dibandingkan dengan pesaing terdekatnya, Peru dan Brasil, siswa Indonesia memperoleh skor sedikit lebih tinggi daripada siswa-siswa negara Amerika Latin tersebut, masing-masing 393, 273, 221, dan 187 (Peru) dan 432, 315, 262, dan 230 (Brasil). Sementara dibandingkan dengan Thailand, siswa Indonesia terpaut jauh, masing-masing 485, 386, 343, dan 315. Skor ini tentu jauh berada di bawah rata-rata siswa negara OECD, masing-masing 572, 431, 368, dan 332.

Variasi skor rata-rata untuk setiap negara cukup besar – dari skor rata-rata siswa di Korea (552) dan skor rata-rata siswa di Peru (333). Demikian pula, variasi kemampuan siswa yang ada di dalam satu negara, juga terlihat malah sangat mencolok, misalnya siswa di Jepang memperoleh skor tertinggi 688, terendah 391, dan skor rata-rata 550, atau siswa Korea yang memperoleh skor tertinggi 674, terendah 411, dan skor rata-rata 552, sedangkan siswa di Peru mendapatkan skor tertinggi 481, terendah 187, dan skor rata-rata 333. Siswa Indonesia sendiri bervariasi dari skor tertinggi 519, skor terendah 274, dan skor rata-rata 393.

Seperti juga pada literasi matematika, temuan variasi antarsiswa yang sangat lebar ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan di beberapa negara itu sangat beragam sehingga menghasilkan siswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang juga beragam – dari siswa yang menghadapi kesulitan bahkan dalam menggunakan konsep dasar sains di Peru, Brasil, Albania, dan Indonesia, sampai kepada siswa yang berprestasi sangat baik dalam bidang sains di Korea, Jepang, Hong Kong-China, Finlandia, dan Inggris.

Pola Distribusi Literasi Sains

Secara keseluruhan, pola literasi sains ini serupa dengan pola literasi matematika, yang juga menunjukkan korelasi yang sangat tinggi (0.85) di antara dua kemampuan dasar ini bagi siswa-siswa dari negara OECD.

Skor batas-bawah (treshhold) 627 dapat dicapai oleh para siswa dari 16 negara OECD – termasuk Hong Kong-China yang bukan negara OECD dengan skor 645, dan dua negara dari kategori GNP menengah, yaitu Republik Cekoslovakia (632) dan Hungaria (629).

Pada distribusi bagian bawah, tiga perempat siswa dari 12 negara peserta PISA2000 – terdiri atas 10 negara non-OECD termasuk di dalamnya 10 negara dengan GNP menengah dan rendah – mencapai level kemampuan yang setara dengan kemampuan yang didapat oleh 95 persen siswa dari tiga negara yang paling berprestasi.

Indonesia dan Thailand menunjukkan distribusi skor yang sangat kecil seperti yang ditunjukkan oleh rentangan interquartile. Distribusi ini serupa dan konsisten dengan temuan distribusi untuk membaca dan matematika. Rentangan interquartile sebesar 99 dan 100 seperti ditunjukkan oleh Indonesia dan Thailand itu jauh lebih kecil dibandingkan rentangan rata-rata (141) untuk negara-negara OECD, dengan rentangan yang paling besar (177) ditunjukkan oleh Israel (simpangan baku 125), yang juga konsisten dengan data dari literasi matematika.

Distribusi yang paling luas ditemukan di Israel dengan rentangan 407 poin yang memisahkan dua titik persentil ini. Dari sepuluh negara dengan distribusi kemampuan yang paling luas dalam literasi sains, lima di antaranya juga menunjukkan distribusi yang paling luas dalam literasi matematika, yaitu Argentina, Belgia, Jerman, Israel dan Federasi Rusia.

Perbandingan Literasi Sains dan Membaca

Kebanyakan siswa dari negara-negara OECD memperoleh skor literasi sains dan membaca yang relatif sama. Berikut ini adalah perbandingan kedua kemampuan:

Siswa-siswa yang mempertunjukkan kemampuan lebih baik dalam literasi sains dibandingkan dengan literasi membaca adalah siswa dari negara-negara Austria (507, 519), Bulgaria (430, 448), Cile (410, 415), Republik Cekoslovakia (492, 511), Hungaria (480, 496), Jepang (522, 550), Korea (525, 552), FYR Macedonia (373, 401) dan Inggris (523, 532). Siswa Indonesia berada dalam kelompok ini (367, 393)

Siswa-siswa yang memperlihatkan literasi membaca lebih baik daripada literasi sains adalah siswa dari negara-negara Argentina (418, 396), Belgia (507, 496), Kanada (534, 529), Denmark (497, 481), Finlandia (546, 538), Islandia (507, 496), Irlandia (527, 513), Israel (452, 434) dan Italia (487, 478).

Perbandingan Literasi Sains, Matematika, dan Membaca

Siswa dari beberapa negara secara meyakinkan berada di atas skor rata-rata negara-negara OECD dalam ketiga kemampuan dasar: membaca, matematika, dan sains, yaitu siswa dari Australia, Austria, Kanada, Finlandia, Jepang, Korea, New Zealand, Swedia, Inggris, dan satu-satunya negara non-OECD, Hong Kong-China.

Literasi membaca siswa Indonesia (371) lebih baik sedikit dibandingkan dengan literasi matematika (367), tetapi literasi sains yang paling baik (393). Pola yang sama juga terjadi pada siswa dari Peru (327, 292, 333) dan Polandia (479, 470, 483).

Sementara itu, siswa Albania menunjukkan kecenderungan literasi matematikanya lebih tinggi dari pada literasi sains dengan literasi membaca yang paling rendah (349, 381,376), mirip dengan pola siswa Jepang (522, 557, 550) dan Hong Kong-China (525, 560, 541).

Sedangkan siswa Brasil lebih menguasai literasi membaca dibandingkan dengan literasi sains, dengan literasi matematika yang paling rendah (396, 334, 375), sama seperti pola siswa dari Amerika Serikat (504, 493, 499) dan Yunani (474, 447, 461).

Siswa dari Thailand cenderung lebih baik literasi sains daripada literasi matematik, dengan literasi membaca yang paling rendah (431, 432, 436), serupa dengan pola siswa dari Korea (525, 547, 552) dan Austria (507, 515, 519).

Siswa dari Kanada adalah satu-satunya pola yang menunjukkan literasi membacanya yang lebih tinggi daripada literasi matematika, dengan literasi sains yang paling rendah (543, 533, 529).

Kalau pada negara-negara OECD variasi dalam rata-rata kemampuan siswa itu tergolong kecil untuk literasi sains dan lebih kecil lagi dalam literasi membaca, tidak halnya dengan siswa peserta dari negara non-OECD. Pada negara-negara ini, rentangan perbedaan yang jauh di antara siswa yang memperoleh skor tertinggi dengan skor terendah justru terdapat dalam literasi membaca dan literasi sains.

Kendati untuk negara-negara tersebut, termasuk untuk Indonesia, diperlukan penelitian lebih lanjut tentang penyebab terjadinya variasi skor yang terlalu jauh itu, boleh jadi proses pembelajaran matematika dan sains lebih berhubungan erat dengan materi yang diajarkan di sekolah dan tidak berhubungan dengan kemampuannya membaca. Oleh karena itu, kemungkinan besar, perbedaan sistem pendidikan dalam mengajarkan matematika dan sains inilah yang lebih berperan daripada pengaruh kemampuan membaca para siswa negara-negara berkembang ini.

Assesment Literacy

BAB I

PENDAHULUAN

Agar penilaian terhadap pembelajaran IPA di kelas dapat dilaksanakan dengan baik, setiap pihak yang peduli terhadap kualitas sekolah dan siswa di negeri ini harus berjuang bersama-sama untuk mengembangkan kemampuan menilai (assessment literacy).  Kemampuan menilai adalah kuncinya.

Orang yang mampu melakukan penilaian (assessment literates) adalah mereka yang memahami prinsip dasar penilaian. Pemahaman akan makna penilaian yang baik saja tidaklah cukup. Kita juga harus memahami bagaimana penilaian menghubungkan kualitas pembelajaran dengan upaya untuk mempertahankan alternatif penilaian yang seimbang. Kita harus patuh dan berupaya memenuhi standard yang ditetapkan, dan saling membantu jika penilaian yang dilakukan gagal memenuhi standard ini.

Dalam sistem pendidikan di masa yang akan datang, pengujian terstandar (standardized testing) dan penilaian kelas (classroom assessment) akan tetap ada. Kita harus dapat menghargai perbedaan antara kedua jenis penilaian tersebut dan mampu menjamin kualitas kedua penilaian yang dilakukan.

Pada masa yang akan datang, kedua penilaian ini akan terus digunakan, baik sebagai penyedia informasi untuk pembuatan keputusan maupun sebagai media pengajaran. Kita harus memahami perbedaan antara kedua penggunaannya agar dapat memanfaatkan kekuatan kedua jenis penilaian ini semaksimal mungkin untuk meningkatkan pembelajaran.

Pada masa yang akan datang, penilaian tertulis dan kinerja akan tetap ada. Masing-masing memiliki aturan yang berbeda untuk memperoleh hasil yang baik. Orang yang mampu melakukan penilaian dengan baik memahami makna kualitas penilaian secara menyeluruh dan memahami bahwa kita tidak pernah dibenarkan untuk melakukan penilaian yang tidak baik. Kemampuan melakukan penilaian adalah tujuan utama dalam penilaian kelas.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Prinsip-prinsip Asesmen yang Baik

Nuryani (1995) menyatakan 7 prinsip assessment yang baik, yaitu:

  1. Pemikiran yang jelas dan komunikasi efektif

Meskipun tingkat pencapaian sering kali diterjemahkan menjadi skor, ada dua fakta penting yang perlu dipahami. Pertama, angka bukanlah satu-satunya cara untuk menyatakan pencapaian. Kita dapat memanfaatkan kata-kata, gambar, ilustrasi, contoh, dan berbagai cara lainnya. Kedua, simbol untuk menyatakan pencapaian siswa sama bermaknanya dan sama bergunanya dengan definisi pencapaian dan kualitas penilaian yang digunakan untuk menghasilkannya.

  1. Guru yang memegang peranan

Guru berperan mengarahkan penilaian untuk menentukan apa yang harus dipelajari oleh siswa dan apa yang siswa rasakan berkaitan dengan penilaian yang dilakukan. Dalam berbagai konteks pendidikan, hasil penilaian tingkat kotamadya/kabupaten, provinsi, nasional seolah-olah dianggap sebagai satu-satunya hasil penilaian yang menentukan. Penilaian ini bahkan tidak dapat disamakan dengan dengan penilaian kelas yang dilakukan oleh guru, berkaitan dengan dampaknya terhadap keadaan siswa. Gurulah yang menentukan bagaimana bentuk interaksi yang dilakukan dengan siswanya, rata-rata sebanyak satu kali setiap dua atau tiga menit (mengajukan pertanyaan dan menginterpretasikan jawaban, mengamati kinerja siswa, memeriksa pekerjaan rumah, menggunakan tes dan kuis). Umumnya, penilaian dalam kelas berlangsung secara terus menerus.

Dengan demikian, jelas bahwa penilaian kelas adalah penilaian yang paling mudah dilakukan oleh guru. Tidak perlu diragukan lagi, guru adalah pengendali sistem penilaian yang menentukan keefektifan sekolah.

  1. Siswa sebagai pengguna yang harus diperhatikan

Siswa adalah pihak yang paling memanfaatkan hasil penilaian. Melalui penilaian kelas, mereka dapat mempelajari kinerjanya serta mempelajari standar kualitas kinerjanya dari guru. Tidak seorang pun, selain siswa, yang dapat memanfaatkan menggunakan hasil penilaian kelas yang dilakukan oleh guru untuk menetapkan apa yang dapat mereka harapkan dari diri mereka sendiri. Siswa dapat memperkirakan peluang keberhasilannya berdasarkan kinerja yang ditunjukkan oleh hasil penilaian sebelumnya. Tidak ada satu keputusan lain yang dapat memberikan pengaruh lebih besar pada keberhasilan siswa.

  1. Sasaran yang jelas dan sesuai

Kita tidak dapat menilai hasil pendidikan secara efektif jika kita tidak mengetahui dan memahami apa sebenarnya nilai keluaran tersebut. Ada berbagai jenis keluaran dari sistem pendidikan kita, mulai dari penguasaan materi sampai kemampuan menyelesaikan masalah yang kompleks.

  1. Penilaian yang baik

Penilaian yang baik merupakan suatu keharusan dalam setiap konteks penilaian. Lima standard yang harus dipenuhi untuk mencapai penilaian yang baik meliputi: sasaran pencapaian yang jelas, maksud/tujuan yang jelas,  metode yang sesuai, kinerja contoh yang layak, pembatasan, dan adanya upaya untuk mencegah kesalahan pengukuran.

  1. Perhatian terhadap dampak antarpersonal

Kita harus selalu berusaha melaksanakan penilaian yang baik, mengkomunikasikan hasilnya secara hati-hati dan pribadi, dan mengantisipasi hasilnya sehingga dapat mempersiapkan diri untuk memberikan dukungan terhadap siswa yang pencapaiannya rendah. Semakin muda siswa, semakin penting adanya bimbingan bagi mereka.

  1. Penilaian sebagai pembelajaran

Penilaian dan pengajaran dapat menjadi suatu kesatuan. Potensi terbesar yang tersimpan dalam penilaian kelas adalah kemampuannya untuk menjadikan siswa sebagai mitra penuh dalam proses penilaian. Siswa yang mampu mendalami sasaran pencapaian secara menyeluruh mampu secara percaya diri melakukan evaluasi, baik terhadap hasil kerjanya sendiri maupun hasil kerja temannya.

Tantangan yang kita hadapi dalam penilaian kelas adalah memastikan bahwa siswa memiliki seluruh informasi yang diperlukannya, dalam bentuk yang mudah dipahami, pada waktu yang tepat sehingga dapat digunakan secara efektif.

B. Perubahan Asesmen dan Konsekuensinya

Peranan Dulu Sekarang
Guru Mengajar Mendefinisikan hasil pembelajaran, mengajar, melaksanakan penilaian utama
Siswa Dinilai Menilai diri sendiri dan teman
Kepala Sekolah Menginterpretasi hasil ujian terstandard Menginterpretasi hasil ujian dan menyediakan dukungan terhadap penilaian kelas
Pelaksanaan Dulu Sekarang
Tujuan Akuntabilitas Akuntabilitas, pembelajaran
Penggunaan Penyaringan hasil pengujian dari atas ke bawah Penyaringan hasil pengujian dari atas ke bawah dan dari kelas ke atas
Sasaran Bersifat umum

Tidak terbuka

Sangat terarah

Bersifat terbuka

Metode Terutama berupa respon terpilih Terutama berupa penilaian kinerja dan essay dengan beberapa respon terpilih

C. Peran Kritis Asesmen Kelas

Penilaian terhadap Hasil Pembelajaran

  1. Sasaran yang terarah terutama terhadap: pemikiran, pemahaman atas materi IPA dan penerapannya; kebiasaan berpikir yang produktif (berpikir kritis, berpikir kreatif, mengatur diri sendiri); karaketristik IPA
  2. kemampuan berpikir tinggi (higher order thinking skills,HOTS)
  3. karakteristik IPA

Berikut ini adalah pengelompokan utama sasaran pencapaian menurut Stiggins (1994:67):

1. Penguasaan siswa atas pengetahuan materi subjek inti;
Kemampuan siswa untuk menggunakan pengetahuannya untuk berpikir dan menyelesaikan masalah;
Kemampuan untuk menunjukkan keterampilan yang terkait dengan pencapaian tertentu, misalnya melakukan tindakan psikomotor;
Kemampuan untuk membuat produk yang terkait dengan jenis pencapaian tertentu, misalnya produk IPA (taksidermi, kerangka, herbarium);
Pencapaian perasaan atau keadaan afektif tertentu, seperti sikap, minat, dan motivasi.

2.   Penilaian yang Terarah pada Proses Pembelajaran IPA

a) Penilaian kinerja dan/atau penilaian otentik;
b) Proses IPA diturunkan dari data;
c) Kooperatif dan kolaboratif;
d) Hands-on dan minds-on;
e) Keterampilan praktik dan komunikasi;
f) Sikap ilmiah dan nilai yang terkandung dalam IPA.

3.    Metode Penilaian Kelas

a.    Respon terpilih

Istilah yang lebih sering digunakan untuk respon terpilih adalah “objective paper and pencil test” atau uji tertulis. Istilah ini dapat menimbulkan kesalahpahaman bahwa penilaian yang dilakukan tidak melibatkan subjektivitas, bahwa segala sesuatu yang terkait dengannya bersifat “ilmiah“, dan bahwa ada resiko terjadinya kebiasan yang disebabkan oleh pendapat penilai. Respon terpilih dapat digunakan untuk menilai aspek pengetahuan, pemikiran, dan . afektif. Jenis respon terpilih dapat berupa: pilihan berganda, benar/salah, menjodohkan, dan isian singkat.

Tiga langkah dasar yang harus dilakukan oleh pengembang soal ujian: (i) membuat rancangan atau cetakbiru pengujian yang menyajikan kerangka pencapaian; (ii) mengidentifikasi unsur spesifik pengetahuan dan pemikiran yang akan dinilai; (iii) mengubah unsur-unsur tersebut menjadi soal ujian.

b.   Penilaian Essay

Penilaian essay merupakan metodologi yang paling sesuai pada keadaan tertentu. Essay membuat kita dapat menangkap setidaknya sebagian unsur yang paling berharga. Lebih jauh lagi, sejak siswa dilibatkan sebagai mitra pada proses penilaian, metode penilaian seperti essay ini lebih mudah dilaksanakan. Metode essay dapat digunakan untuk menilai pengetahuan, pemikiran, prosedur, dan afektif.

Menurut Stiggins (1994: 134) metodologi penilaian essay memiliki tiga kekuatan utama:

a)      Essay dapat memudahkan kita mempelajari pencapaian siswa atas sasaran pencapaian yang kompleks dan sulit.
b)      Format essay memudahkan kita melakukan penilaiaan hasil belajar dengan waktu dan tenaga yang minimal.
c)      Penilaian essay dapat dipadukan dengan proses pembelajaran secara produktif.

Penilaian essay juga memiliki resiko. Kecerobohan dapat menyebabkan hal-hal berikut.

a)      Kurangnya gambaran atas jenis hasil belajar yang akan dipelajari dan dinilai;
b)      Kegagalan untuk menghubungkan format essay dengan sasaran pencapaian yang sesuai;
c)      Kegagalan untuk menentukan sampel yang mewakili domain sasaran;
d)     Kegagalan untuk mengendalikan sumber kebiasaan yang dapat mengganggu penilaian yang   subjektif.

c.   Penilaian Kinerja atau Penilaian Otentik

Dalam penilaian kinerja,  siswa diminta melakukan aktivitas yang menunjukkan keterampilan tertentu dan/atau membuat produk tertentu. Hasilnya, metode penilaian ini membuat kita dapat menangkap banyak hasil pendidikan yang bersifat kompleks dan tidak dapat diterjemahkan dalam ujian tertulis.

Dalam penilaian kinerja, kita mengamati siswa saat mereka bekerja, atau memeriksa produk yang dibuat, dan menilai kecakapan yang ditunjukkan. Pengamatan digunakan untuk memberikan pendapat subjektif atas tingkat pencapaian siswa. Evaluasi tersebut dilakukan berdasarkan perbandingan kinerja siswa terhadap standar yang telah ditentukan.

Metode penilaian kinerja muncul sebagai penemuan baru dengan sejumlah kelebihan dibandingkan tes tertulis. Dalam banyak hal, penemuan baru ini menarik perhatian pendidik di setiap tingkatan pendidikan. Aplikasi metode ini antara lain menggunakan nama penilaian otentik (authentic assessments), penilaian alternatif (alternative assessments), pameran, demonstrasi, dan contoh kerja siswa (student work samples). Jenis penilaian ini dipandang sebagai metode yang dapat memberikan penilaian otentik atau penilaian yang sangat tepat atas pencapaian siswa (Wiggins, 1989 in Stiggins, 1994: 161).

4.    Penilaian Kelompok, Pribadi, dan Antar Teman

Penilaian kelompok, pribadi, dan antar teman  dapat digunakan terutama untuk penilaian formatif, tapi pada keadaan tertentu dapat pula digunakan sebagai penilaian sumatif,  meski tidak efektif.

a)      Penilaian Kelompok

Kelebihan utama dari penilaian kelompok adalah bahwa beban penilaian menjadi jauh berkurang. Ada pula keuntungan dari sisi pendidikan, termasuk di dalamnya pengembangan sejumlah keterampilan penting seperti keterampilan memimpin dan bekerja dalam kelompok, keterampilan berkomunikasi, dan kemampuan berorganisasi. Selain itu, hasil yang dicapai dengan bekerja secara berkelompok akan lebih baik, bahkan masalah yang lebih rumit pun dapat diselesaikan.

Masalah utama yang dihadapi adalah memastikan bahwa strategi penilaian yang adil telah diterapkan: “satu masalah yang terpenting adalah sulitnya menetapkan tingkat kontribusi masing-masing anggota kelompok …” (Race, Brown, Smith, 2005:156)

Tidak ada cara yang paling ideal untuk menyelesaikan masalah ini, tapi ada berbagai strategi yang dapat dicoba. Salah satunya, setiap anggota kelompok diberi nilai yang sama. Strategi lainnya, setiap anggota kelompok diberi nilai yang berbeda-beda sesuai kinerja masing-masing. Hal ini dapat dilakukan melalui penilaian antar teman (peer assessment).

b)      Penilaian Pribadi dan Antar teman

Penilaian pribadi dan antar teman merupakan bentuk penilaian inovatif yang mendukung pembelajaran siswa. Penilaian pribadi adalah proses di mana siswa dilibatkan dan bertanggung jawab untuk menilai hasil kerjanya sendiri. Hal ini mendorong siswa untuk mandiri dan meningkatkan motivasinya. Penilaian antar teman adalah proses di mana siswa dilibatkan dalam penilaian kerja siswa lain. Siswa harus memiliki pemahaman yang jelas mengenai apa yang harus mereka cari dalam hasil kerja temannya.

Penilaian pribadi dapat digunakan untuk membantu mengembangkan kemampuan siswa untuk memeriksa dan berpikir kritis mengenai proses pembelajaran yang mereka jalani,  Penilaian pribadi dapat membantu siswa menentukan kriteria apa yang harus digunakan untuk menilai hasil kerja dan menerapkan hal ini secara objektif terhadap hasil kerja untuk memfasilitasi proses pembelajaran yang sedang berlangsung.  Penilaian pribadi dapat disertakan sebagai bagian penilaian mata pelajaran atau sebagai sebuah latihan yang dipersyaratkan dalam mata pelajaran tersebut.

Penilaian antar teman dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan siswa untuk bekerjasama, bersikap kritis terhadap hasil kerja siswa lain, dan menerima kritik dan umpan balik dari siswa lain atas hasil kerjanya sendiri. Penilaian antar teman dapat memberikan gambaran kepada siswa mengenai kriteria apa saja yang digunakan untuk menilai. Penilaian antar teman juga dapat digunakan untuk menentukan nilai hasil kerja siswa untuk keperluan sumatif.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Agar penilaian terhadap pembelajaran IPA di kelas dapat dilaksanakan dengan baik, setiap pihak yang peduli terhadap kualitas sekolah dan siswa di negeri ini harus berjuang bersama-sama untuk mengembangkan kemampuan menilai (assessment literacy). Kemampuan menilai adalah kuncinya.

Nuryani (1995) menyatakan 7 prinsip assessment yang baik, yaitu: Pemikiran yang jelas dan komunikasi efektif, Guru yang memegang peranan, Siswa sebagai pengguna yang harus diperhatikan, Sasaran yang jelas dan sesuai, Penilaian yang baik, Perhatian terhadap dampak antarpersonal, Penilaian sebagai pembelajaran.

B. Saran

Hendaknya setiap para pendidik menerapkan 7 prinsip asesmen yang baik dalam proses pembelajaran. Sehingga diharapkan akan memberikan dampak positif terhadap kualitas pendidikan nantinya.

DAFTAR PUSTAKA

Nurayani Y. Rustman, (—-). Trend Penilaian Pembelajaran IPA Masa Depan. http://www.p4tkipa.org/jurnal/index.html?poppy_k__devi2.htm. Di akses 20 Maret 2010

Wulan, A.R. (2007). Pembekalan Kemampuan Performance Assessment Kepada Calon Guru Biologi dalam Menilai Kemampuan Inquiry. Disertasi Doktor kependidikan, Program studi Pendidikan IPA. Sekolah pascasarjana Universitas pendidikan Indonesia.

Zainul, A. (2001). Mengajar di Perguruan Tinggi. ”Alternative Assessment”. Jakarta: Pusat Antar Universitas untuk Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.